Malam Takziah

Marion D'rossi
Chapter #4

Ruang Kerja Ayah

Pagi di hari kedua takziah datang lebih tenang daripada yang Nadia bayangkan. Hujan semalam meninggalkan aroma tanah yang pekat di halaman rumah. Embun masih menempel di dedaunan pohon mangga, sementara sinar matahari yang malu-malu menyelinap di sela genting tua, membentuk garis-garis tipis di lantai teras.

Rumah mulai kembali sibuk.

Beberapa ibu menyiapkan bahan makanan untuk makan siang para pelayat. Di dapur, suara ulekan bersahut-sahutan dengan percakapan ringan yang sesekali diselingi tawa. Di halaman depan, beberapa lelaki memasang terpal tambahan karena diperkirakan hujan akan turun lagi menjelang sore.

Nadia berdiri cukup lama di ambang pintu ruang tamu. Matanya menyapu setiap sudut rumah. Tidak banyak yang berubah.

Lemari jati tua di sudut ruangan masih berdiri kokoh dengan jam dinding yang selalu terlambat lima menit. Kursi rotan tempat ayahnya biasa membaca koran masih menghadap ke halaman. Bahkan taplak meja bermotif bunga matahari yang dijahit ibunya bertahun-tahun lalu masih terpasang rapi.

Rumah ini seperti berhenti bertambah tua. Hanya penghuninya yang satu per satu menghilang.

"Nduk." Bu Marni muncul dari arah dapur sambil membawa seikat kain lap. "Kalau enggak keberatan, nanti tolong bantu bersih-bersih, ya."

Nadia mengangguk. "Mau dibersihkan semua?"

"Iya. Besok mulai banyak tamu dari luar desa."

Nadia menerima kain lap itu.

Sudah menjadi kebiasaan di Karangwening. Setelah pemakaman, keluarga almarhum biasanya mulai merapikan rumah sedikit demi sedikit. Bukan untuk menghapus jejak orang yang meninggal, melainkan agar rumah tetap siap menerima tamu selama tujuh hari penuh.

Ia memulai dari ruang tamu. Membersihkan meja. Merapikan buku-buku yang berserakan. Mengelap pigura foto keluarga.

Tangannya berhenti pada sebuah foto lama yang tergantung di dekat jendela. Foto itu memperlihatkan ayahnya sedang berdiri di depan balai desa bersama beberapa laki-laki lain. Nadia memperhatikan wajah-wajah dalam foto itu. Satu per satu tampak asing. Yang membuatnya heran, ada satu bagian foto yang warnanya jauh lebih pudar daripada bagian lain. Persis di sebelah kanan ayahnya. Seolah dulu pernah ada seseorang berdiri di sana.

Ia mendekatkan wajahnya.

Tidak. Mungkin hanya karena usia. Foto lama memang sering memudar tidak merata.

"Nadia." Suara Raka terdengar dari belakang. "Kamu nyari apa?"

Nadia menoleh. "Ini."

Ia menunjukkan foto itu.

"Teman-teman Bapak?" Raka ikut memperhatikan.

"Iya."

"Kayaknya rapat desa."

"Kamu kenal semuanya?"

Raka menggeleng. "Sebagian sudah meninggal. Sebagian pindah."

Nadia kembali menatap foto itu. "Lelaki yang di sebelah Bapak, siapa?"

Raka mengernyit. "Sebelah mana?"

"Ini." Nadia menunjuk bagian foto yang warnanya memudar.

Raka ikut mendekat, lalu menggeleng pelan. "Di situ enggak ada orang."

Nadia tidak langsung menjawab. Entah mengapa, ia semakin yakin bahwa ruang kosong itu seharusnya ditempati seseorang.

Perasaan yang sama kembali muncul. Persis seperti ketika ia melihat foto masa kecilnya di apartemen. Selalu ada kesan bahwa sesuatu telah hilang. Tetapi ia tidak tahu apa.

 

Menjelang siang, Nadia mulai membersihkan bagian belakang rumah. Lorong menuju dapur masih sama sempitnya seperti dulu. Di sisi kiri terdapat gudang kecil berisi alat-alat pertanian yang sudah lama tidak digunakan.

Di ujung lorong berdiri sebuah pintu kayu bercat cokelat tua. Nadia berhenti melangkah.

Pintu itu. Ia masih mengingatnya. Sejak kecil ayahnya selalu melarang siapa pun masuk ke ruangan tersebut.

"Kalau bapak enggak ada, jangan pernah buka ruangan ini."

Saat itu Nadia mengira ayahnya hanya menyimpan dokumen sekolah atau barang-barang penting. Lama-kelamaan ia tidak lagi memikirkan ruangan tersebut. Namun kini, melihat pintu itu kembali, rasa penasaran yang telah lama terkubur perlahan muncul.

"Gimana?" Suara Bu Marni terdengar dari belakang hingga membuat Nadia sedikit terkejut.

"Ibu."

"Nah." Bu Marni mengikuti arah pandangan Nadia. "Kamar kerja Pak Hadi. Nadia masih ingat?"

Lihat selengkapnya