“Aku ikut! Melindungi Sati sampai ke dusun adalah janjiku!” saut Malfo dengan penuh tekad.
Mendengar jawaban malfo Sati tampak senang dan gembira. Kakek melihat kelakuan Sati hanya bisa tersenyum lebar.
“Baiklah! Diamlah sejenak, mantra ini akan membantu menghilangkan noda di pakaianmu. Walaupun hasilnya mungkin kurang bersih dibanding dengan mencuci dengan tanganmu. Bentuk balas budiku karena kau menjaga cucuku,” ujar kakek dengan senyum lebar.
Wung, wung, wung, wung, wung
Kakek membacakan mantra dengan lirih, perlahan noda darah pada pakaian Malfo menghilang. Melihat keajaiban itu Malfo tampak takjub pada mantra.
Setelah itu mereka memutuskan untuk melanjutkan perjalan menuju Dusun Lwir Surya Mabra. Awal perjalanan yang penuh rintangan akan menjadi kenangan yang tak terlupakan bagi Malfo.
Melewati hamparan padang ilalang, serta pepohonan yang rindang. Sepanjang perjalanan menuju dusun mereka melihat tanaman dengan bunga yang indah.
Beberapa kali Malfo menoleh kebelakang mengingat kembali gubuk tua, serta kenangan bersama Bejo yang kini semakin jauh dari jarak pandangnya. Matahari kian tinggi, menembus celah dedaunan menyinari jalan setapak.
Tak terasa, mereka telah melewati padang ilalang. Jarak mereka semakin dekat dengan dusun ditandai dengan dupa dan persembahan dibawah pohon besar. Asap dupa membumbung tebal layaknya kabut dari pegunungan.
Tampak dari kejauhan, sebuah gapura berdiri kokoh. Gapura yang tersusun dari batu bata berwarna coklat kemerahan.
Di atas gapura terdapat batu bata yang tersusun membentuk piramida. Beberapa batu dituliskan dengan aksara kuno bertuliskan Lwir Surya Mabra.
Persembahan berupa makanan, minuman serta dupa terletak di ambang pintu gapura. Malfo tampak kagum dengan gapura tersebut yang begitu kokoh dan megah.
Langkah Malfo sempat terhenti sejenak, dia melihat gapura yang tampak sangat familier. Menganga kagum, dengan pipinya yang dipenuhi sisa makanan.
Sekilas dia teringat kembali, peristiwa sebelum dia diturunkan ke dunia daratan. Malfo menatap kembali gapura itu, tanpa sadar dia melamun. Sati dan kakek berjalan di depan, sementara Malfo diam di belakang menatap gapura dusun.
“Malfo ayoo! Kenapa kau diam disana?” teriak Sati, melihat Malfo yang berperilaku aneh
“Eh… hahahaha… Aku hanya kagum dengan bagunan ini!” saut Malfo, tersipu malu dengan mengusap tengkuknya. Matanya masih tak lepas dari bagunan gapura yang begitu megah dan mewah.
“Wajar Sati di dunia iblis, tidak ada gapura seperti itu! Dia berasal dari dunia bawah jadi mana mungkin iblis melihat gapura, ya kan kuda iblis?” suara keras kakek meledek Malfo, sembari memiringkan kepalanya sedikit senyum sinis terpampang di wajahnya.
“Dasar kakek peot! Mulai berulah lagi, Sati sebaiknya kau menjauh darinya! Di dunia langit kakek tua merupakan orang yang paling menakutkan,” balas Malfo dengan rasa marah.
“Cuiiih… dasar iblis tak beretika, aku peringatan satu hal. Jangan pernah sentuh gapura itu, dan jangan makan sate yang ada di depan gapura! Itu sesembahan yang disebut sesajen untuk para leluhur dusun ini,” ucap kakek dengan wajah serius menatap Malfo.
Dengan diam menatap kakek, mulut Malfo terisi penuh dengan kue. Sesekali dia mengunyah kue itu perlahan.
Tanpa sadar tangannya menyentuh bagunan gapura megah itu. Semua peringatan kakek telah dilanggar oleh Malfo.
“Wahahaha… sepertinya kau hanya menakutiku kan kakek peot?” ujar Malfo