Makna Hakikat

Fahmi Irwan Utomo
Chapter #9

Bisikan Lelana

Matanya menyipit sembari menatap mereka dengan tatapan lapar yang tidak biasa. Api unggun di belakangnya seolah-olah hanyalah alat untuk menyempurnakan pesta makanan yang akan dilakukan. Melihat kuda yang begitu gemuk dia sangat senang walaupun dia jarang melihat kuda berwarna merah.

"Wah, sepertinya aku dapat jatah malam yang istimewa!" kata sosok itu, bibirnya melengkung membentuk seringai lebar. 

Aku menemukan kuda anomali dengan berpakain unik, tapi ini sepertinya hewan ini tidak beracun. Gumam sosok pria bertudung dengan menyentuh perut Malfo.

Gedebuuuggg…

“Etittssss, suara apa itu?” sosok pria itu melihat lebih dekat serta mencari tahu apa yang jatuh.

GROOOK… GROOOK….

Suara ngorok Sati yang terdengar begitu keras, dia terlepas dari ikatan punggung Malfo. Malfo tidak sadarkan diri karena dia terbentur dengan batu besar ketika diseret.

Huaaam…. 

Sati menguap, tanda ia telah terbangun dari tidurnya yang nyenyak. Menggosok kedua matanya dengan tangannya, perlahan kesadaran Sati kembali pulih. 

Sek.. kesek.. sek.. kesek.. sek.. kesek.. sek.. kesek..

Ia menatap sekeliling. Malfo terbaring terikat di sampingnya. Sementara di dekat api unggun yang membara, seorang pria duduk tengah mengasah pisau.

“TOLOOOONNGGG KAKEKKK!!” teriak Sati setelah tersadar dari tidurnya yang lelap.

“Huuuuuuusssttt…Berisik bocah kecilll,“ ujar pria itu dengan nada rendah, matanya tetap tertuju pada pisau yang diasahnya.

Pria berjubah tersebut mendekati Sati secara perlahan, berusaha membuktikan bahwa dia adalah bukan ancaman atau sosok penjahat yang akan membunuhnya. Dia pun membawa makanan kepada Sati.

“Tenang gadis kecil, aku bukan penjahat yang akan memburu manusia sepertimu. Aku hanyalah lelana yang sedang mencari makanan,” kata pria tersebut dengan membawa sepotong daging yang telah dibakar matang dengan bau yang lezat. 

Wajahnya yang samar karena gelapnya malam hari, kini mulai terlihat jelas dengan cahaya api unggun. Pria tampan dengan luka di wajahnya. Memiliki jenggot serta alis yang cukup tebal.

“Tunggu… Mas Bejo itu kamu? kenapa temanku diikat?” suaranya nyaris pecah, dengan mata berair penuh harapan.

“Sati? Kenapa kamu disini? Kuda itu temanmu atau peliharaanmu?” Pria itu terkejut. 

Matanya terbelalak, pandangan tajam menatap Sati. Seolah tak percaya dengan yang baru saja ia lihat.

“Dia penyintas yang dikirim oleh dewa langit, aku bertemu dengannya di mata air dengan lambang dewa yang melingkar. Dia menolongku dari sergapan Kali sang ular dengan membunuhnya,” jawab Sati dengan perasaan penuh kekhawatiran. 

“Haaa? Apa? Dia penyintas utusan Dewa Langit? Apakah kakekmu sudah tahu tentang itu semua?” Bejo bangkit dari duduknya, pisau di tangannya terjatuh. 

“Sudah, aku sudah menceritakan semua hal kepada kakek tentang dia. Apakah ada yang salah dengan itu mas Bejo? Lalu kenapa mas, sekarang memutuskan untuk menjadi seorang lelana?” jawab Sati dengan santai.

Lihat selengkapnya