MALAM JAHANAM

Hadi Hartono
Chapter #3

PINTU YANG TERBUKA SETENGAH

Dimas Wibowo

Hari itu kantor terasa seperti lorong tanpa ujung. Aku, Roman, duduk di balik meja kerjaku, menatap layar monitor yang menampilkan laporan mingguan yang sebenarnya sudah kuselesaikan dua hari lalu. Tapi hari ini, tak ada satu angka pun yang bisa kupahami. Semua kabur oleh pikiranku yang terus melayang ke rumah—ke Liza—dan ke satu nama yang terus mengusik: Dimas.

Sudah sejak pagi aku mencoba berkonsentrasi. Tapi wajah Liza semalam, hening dan menunduk, terus muncul dalam benakku. Dan bersamanya, muncul bayangan Dimas—lelaki dari masa lalu yang berhasil menyelinap kembali ke dalam hidup istri yang kucintai. Bukan sekali dua kali aku dengar cerita tentang mantan yang muncul kembali dan merusak rumah tangga orang. Tapi aku tak pernah membayangkan bahwa itu bisa terjadi padaku.

Dengan hati yang masih panas dan pikiran yang kalut, aku membuka laptop. Aku membuka tab baru, mengetik pelan: Dimas Wibowo Jakarta. Puluhan hasil pencarian muncul. Sebagian adalah akun media sosial yang tampaknya tidak relevan. Tapi satu foto langsung menarik perhatianku: LinkedIn miliknya.

Dimas Wibowo. Alumni Teknik Sipil, Universitas Negeri. Bekerja di sebuah perusahaan kontraktor swasta di bilangan Jakarta Selatan. Jabatannya lumayan tinggi—Project Manager. Usianya tak jauh beda denganku. Foto profilnya tampak percaya diri, mengenakan jas formal, senyum yang tipis tapi mengandung keangkuhan.

Kutarik napas panjang.

Wajah itu... ya, aku pernah melihatnya dulu. Beberapa kali Liza menunjukkan foto-foto lamanya saat kami baru menikah. Ia bilang Dimas adalah bagian dari masa lalu. Dan masa lalu, menurut Liza saat itu, sudah terkubur dalam.

Tapi ternyata tidak.

Kepalaku semakin panas. Tanganku mengepal di atas meja. Aku berpikir, apakah aku seharusnya menemui pria ini? Menanyakan langsung kenapa dia muncul kembali? Atau... aku cukup diam dan mencoba menyelamatkan rumah tanggaku dengan caraku sendiri?

Namun sebelum sempat kutentukan langkah, ponselku bergetar.

Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal:

"Mas Roman? Saya Dimas. Saya rasa kita perlu bicara."

Deg.

Seolah tubuhku ditarik ke dalam lubang es. Pesan itu membuat nafasku tercekat. Bagaimana dia bisa mendapatkan nomorku? Apakah Liza yang memberikannya? Atau dia memang sudah merencanakan semua ini?

Kupandangi pesan itu lama. Beberapa menit, aku hanya menatap layar. Pikiranku berperang—antara menjawab dan membiarkannya. Tapi jari-jariku sudah lebih dulu mengambil keputusan:

"Di mana?"

Seketika, kutahu aku sedang membuka pintu. Sebuah pintu yang selama ini kutahan rapat-rapat agar tidak terbuka pada amarah.

 

Pertemuan

Kafe kecil di daerah Cikini itu tidak terlalu ramai. Beberapa pengunjung duduk menyendiri, sebagian besar dengan laptop atau buku. Aku datang lima belas menit lebih awal. Memilih kursi di pojok, menghadap dinding, agar bisa melihat siapa pun yang masuk tanpa terlihat mencolok.

Jantungku berdebar kencang. Tanganku gemetar saat mengaduk kopi. Di luar, langit mendung menggantung. Udara terasa berat. Seolah semesta pun tahu bahwa ini bukan pertemuan biasa.

Lalu dia datang.

Dimas Wibowo.

Ia membuka pintu kaca kafe, menoleh kiri-kanan, lalu matanya menangkap sosokku. Ia tersenyum tipis dan berjalan mendekat. Mengenakan kemeja putih yang disetrika rapi, celana abu-abu, sepatu kulit coklat. Gesturnya tenang. Mungkin terlalu tenang untuk seseorang yang sudah merusak pernikahan orang.

