Aroma Rahasia di Ruang Tamu
Pagi itu seperti biasa. Sinar matahari mulai menyelinap masuk lewat celah tirai jendela ruang tamu. Tapi entah kenapa, rasanya agak berbeda. Udara terasa dingin. Bukan karena AC, tapi karena sepi. Rumah kami biasanya ramai sama suara Biyan yang ngoceh dari pagi atau suara Liza yang sibuk di dapur. Tapi pagi ini, senyap.
Aku, Roman, duduk di kursi rotan tua warisan almarhumah ibu. Biasanya aku duduk di situ sambil nyeruput kopi dan baca koran. Tapi pagi ini, koran cuma kebuka begitu aja. Mataku kosong. Nggak satu pun berita masuk ke otak.
Aku menoleh ke arah dapur. Pintu setengah terbuka. Nggak ada bunyi sendok, nggak ada bau masakan. Yang ada malah bau wangi—wangi parfum manis, agak menyengat, dan aku tahu pasti, itu bukan parfum yang biasa dipakai Liza.
“Papa... Mama belum masak ya?”
Suara Biyan bikin aku kaget. Dia duduk di lantai, mainin truk mainan kesayangannya. Rambutnya masih acak-acakan, belum mandi. Wajahnya polos banget.
“Belum, Nak. Mungkin Mama masih siap-siap,” jawabku sambil mengusap kepalanya.
Aku berdiri pelan, jalan ke arah dapur. Langkahku ringan, tapi dada ini berat. Ada yang aneh. Nggak tahu apa, tapi rasanya nggak enak.
Di dapur, Liza berdiri membelakangiku. Rambutnya digerai rapi, beda banget dari biasanya. Dia pakai blus krem dan celana kain hitam. Bukan daster. Bukan juga celana pendek favoritnya.
“Pagi,” kataku, mencoba terdengar santai.
Liza menoleh cepat. Ekspresinya seperti orang yang ketahuan nyolong sesuatu. Tapi cepat-cepat dia senyum. “Pagi. Kamu bangun pagi banget, tumben.”
Aku membuka kulkas, pura-pura nyari sesuatu.
“Kamu mau ke mana?” tanyaku.
Dia masih pegang ponsel, ngetik sesuatu. “Ada meeting. Klien luar. Nggak bisa digeser.”
Aku menutup kulkas pelan. “Hari ini Minggu, Liz.”
Dia diam beberapa detik, lalu jawab sambil senyum tipis, “Iya... tapi mereka cuma bisa hari ini. Gimana lagi.”
Dia taruh ponsel di meja makan, posisi terbalik. Mataku langsung tertuju ke situ. Biasanya dia nggak pernah jauh-jauh dari ponsel. Apalagi sampai ditinggal begitu aja.
“Kamu udah makan?” tanyanya.
Aku geleng. “Belum. Nggak lapar.”
“Oke. Aku jalan dulu ya, ntar sore pulang.”
Dia ambil tas, buru-buru masuk ke kamar. Aku masih berdiri di dapur, bengong. Nggak tahu harus percaya atau curiga.
Sore harinya hujan turun. Nggak deras, cuma rintik-rintik. Di luar mendung, dan di dalam rumah... dinginnya beda. Biyan udah ketiduran di sofa kecil. Dia peluk guling birunya yang udah mulai usang. Sesekali dia ngomong sendiri, mungkin mimpiin kartun yang tadi pagi dia tonton.
Aku berdiri di dekat jendela, liatin jalanan depan rumah. Sepi. Biasanya jam segini, suara motor Liza udah terdengar. Tapi sampai hampir jam enam, belum ada kabar.
Tiba-tiba mataku tertuju ke meja makan. Ponsel Liza masih di situ. Masih terbalik. Masih diam. Dan anehnya... aku merasa dipanggil sama benda itu.
Dia selalu bawa ponsel, bahkan ke kamar mandi. Tapi hari ini dia tinggalin. Kenapa? Lupa? Atau sengaja?
Aku duduk pelan, tangan gemetar saat ngambil ponsel itu. Aku tekan tombolnya.