Malfo memantau gerak gerik sang kakek yang tampak mencurigakan. Sati tampak kelelahan, dia menggenggam tangan Malfo erat-erat.
Takut dengan keadaan Sati, Malfo menyelipkan sisik ular Kali ke dalam pakaiannya. Sisik Kali mampu memperkecil dampak kerusakan yang diberikan dari serangan ajian maupun mantra.
Hal ini dibuktikan dari pertarungan sengit di hutan, Malfo sadar ketika sisik itu diselipkan ke kain area perut. Dia tidak merasakan rasa sakit yang hebat setelah menerima pukulan ketiga dari kakek.
“Apakah kau menemukan sesuatu di sana kakek peot?” ujar Malfo seraya mengamati sekelilingnya serta menyisipkan sisik ular ke pakaian Sati yang tengah tertidur.
“Iblis bajingan! Aku tidak menemukan apapun, melihat gubuk reot pun tidak sama sekali,” saut kakek dengan memasukan sesuatu kedalam pakaiannya.
Pencarian gubuk terus berlanjut, malam semakin larut. Kabut tebal mulai turun, suhu sekitar mulai dingin justru mempersulit pencarian. Kakek dan Malfo memutuskan untuk memperluas area pencarian dengan menyisir wilayah secara berpencar.
Di tengah pencarian Malfo mulai kelelahan, menggendong Sati di punggungnya. Tak berselang lama kakek berteriak dengan kencang, memberikan tanda dengan mantra cahayanya.
“Hai jaran edan! Aku sudah menemukannya, kemarilah ikuti kunang-kunang dari mantra yang aku buat!” teriak kakek dari kejauhan.
“Mantra? Kau maksud kunang-kunang yang kau tangkap tadi malam? Jangan bercanda, Kek. Aku tidak sebodoh itu," saut Malfo dengan melihat sekitar mencari petunjuk kunang-kunang, wajahnya tampak diselimuti oleh amarah.
Malfo menggendong Sati seraya mencari kunang-kunang, petunjuk menuju gubuk yang telah kakek temukan. Seekor kunang-kunang mendekati wajah Malfo, dan ia terkesima oleh makhluk mungil yang terbang dengan cahaya kuning berkilau.
Pertama kali dalam hidupnya Malfo melihat binatang yang bernama kunang-kunang. Dengan rasa penasaran dia menadahkan tangannya untuk melihat serangga itu dari dekat. Ia menggoyangkan punggungnya perlahan, membangunkan Sati yang terlelap.
“Sati, bangunlah lihatlah hewan mungil ini! Lucu dia bisa mengeluarkan cahaya,” ujar Malfo dengan rasa penuh kekaguman.
Percakapan Malfo tak direspon oleh Sati. Dia hanyut dalam mimpinya, bahkan air liur yang keluar dari mulut menjadi bukti tidur pulasnya.
Kunang-kunang di tangan Malfo kembali terbang, dan ia segera bergegas mengikuti cahaya yang dipancarkannya. Menyusuri ilalang yang menjulang tinggi.
Malfo berlari dengan menggendong Sati, mengikuti arah cahaya serangga itu mengarah. Pandangan Malfo hanya tertuju pada kunang-kunang itu berada.
Serangga itu kini terbang semakin cepat, jarak pun kian jauh. Lokasi yang cukup jauh dan terpencil untuk sebuah gubuk di tengah ilalang yang sangat tinggi menjulang.
Hosh... Hosh… Hosh….
Suara napas berat yang terdengar keras dari balik rimbunnya ilalang yang menjuntai tinggi. Hembusan angin malam membuat suasana saat itu semakin tegang, Malfo kehilangan jejak dari serangga petunjuk.
Dia melihat sekitarnya, berharap serangga itu muncul kembali. Pikiran Malfo saat ini dipenuhi dengan kondisi dan prasangka buruk, dia segera bersiap untuk bertarung.
Angin yang berhembus malam hari menambah suasana tegang saat itu. Dia berjalan perlahan dengan melihat sekitarnya.