"Mas Roman?" suaranya pelan saat menyapa.

Aku hanya mengangguk. Tak menyodorkan tangan. Ia duduk di kursi seberangku.

"Terima kasih sudah mau ketemu," katanya.

"Langsung saja. Kamu mau apa?" suaraku datar, tidak berusaha menyembunyikan amarah.

Dimas menarik napas panjang. Matanya menatap gelas di hadapannya. "Saya tahu saya nggak punya hak untuk ganggu rumah tangga kalian. Tapi jujur, saya dan Liza... kami ketemu lagi bukan karena niat. Awalnya cuma kebetulan. Tapi kemudian—"

"Kamu tidur sama istri saya," potongku dingin.

Ia terdiam. Muka Dimas sedikit pucat. Rahangnya mengeras. Tapi ia tidak menyangkal.

"Saya minta maaf. Itu salah. Tapi Liza juga... dia bilang dia kesepian."

Aku mengepalkan tangan di bawah meja. "Dan kamu datang sebagai pahlawan? Menawarkan pelukan dan tempat curhat, lalu kamu buka celanamu?"

Ia menelan ludah. "Bukan begitu. Saya masih cinta sama dia dari dulu. Saya pikir... mungkin ini takdir. Tapi sekarang saya sadar, saya cuma jadi pelarian. Saya mau lepasin. Saya nggak akan ganggu lagi."

Aku mendengus. "Setelah kamu rusak semuanya, kamu tinggal bilang 'maaf' dan pergi?"

"Saya nggak mau nambah luka, Mas. Saya sudah cukup dihukum perasaan bersalah. Liza juga bingung. Dia bilang, dia masih sayang kamu."

"Tutup mulutmu. Kamu nggak kenal aku. Kamu nggak kenal rumah tangga kami."

Dimas terdiam lagi. Wajahnya menegang. Tapi kali ini matanya sedikit basah.

"Saya juga terluka, Mas," katanya. "Saya pikir saya bisa bahagiakan dia. Tapi ternyata saya cuma tambah luka."

Aku menatapnya dalam-dalam. Ingin menghantam wajah itu. Tapi apa gunanya? Amarahku tak akan menghapus kejadian itu. Dan Dimas? Ia cuma bagian dari cerita. Liza tetap tokoh utama yang membuka semua pintu ini.

Setelah beberapa menit yang panjang, aku berdiri.

"Jangan hubungi dia lagi. Sekali pun."

Dimas mengangguk. "Baik, Mas. Saya janji."

Tanpa bicara lagi, aku melangkah keluar. Di luar, hujan mulai turun gerimis. Aku berjalan ke arah mobil, menekan kunci, masuk ke dalam. Tapi sebelum aku sempat menyalakan mesin, ponselku kembali bergetar.

Satu pesan masuk. Dari Liza.

"Mas, sore ini jangan pulang dulu. Ada sesuatu yang harus kamu tahu."

Aku menatap layar ponsel. Lama. Jari-jariku diam. Nafasku terhenti sejenak.

Apa lagi?

Apa yang belum aku tahu?

Dan saat mobilku masih berhenti di pinggir jalan, dengan wiper mengusir hujan tipis dari kaca depan, aku sadar: ini belum selesai. Sama sekali belum.

**

Judul Bab 3: Pintu yang Terbuka Setengah – Sesi 2

Mobil melaju perlahan di tengah gerimis. Wiper bekerja ritmis, memukul butiran air dari kaca depan. Roman tak segera menjawab pesan Liza. Ia menepi di depan minimarket, mematikan mesin, lalu diam menatap hujan.

"Ada sesuatu yang harus kamu tahu."

Kalimat itu menggema terus di kepalanya. Apa lagi yang belum ia ketahui? Bukankah pengkhianatan itu sudah cukup menghancurkan? Atau mungkin, ini tentang sesuatu yang lebih dalam, lebih menyakitkan lagi?

Ia mengetik balasan singkat: "Oke."

Tak lama, pesan masuk lagi.

"Tunggu di rumah jam tujuh. Aku mau bicara, bukan berdebat."

Lihat selengkapnya