Malam Takziah

Marion D'rossi
Chapter #2

Malam Pertama

Rumah duka semakin ramai ketika matahari benar-benar tenggelam. Lampu-lampu pijar berwarna kekuningan dinyalakan di teras dan halaman depan. Beberapa lelaki sibuk menggelar tikar tambahan, sementara ibu-ibu membawa nampan berisi teh panas, kopi, dan penganan sederhana dari dapur menuju ruang tamu. Bau kayu basah bercampur aroma melati dari rangkaian bunga di dekat jenazah memenuhi udara.

Nadia duduk di sudut ruang tamu.

Sejak tiba sore tadi, entah sudah berapa pasang tangan yang menjabatnya, mengucapkan belasungkawa, lalu bertanya hal yang sama.

"Masih tinggal di Jakarta, Nduk?"

"Sudah lama ya tidak pulang?"

"Kerja jadi wartawan, ya?"

Ia menjawab semuanya dengan senyum tipis yang terasa semakin berat setiap kali diulang.

Wajah-wajah itu sebagian masih dikenalnya. Sebagian lagi hanya menyisakan kesan samar, seperti potongan mimpi yang pernah lewat bertahun-tahun lalu.

Ada Pak Darto, yang dulu sering mengajari anak-anak bermain catur di gardu ronda. Ada Bu Lastri, penjual pecel yang rambutnya kini sepenuhnya memutih. Ada pula beberapa anak kecil yang terus mengintip ke arahnya dari balik pintu, mungkin karena mereka hanya mengenal nama Nadia dari cerita orang tua mereka.

Semuanya tampak begitu akrab satu sama lain, kecuali dirinya.

Sesekali Nadia melirik ke arah ruang tengah. Jenazah ayahnya masih terbaring tenang, diselimuti kain batik hingga sebatas dada. Wajah Hadi terlihat jauh lebih damai dibanding terakhir kali Nadia melihatnya lima tahun lalu melalui panggilan video singkat. Keriput di dahinya seolah menghilang.

Ia mencoba mengingat suara ayahnya. Aneh, yang muncul justru potongan-potongan percakapan yang tidak utuh.

"Kalau pulang..."

"Jangan terlalu malam..."

"Ada yang harus bapak..."

Kalimat-kalimat itu terputus begitu saja. Nadia memejamkan mata sesaat. Barangkali memang beginilah rasanya kehilangan seseorang yang telah lama dijauhkan oleh ego. Bukan kesedihan yang datang lebih dulu, tetapi penyesalan.

Suara azan Isya berkumandang dari masjid di ujung jalan.

Percakapan para pelayat perlahan mereda. Beberapa lelaki berdiri, mengambil sarung yang telah disiapkan tuan rumah, lalu berjalan menuju masjid. Sebagian lagi tetap tinggal untuk melanjutkan pembacaan doa di rumah.

Raka muncul dari arah dapur sambil membawa teko besar berisi kopi.

"Capek?"

Nadia mengangkat wajah.

Raka tidak banyak berubah. Tubuhnya masih tinggi, hanya kini sedikit lebih berisi. Garis-garis halus mulai tampak di sudut matanya, tetapi senyumnya tetap sama seperti yang Nadia ingat semasa kecil.

"Sedikit."

Raka menuangkan kopi ke dalam gelas kosong di hadapan Nadia. "Minum dulu. Dari tadi kamu belum makan."

Nadia menerima gelas itu. "Terima kasih."

Beberapa saat mereka hanya duduk dalam diam. Suara orang-orang mengaji terdengar lirih dari ruang tengah.

Raka memandang ke arah halaman. "Kamu terakhir pulang waktu pemakaman ibumu."

"Iya."

"Hampir lima belas tahun."

Nadia mengangguk pelan. "Aku enggak pernah menyangka bakal pulang karena Bapak."

Raka tidak menjawab. Ia seolah sedang memilih kata-kata.

"Sebenarnya...," ucapnya pelan, "Pak Hadi sering cerita tentang kamu."

Nadia menoleh. "Sering?"

"Iya."

"Beliau enggak pernah cerita ke aku."

"Soalnya kamu enggak pernah kasih kesempatan."

Kalimat itu tidak diucapkan dengan nada menyalahkan. Justru terdengar datar. Apa adanya.

Nadia hanya menunduk memandangi permukaan kopi yang mengepulkan uap tipis. Dari ruang tengah terdengar seseorang memanggil nama Raka.

"Aku ke depan dulu." Raka berdiri. "Kalau butuh apa-apa, bilang."

Nadia mengangguk.

Baru saja Raka melangkah pergi, seseorang perlahan duduk di kursi kosong di sampingnya. Nadia tidak langsung menoleh. Ia mengira salah satu pelayat lain.

"Ayahmu orang yang keras kepala." Suara itu berat. Serak. Seperti seseorang yang terlalu lama menghabiskan hidupnya dengan asap rokok.

Nadia menoleh perlahan. Seorang lelaki tua duduk dengan kedua tangan bertumpu pada tongkat kayu. Usianya mungkin mendekati tujuh puluh tahun. Kulitnya legam terbakar matahari. Ia mengenakan baju lurik cokelat yang telah pudar dan ikat kepala hitam yang diikat sederhana. Tatapannya tajam, tetapi tidak mengintimidasi. Justru seperti seseorang yang telah lama menunggu kesempatan untuk berbicara.

"Maaf...," kata Nadia pelan. "Kita pernah bertemu?"

Lelaki itu tersenyum tipis. "Dulu." Jawabannya singkat. "Sangat lama."

Lihat selengkapnya