Hujan turun sejak subuh.
Butiran air memukul kaca jendela apartemen dengan ritme yang tenang, nyaris meninabobokan. Dari lantai dua belas, Jakarta tampak seperti kota yang kehilangan warna. Gedung-gedung menjulang diselimuti kabut tipis, sementara jalanan di bawah berubah menjadi garis-garis lampu kendaraan yang memantul di atas aspal basah.
Nadia Prameswari menatap layar laptopnya tanpa benar-benar membaca apa yang tertulis di sana. Kursor berkedip di ujung kalimat terakhir artikel yang seharusnya sudah selesai sejak semalam.
"Penyelidikan kasus korupsi..."
Ia menghela napas panjang, lalu menghapus satu paragraf penuh. Tidak ada satu pun kalimat yang terasa benar pagi itu.
Telepon genggamnya bergetar di atas meja. Nomor tak dikenal. Nadia membiarkannya berdering hingga berhenti sendiri. Beberapa detik kemudian, ponselnya kembali menyala. Kali ini pesan singkat masuk.
Nduk, ini Pak Raka. Tolong angkat teleponnya. Penting.
Nadia mengernyit. Nama itu terasa asing, tetapi juga tidak sepenuhnya asing. Raka...
Ia mencoba mengingat.
Seseorang dari desa? Teman sekolah?
Sudah terlalu lama sejak terakhir kali ia memikirkan kampung halamannya. Belum sempat ia menyusun ingatan, panggilan itu datang lagi. Dengan sedikit ragu, Nadia mengangkatnya.
"Halo?"
Suara di seberang terdengar pelan, tertahan.
"Nduk... akhirnya diangkat juga."
Nadia tidak langsung menjawab. Ia mengenali logat Jawa yang pekat itu. Logat yang dulu setiap hari memenuhi rumahnya.
"Saya Raka... anaknya Pak Lurah dulu."
Baru saat itu Nadia mengingat.
Raka.
Anak laki-laki yang dulu sering bermain layang-layang bersamanya di pematang sawah. Mereka pernah begitu akrab. Lalu, waktu membuat segalanya menjadi asing.
"Ada apa, Mas?"
Di seberang sana, hening beberapa detik, lalu suara itu datang lagi. Lebih pelan.
"Bapakmu meninggal tadi malam."
Dunia seolah berhenti bergerak. Nadia tidak menjawab. Ia hanya mendengar bunyi hujan yang semakin deras di luar.
"Nduk...? Masih di sana?"
"Iya…"
"Jenazah masih di rumah."
Nadia menelan ludah.
"Ayah sakit?"
"Katanya serangan jantung."
Katanya. Satu kata itu terasa mengganjal.
"Katanya?"
"Dokter puskesmas yang bilang begitu."
Hening kembali mengisi percakapan. Nadia menutup mata.
Lima belas tahun.
Sudah lima belas tahun sejak terakhir kali ia pulang ke Desa Karangwening. Lima belas tahun pula sejak percakapan terakhirnya dengan sang ayah berakhir dengan pintu dibanting keras.
"Kalau memang Jakarta lebih penting daripada rumah ini... pergilah."
Ia pergi. Dan tidak pernah benar-benar kembali. Sesekali ayahnya mengirim pesan. Mengabarkan sawah mulai panen. Mengirim foto pohon mangga yang mulai berbuah. Menanyakan apakah Nadia sudah makan. Tidak pernah ada balasan yang panjang.
Hubungan mereka perlahan menyusut menjadi ucapan selamat ulang tahun dan transfer uang menjelang Lebaran. Bahkan ketika tetangga memberi kabar bahwa ayahnya mulai sering sakit-sakitan, Nadia hanya mengirimkan biaya berobat.
Ia selalu punya alasan. Liputan. Deadline. Rapat redaksi.
Jakarta terlalu sibuk untuk memberinya waktu pulang. Atau mungkin ia memang belum siap kembali.
"Nduk..."
Suara Raka membuyarkan lamunannya.
"Kalau bisa... pulanglah hari ini."
Nadia memandang hujan di balik kaca. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, kata pulang terdengar begitu asing.