MALAM JAHANAM

Hadi Hartono
Chapter #4

RAHASIA KEDUA

Surat di Laci Meja

Aku menyusuri jalanan Jakarta tanpa arah, membiarkan malam menggulung kota dengan lampu-lampu kuning yang redup dan lalu lintas yang perlahan surut. Setelah pertemuanku dengan Dimas, pikiranku tidak bisa diam. Pesan Liza menggema berulang kali di benakku:

"Mas, sore ini jangan pulang dulu. Ada sesuatu yang harus kamu tahu."

Apa lagi yang belum aku tahu? Rasanya semua sudah cukup mengoyak. Tapi naluriku berkata lain. Ada lapisan yang lebih dalam dari pengkhianatan. Dan aku takut.

Kupandangi wajahku sendiri di kaca spion. Wajah yang terlihat tua, kusam, dan kehilangan cahaya. Aku, Roman, suami dari Liza Natalia, ayah dari Biyan, lelaki yang dulu percaya bahwa cinta cukup untuk membuat pernikahan bertahan.

Pukul setengah sembilan malam, akhirnya aku menyalakan mesin dan melajukan mobil ke rumah. Jalanan sudah agak sepi. Saat tiba di depan gerbang, kulihat lampu teras menyala, dan tirai jendela ruang tamu bergoyang perlahan oleh angin. Seperti menunggu.

Liza duduk di sofa. Wajahnya tak berhias riasan, rambutnya diikat seadanya. Ada kelelahan dalam matanya, juga ketegangan yang tak bisa ia sembunyikan. Di pangkuannya, sebuah map cokelat kusam. Ia tidak berdiri saat aku masuk, hanya berkata, "Akhirnya kamu pulang juga."

Aku menutup pintu. Diam. Lalu duduk di seberangnya.

"Kamu bilang ada yang harus aku tahu. Sekarang waktunya."

Liza menyerahkan map itu. Tangannya sedikit gemetar. Mataku menatapnya sejenak sebelum membuka isinya.

Surat. Tulis tangan. Tertanggal enam tahun lalu. Dari seseorang yang tak pernah kuduga: ibu Liza.

"Nak, maafkan Ibu. Mungkin suatu hari kamu akan membaca ini. Pilihan menikahkanmu dengan Roman bukan semata keputusanmu, tapi juga keputusan keluarga. Kami tidak bisa menanggung malu saat tahu kamu telah menjalin hubungan terlarang dengan Dimas. Kami paksa kamu putus. Kami ancam dengan nama baik. Kami... menjualmu demi reputasi."

Aku menatap Liza. Matanya berkaca-kaca, tapi ia tak menangis. Ia tahu aku sedang membaca sejarah kelam yang tidak pernah dibicarakan.

"Roman lelaki baik, kami pikir. Dan kamu nurut. Tapi ibu tahu, itu bukan karena kamu rela. Tapi karena kamu tidak punya pilihan. Dan ketika kamu menikah dengannya, kami berharap waktu akan menyembuhkanmu. Tapi ibu tahu, kamu tidak pernah benar-benar melupakan Dimas."

Di belakang surat itu ada selembar foto lama: Liza bersama Dimas, tertawa di bawah pohon di kampus. Aku tahu Liza saat itu—lebih muda, lebih polos, dan jelas lebih bahagia dari yang pernah kulihat.

Dan satu halaman lagi: cetakan percakapan surel antara Liza dan ibunya.

Liza: Bu, aku takut. Aku nggak cinta sama Roman. Aku masih cinta Dimas.

Ibu: Kamu harus kuat. Dimas bukan untuk kamu. Dia cuma mau merusak masa depanmu.

Liza: Tapi aku... aku hamil, Bu. Ini anak Dimas.

Ibu: Astaghfirullah. Jangan bilang siapa-siapa. Kita akan bereskan. Kau akan menikah dengan Roman.

Tanganku gemetar. Mataku menajam. Aku membaca ulang baris terakhir: Aku hamil, Bu. Ini anak Dimas.

Biyan?

Tubuhku merosot ke belakang sofa. Aku menatap langit-langit rumah yang dulu kubangun dengan cinta. Rumah ini, tempat aku mencintai Liza dan membesarkan Biyan—apakah semuanya kebohongan?

"Roman..." suara Liza pelan, nyaris tak terdengar. "Waktu itu... aku memang hamil. Tapi aku keguguran. Sebelum menikah dengan kamu. Dan setelah itu, aku benar-benar memulai dari nol. Kamu orang pertama yang memberiku tempat setelah semuanya runtuh."

Aku menoleh. "Jadi Biyan..."

"Anakmu. Anak kita. Aku bersumpah, Roman. Setelah Biyan, aku mencintaimu bukan karena paksaan. Tapi karena kamu... karena kita."

Aku ingin marah. Tapi amarahku tak punya bentuk. Aku merasa kosong. Seperti laut yang telah diambil airnya.

"Kenapa kamu simpan ini semua?"

Liza mengusap wajahnya. "Aku takut kamu pergi. Takut kamu benci aku. Tapi aku salah. Kebohongan justru membuatmu lebih jauh."

Lihat selengkapnya