Nadia tidak benar-benar tidur malam itu. Rumah yang dipenuhi pelayat perlahan sunyi setelah lewat tengah malam. Satu per satu tamu berpamitan pulang, menyisakan beberapa lelaki yang memilih bermalam di serambi depan. Dari ruang tengah masih terdengar suara kipas angin tua yang berputar lambat, diselingi derit kayu setiap kali angin malam menyelinap melalui celah-celah jendela.
Nadia memejamkan mata, tetapi pikirannya tetap terjaga. Kalimat lelaki tua itu terus berputar di kepalanya.
"Ayahmu terlalu lama menyimpan daftar nama."
Ia mencoba menghubungkan kalimat itu dengan apa pun yang ia ketahui tentang ayahnya.
Tidak ada.
Hadi Prasetyo adalah guru sejarah. Seorang pria yang lebih sering menghabiskan waktu membaca buku daripada berbicara. Bahkan ketika Nadia masih kecil, ayahnya hampir tidak pernah membawa urusan pekerjaan ke rumah.
Lalu, nama apa yang dimaksud lelaki tua itu? Dan mengapa ia mengucapkannya seolah Nadia seharusnya memahami maksudnya?
Menjelang pukul tiga dini hari, rasa kantuk akhirnya mengalahkan pikirannya. Namun tidur yang datang hanya sebentar.
Suara ayam berkokok membangunkannya sebelum matahari terbit. Nadia membuka mata perlahan. Langit di balik jendela masih berwarna kebiruan. Kabut tipis menggantung di atas halaman, membuat pohon mangga di depan rumah tampak seperti bayangan samar.
Beberapa ibu-ibu sudah kembali sibuk di dapur. Suara pisau memotong sayur bercampur denting gelas dan percakapan lirih yang nyaris tak terdengar.
Sejenak Nadia lupa di mana ia berada. Baru ketika matanya menangkap pigura foto ayahnya di atas lemari, semua kenangan semalam kembali memenuhi pikirannya.
Ia bangkit dari dipan tipis yang disediakan di kamar tamu. Tubuhnya terasa pegal. Mungkin karena perjalanan jauh. Mungkin juga karena semalaman ia tidak benar-benar beristirahat.
Setelah membasuh wajah, Nadia keluar menuju halaman depan. Udara pagi desa masih sama seperti yang ia ingat. Dingin. Segar. Dengan aroma tanah basah yang tidak pernah bisa ditemukan di kota.
Di kejauhan, terdengar suara orang memanggul cangkul menuju sawah. Anak-anak berseragam SD berjalan beriringan sambil bercanda, sesekali menoleh ke arah rumah duka dengan rasa ingin tahu.
Semua tampak berjalan sebagaimana mestinya. Seolah tidak pernah terjadi sesuatu yang aneh semalam.
"Nduk."
Suara Bu Marni membuat Nadia menoleh. Perempuan tua itu sedang menyapu halaman.
"Tidur? Sedikit."
Bu Marni mengangguk sambil terus menggerakkan sapunya.
"Kalau rumah lagi ada kematian memang susah tidur."
Nadia tersenyum tipis.
"Bu..."
"Hm?"
"Nanya sesuatu, boleh?"
"Tanya saja."
"Tadi malam...," Nadia berhenti sejenak, mencari cara agar pertanyaannya tidak terdengar aneh. "Ada tamu pakai baju lurik, bawa tongkat. Ibu benar-benar enggak ingat?"
Sapuan Bu Marni terhenti. Perempuan itu mengangkat wajah. Kerutan di dahinya kembali muncul.
"Lurik?"
"Iya. Yang duduk di samping saya."
Beberapa detik berlalu. Bu Marni tampak berpikir keras, lalu perlahan ia menggeleng.
"Enggak ada."
"Ibu yakin?"
"Iya."
"Tapi tadi malam Ibu sempat bilang...." Nadia menghentikan kalimatnya.
Aneh. Ia sangat yakin Bu Marni hampir mengatakan sesuatu sebelum listrik menyala kembali. Namun kini wajah perempuan tua itu benar-benar kosong. Seolah percakapan mereka tadi malam tidak pernah terjadi.
"Mungkin kamu mimpi." Bu Marni tersenyum kecil. "Lagi banyak pikiran."
Nadia tidak menjawab. Ia tahu apa yang ia lihat. Lelaki tua itu nyata. Ia mendengar suaranya. Melihat keriput di wajahnya. Bahkan sempat mencium aroma tembakau yang melekat pada bajunya.
Mustahil semua itu hanya mimpi.
"Kalau begitu...," Nadia menarik napas pelan. "Pak Karsa pasti tahu."