Makna Hakikat

Fahmi Irwan Utomo
Chapter #11

Arca Penanda 2

Wooooosshhhhh…

Malfo melesat sekencang mungkin, ilalang di sepanjang jalannya roboh tertiup derap kakinya. Sesampainya di lokasi pertarungan. 

Dak, dig, dug, dak, dig, dug….

Ia menyaksikan pemandangan kelam yang akan terus membekas di ingatannya. Darah berceceran dimana-mana, ilalang yang menjuntai tinggi kini berwarna merah. Dia menjumpai beberapa simbol ajian di tanah.

Simbol itu tampak tak asing bagi Malfo, namun kakinya terus melangkah. Dalam hatinya berharap Bejo dapat memenangkan pertarungan. Melihat sekelilingnya dengan berteriak kencang. 

“Bejo kau ada dimana?” teriak Malfo dengan melangkah perlahan.

Tak jauh dari lokasi ditemukan senjata celurit milik Bejo yang bersimbah darah. Gelisah melihat itu, Malfo berlari seperti kehilangan akal. 

Pada satu titik tak jauh dari lokasi pertarungan, tubuhnya terdiam membeku. Langkahnya berhenti. Jantungnya berdebar kencang.

DUG, DUG, BRR, DUG, DUG, BRR

Kepala Malfo perlahan mendongak ke atas, matanya melotot ketakutan. Tanpa ia sadari tangannya mengepal serta menggertakkan gigi, meragukan kenyataan dihadapannya. 

Dia duduk bersimpuh, lemas tak berdaya. Sekelilingnya terdapat genangan darah. 

Tes, tes, tes, tes

Bejo ditemukan tidak bernyawa dengan kaki dan tangan terpaku layaknya orang-orangan sawah, namun ada satu hal yang membuat tragis. Dia ditemukan tanpa kepala, sekujur tubuhnya penuh dengan bekas cakar pertarungan. 

Ughh, hurk.

Perut hingga dadanya terbelah hati dan usus telah hilang. Perut Malfo mual dan ia terus menjeluak. Tanpa sadar mulut Malfo mengucapkan dengan lantang.

“Huaaaaaaaa…..” teriak Malfo, air matanya menetes membasahi pipi.

Dalam hatinya terselip perasaan marah dan ambisi balas dendam. Malfo berniat mencari mahkluk itu serta asal muasal makhluk itu berasal. 

Seketika dia ingat dengan Sati dan kakek yang berada di gubuk, dia khawatir dengan keadaan mereka. Matahari bergerak di atas kepala, jasad terpasung tanpa kepala menjadi bukti jejak pertarungan Bejo. Malfo berlari namun pikirannya masih tertuju kepada Bejo.

Whuuushhh…. tik, tik, tik, tik, tik

Lihat selengkapnya