Malaikat Pelacur

Yehuda Oessoe
Chapter #1

Prolog: Perjaka Sembrono

Lidah enggan menjulur malam ini. Anginnya lebih pekat dari kelam derita, dan bulannya lebih masam dari air mata lampau. Malam itu menyisakan seorang pria yang sedang berdiri di stasiun pada pukul 2:59 subuh. Pria itu hanya mengenakan kaos hitam berlengan panjang dan celana jeans berwarna coklat, ia hanya ditemani dengan sebatang rokok yang nyaris habis sembari menanti kereta. Tubuh pria itu tinggi dan mata coklat kelamnya mondar-mandir arah. “Harusnya semenit lagi sampai sih.”

Gumamnya sambil mengambil hisapan terakhir pada batang rokoknya, lalu melemparnya ke sembarang arah. Saat ini waktu menunjukkan tepat pukul 3:00. Pelan-pelan ia mengamati sebuah kereta yang mendekati stasiunnya. Saat kereta itu mencapai stasiun tersebut, pintunya terbuka secara otomatis dan dia pun memasukinya. Tidak ada penumpang lain yang berada di dalam. Ia duduk di sebuah bangku kosong dekat jendela kereta. Begitu pria itu duduk, kereta tersebut melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan stasiun. Selama perjalanan, terbesit sebuah percakapan yang terjadi dua tahun lalu.

“Arsen, kamu tahu stasiun yang dekat kampus ini?” Tanya Farel dengan pelan. Arsen menutup bukunya sejenak, “Tahu kak, kenapa?”

Farel mendekati Arsen dan bergumam, “Coba tunggu di stasiunnya sampai jam tiga subuh, bakal ada kereta yang mampir.”

Mendengar hal tersebut membuat alis tebalnya berkerut, “Ada ya kereta lewat di waktu itu kak Farel? Setahuku jam 1 itu waktu kereta terakhir lewat” Arsen dibuat heran sekaligus penasaran oleh pernyataan dari seniornya.

“Intinya pas kereta itu berhenti dari perjalanan, kamu bakal lihat semacam rumah kecil. Sebelum masuk ke dalam ketuk dulu pintunya dan permisi ke orang di dalam buat masuk.” Ujar Farel

Arsen menelan ludahnya dengan berat, “Apa? kenapa tiba-tiba bahas dukun kak?” Suara Arsen sedikit naik. “Karena itu rumah dukun Arsen, siapa tahu kamu punya keinginan yang mau dikabulkan…” Farel menghentikan ucapannya sejenak, lalu tatapannya kepada Arsen berubah lebih intens.

“Iya kah Arsen?” Arsen yang mendengar perkataan itu pun termenung.

“Kak Farel.”

“Ya, Arsen?”

“Banyak yang tahu soal kereta jam 3 subuh di stasiun itu?” Mata Farel mengamati sekitar untuk memastikan tidak ada yang mendengar percakapan ini. Farel mengambil napas sesaat, lalu menjawab, “Itu sih sudah rahasia umum mahasiswa fakultas hukum Arsen, semua kating sudah tahu soal ini.”

“Terus mereka coba tunggu di stasiun sampai jam 3 kak?” Bisik Arsen lebih pelan. “Kebanyakan anggap itu cerita dongeng, tapi dari cerita satu atau dua orang yang coba kurang lebih seperti itu.”


………


Hawa sekitar yang semakin keji membuyarkan lamunan pria itu. Penglihatan sekitarnya menjadi kunang-kunang, dan dadanya terasa berat seolah habis ditekan hebat oleh sesuatu. Tetes demi tetes keringat bercucuran di dahi dan lehernya, sampai membasahi kaos yang dikenakannya. Gelisah merasuki benak si lelaki, sebab ia tak kenal lagi udara yang memenuhi ruang paru-parunya.

Setelah sepuluh menit, kereta itu berhenti dan membuka pintunya sendiri. “Akhirnya sampai.” Pria itu keluar dari kereta dengan langkah tertatih-tatih bersama kondisi wajahnya saat ini, sangat pucat. Dia berjalan mendekati sebuah rumah kecil yang tak jauh dari penglihatannya. Saat berjalan, ia hanya mendengar deru napasnya dan suara kakinya yang menginjak rumput dan ranting.

Lihat selengkapnya