MALAM JAHANAM

Hadi Hartono
Chapter #2

Malam yang Panjang

Suara di Kepala yang Tak Mau Diam

Setelah konfrontasi malam itu, aku tidak bisa tidur. Bahkan

ketika rumah telah benar-benar hening, saat detik jam terdengar nyaring seperti

gong di dinding, dan angin malam menyusup masuk lewat celah jendela kamar,

mataku tetap terbuka menatap langit-langit kamar yang kosong.

Liza tidur di sampingku, membelakangi. Atau mungkin pura-pura

tidur. Nafasnya panjang dan teratur, tapi aku tahu betul, di balik ketenangan

itu ada sesuatu yang bergejolak. Ia belum bicara apa pun sejak pengakuan malam

itu. Tidak ada pelukan. Tidak ada penjelasan lebih jauh. Tidak ada upaya

meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Dan aku? Aku seperti kapal yang baru dihantam badai, masih

limbung dan bingung arah. Aku tidak tahu apa yang lebih menyakitkan—fakta bahwa

Liza berselingkuh, atau bahwa ia memilih untuk menyembunyikannya selama

berbulan-bulan. Yang pasti, malam ini bukan malam biasa. Ini malam yang

mengubah segalanya.

Kepalaku penuh suara. Bukan suara orang lain, tapi suara dari

pikiranku sendiri yang berulang kali memutar adegan-adegan itu—chat mesra,

emoji cinta, foto selfie mereka di dalam mobil, dan kalimat yang terlalu manis

untuk kubaca. "Kangen banget peluk kamu." "Hari ini kamu wangi

banget." "Kapan kita bisa jalan berdua lagi?"

Suara-suara itu seperti peluru yang menembus harga diriku. Aku

bukan lelaki yang sempurna, tapi aku lelaki yang setia. Lelaki yang selalu

pulang. Lelaki yang membagi hidupnya untuk keluarganya. Dan malam ini, aku

merasa... tidak cukup.

Aku perlahan turun dari tempat tidur. Lantai kamar dingin, dan

langkahku terasa berat. Kuarahkan kakiku menuju ruang tamu, tanpa tujuan yang

jelas. Aku hanya ingin menjauh dari aroma Liza yang masih melekat di kamar.

Ingin menjauh dari bayangan wajahnya yang kini terasa asing.

Di ruang tamu, aku duduk di kursi rotan tua. Kursi yang jadi

saksi diam kehidupan rumah tangga kami. Kursi tempat aku dulu membaca cerita

dongeng untuk Biyan, kursi tempat aku dan Liza duduk bersisian sambil menonton

acara TV pada malam Minggu.

Aku memandangi foto keluarga kami yang tergantung di dinding.

Foto itu diambil dua tahun lalu di taman kota. Wajah kami tersenyum penuh,

seolah-olah tak ada kesedihan di dunia. Aku menggandeng tangan Liza. Biyan

duduk di tengah, tertawa. Sekarang, aku menatap foto itu seperti menatap mimpi

buruk yang berpura-pura jadi indah.

Apa selama ini semua hanya pencitraan? Apakah yang kulihat

selama ini cuma topeng? Ataukah aku yang terlalu percaya, terlalu percaya bahwa

Lihat selengkapnya