Malam Takziah

Marion D'rossi
Chapter #5

Nama Pertama

Hari kedua takziah membawa kesibukan yang berbeda. Sejak pagi, halaman rumah Hadi telah dipenuhi kesibukan warga. Beberapa lelaki mendirikan tenda tambahan di sisi timur rumah, sementara ibu-ibu sibuk memotong sayuran di dapur belakang. Asap dari tungku kayu mengepul tipis ke udara, membawa aroma bawang goreng dan santan yang mengingatkan Nadia pada masa kecilnya.

Entah sudah berapa lama ia tidak mencium aroma masakan desa seperti ini. Semua orang bekerja tanpa diminta. Seolah rumah duka bukan lagi milik satu keluarga, melainkan milik seluruh kampung.

Nadia duduk di beranda belakang sambil memegang secangkir teh yang mulai dingin. Buku harian ayahnya masih berada di pangkuannya. Ia belum berani membacanya. Kalimat di halaman terakhir terus memenuhi pikirannya.

"Kalau kamu membaca ini... berarti mereka sudah datang."

Siapa mereka? Mengapa ayahnya terdengar begitu yakin bahwa suatu hari Nadia akan membuka buku itu? Dan mengapa semua itu terasa seperti surat yang sengaja ditinggalkan untuk seseorang yang terlambat datang?

"Nduk." Suara Bu Marni memecah lamunannya. Perempuan tua itu keluar dari dapur dengan wajah sedikit berkeringat. "Bisa tolong angkat panci ke depan?"

Nadia mengangguk. "Baik, Bu."

Ia meletakkan buku harian di atas meja kecil, lalu mengikuti Bu Marni ke dapur. Di dalam, beberapa perempuan tengah menata lauk ke dalam rantang-rantang aluminium. Suasana dapur jauh lebih hidup dibanding ruang tamu.

Percakapan bersahutan. Tawa kecil sesekali pecah. Tidak seperti rumah duka yang ia bayangkan.

"Kamu Nadia, ya?" Suara lembut itu membuat Nadia menoleh. Seorang perempuan berusia sekitar empat puluh tahun berdiri di dekat pintu sambil membawa dua baskom besar berisi sayur lodeh dan ayam ungkep.

Wajahnya teduh. Kulitnya sedikit gelap karena matahari. Rambutnya disanggul sederhana dengan beberapa helai yang terlepas di dekat telinga.

Ia tersenyum begitu hangat hingga Nadia merasa pernah melihat wajah itu.

"Iya."

"Saya Sulastri." Perempuan itu meletakkan baskom di atas meja. "Dulu saya sering ke rumah ini."

Nadia mencoba mengingat. Nama itu tidak terdengar asing. Tetapi ia tidak berhasil menemukan di mana pernah mendengarnya.

"Ibu tetangga sini?"

Sulastri mengangguk. "Rumah saya dekat sungai. Lima rumah dari warung Bu Marni."

"Oh ...." Nadia tersenyum sopan. "Maaf ya, Bu. Saya sudah lama enggak pulang."

"Enggak apa-apa." Sulastri tertawa pelan. "Orang kota memang cepat lupa."

Kalimat itu diucapkan sambil bercanda. Namun entah mengapa, Nadia merasa ada sesuatu yang mengganjal ketika mendengarnya.

Mereka mulai menyusun piring bersama. Sulastri ternyata cukup banyak bercerita. Tentang sawah yang kini sebagian berubah menjadi kebun cabai. Tentang anak-anak muda yang lebih memilih merantau daripada bertani. Tentang hujan yang beberapa tahun terakhir sulit diprediksi. Percakapan mereka mengalir begitu saja tanpa terasa.

"Pak Hadi sering cerita soal kamu."

Nadia menghentikan gerakannya. "Lagi?"

Sulastri tersenyum. "Beliau bangga. Bilang anaknya keras kepala, tapi pintar."

Nadia tertawa kecil. "Yang keras kepala itu benar."

"Kami semua tahu." Mereka sama-sama tertawa.

Untuk pertama kalinya sejak pulang, Nadia merasa sedikit lebih ringan. Sulastri memiliki cara berbicara yang membuat orang merasa nyaman. Tidak banyak bertanya. Tidak memaksa. Hanya menemani.

"Beliau sering duduk di rumah saya tiap sore."

"Lho?"

"Iya. Pak Hadi suka minum teh kalau lagi capek."

Nadia terdiam. Ayahnya tidak pernah sekali pun menceritakan hal-hal seperti itu. Seolah selama ini ada kehidupan lain yang dijalani Hadi di desa. Kehidupan yang sama sekali tidak pernah sampai kepadanya.

"Beliau orang baik." Sulastri berkata pelan. "Hanya ...." Perempuan itu berhenti.

"Kenapa?"

Sulastri menatap ke luar jendela dapur. "Beberapa bulan terakhir, Pak Hadi sering kelihatan takut."

Nadia mengerutkan dahi. "Takut?"

"Iya. Kadang lagi ngobrol, tiba-tiba diam. Lihat ke jalan. Seperti ada orang yang sedang mengawasinya."

Suasana dapur mendadak terasa lebih sunyi. Padahal ibu-ibu lain masih sibuk bekerja.

Nadia hendak bertanya lebih jauh. Namun seorang anak kecil masuk sambil berlari.

"Ibu! Tadi Bapak nyari."

Sulastri tersenyum. "Iya. Ibu ke depan dulu."

Lihat selengkapnya