Suara di Kepala yang Tak Mau Diam
Setelah konfrontasi malam itu, aku tidak bisa tidur. Bahkan
ketika rumah telah benar-benar hening, saat detik jam terdengar nyaring seperti
gong di dinding, dan angin malam menyusup masuk lewat celah jendela kamar,
mataku tetap terbuka menatap langit-langit kamar yang kosong.
Liza tidur di sampingku, membelakangi. Atau mungkin pura-pura
tidur. Nafasnya panjang dan teratur, tapi aku tahu betul, di balik ketenangan
itu ada sesuatu yang bergejolak. Ia belum bicara apa pun sejak pengakuan malam
itu. Tidak ada pelukan. Tidak ada penjelasan lebih jauh. Tidak ada upaya
meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Dan aku? Aku seperti kapal yang baru dihantam badai, masih
limbung dan bingung arah. Aku tidak tahu apa yang lebih menyakitkan—fakta bahwa
Liza berselingkuh, atau bahwa ia memilih untuk menyembunyikannya selama
berbulan-bulan. Yang pasti, malam ini bukan malam biasa. Ini malam yang
mengubah segalanya.
Kepalaku penuh suara. Bukan suara orang lain, tapi suara dari
pikiranku sendiri yang berulang kali memutar adegan-adegan itu—chat mesra,
emoji cinta, foto selfie mereka di dalam mobil, dan kalimat yang terlalu manis
untuk kubaca. "Kangen banget peluk kamu." "Hari ini kamu wangi
banget." "Kapan kita bisa jalan berdua lagi?"
Suara-suara itu seperti peluru yang menembus harga diriku. Aku
bukan lelaki yang sempurna, tapi aku lelaki yang setia. Lelaki yang selalu
pulang. Lelaki yang membagi hidupnya untuk keluarganya. Dan malam ini, aku
merasa... tidak cukup.
Aku perlahan turun dari tempat tidur. Lantai kamar dingin, dan
langkahku terasa berat. Kuarahkan kakiku menuju ruang tamu, tanpa tujuan yang
jelas. Aku hanya ingin menjauh dari aroma Liza yang masih melekat di kamar.
Ingin menjauh dari bayangan wajahnya yang kini terasa asing.
Di ruang tamu, aku duduk di kursi rotan tua. Kursi yang jadi
saksi diam kehidupan rumah tangga kami. Kursi tempat aku dulu membaca cerita
dongeng untuk Biyan, kursi tempat aku dan Liza duduk bersisian sambil menonton
acara TV pada malam Minggu.
Aku memandangi foto keluarga kami yang tergantung di dinding.
Foto itu diambil dua tahun lalu di taman kota. Wajah kami tersenyum penuh,
seolah-olah tak ada kesedihan di dunia. Aku menggandeng tangan Liza. Biyan
duduk di tengah, tertawa. Sekarang, aku menatap foto itu seperti menatap mimpi
buruk yang berpura-pura jadi indah.
Apa selama ini semua hanya pencitraan? Apakah yang kulihat
selama ini cuma topeng? Ataukah aku yang terlalu percaya, terlalu percaya bahwa