Langkah Nadia terhenti tepat di depan pagar rumah tua itu. Pagar bambu yang telah menghitam dimakan cuaca berdiri miring, sebagian bilahnya patah dan ditumbuhi lumut. Ilalang menjalar hingga ke jalan setapak, seolah sudah lama tidak ada yang memangkasnya. Namun yang paling mengganggu bukanlah keadaan rumah itu, tetapi kenyataan bahwa Nadia yakin ia baru saja melihat Sulastri keluar dari rumah ini kurang dari dua belas jam yang lalu.
Ia menoleh ke arah lelaki paruh baya yang tadi mengaku belum pernah menikah. Lelaki itu kini telah kembali menjemur padi di halaman rumahnya, seolah percakapan mereka barusan tidak pernah terjadi.
"Pak," panggil Nadia sekali lagi.
Lelaki itu mengangkat kepala. "Iya?"
"Rumah ini benar-benar kosong?"
Lelaki itu memandang rumah tua itu sebentar, lalu mengangguk. "Sudah lama."
"Sejak kapan?"
"Mungkin...," ia mengusap dagunya yang dipenuhi uban tipis, “lebih dari sepuluh tahun."
"Enggak ada yang tinggal?"
"Enggak."
"Lalu siapa yang punya?"
"Enggak tahu." Jawaban itu datang terlalu cepat. Seolah lelaki tersebut tidak ingin pembicaraan berlanjut.
Nadia mengucapkan terima kasih, meski tidak benar-benar puas atasa jawaban itu. Begitu lelaki itu kembali sibuk dengan padinya, Nadia melangkah menuju pagar. Engsel bambu berderit pelan ketika didorong.
Tidak dikunci.
Ia masuk perlahan. Rumput liar mencapai betisnya. Beberapa pot bunga pecah tergeletak di teras, dipenuhi tanaman liar yang tumbuh tanpa arah. Di salah satu sudut, sebuah kursi kayu tua rebah dengan salah satu kakinya yang patah.
Sekilas, rumah itu memang tampak seperti bangunan yang telah lama ditinggalkan. Namun semakin dekat Nadia melangkah, semakin banyak hal yang terasa tidak selaras.
Tangga menuju teras bersih, bahkan terlalu bersih. Tidak ada lumut tebal seperti yang seharusnya muncul pada rumah kosong bertahun-tahun.
Ia berjongkok. Permukaan anak tangga masih memperlihatkan bekas telapak sandal yang samar. Belum hilang sepenuhnya oleh embun pagi. Nadia mengeluarkan telepon genggamnya.
Klik.
Ia memotret bekas jejak itu, lalu naik ke teras. Pintu depan tertutup rapat. Cat hijaunya telah mengelupas di banyak bagian, tetapi gagangnya tampak lebih mengilap dibanding engsel pintunya. Seolah sering disentuh tangan.
Nadia mencoba mengetuk.
Tok. Tok. Tok.
Tidak ada jawaban. Ia menunggu beberapa saat, tapi tetap sunyi. Dengan hati-hati, ia mencoba memutar gagang pintu.
Tidak terkunci.
Pintu terbuka perlahan, menghasilkan bunyi gesekan kayu yang panjang. Udara lembap langsung menyambutnya. Ruang tamu itu remang-remang. Hanya sedikit cahaya yang masuk dari jendela-jendela yang tertutup tirai kusam.
Nadia berdiri di ambang pintu. Naluri jurnalistiknya mengatakan ia seharusnya tidak masuk ke rumah orang tanpa izin. Namun rasa penasarannya jauh lebih besar.
Ia melangkah masuk. Lantai semen terasa dingin. Debu memang menutupi hampir seluruh ruangan, tetapi tidak setebal yang ia bayangkan.
Di atas meja kecil dekat jendela, ia mengusap permukaannya dengan ujung jari. Hanya terbentuk garis tipis. Debunya terlalu sedikit. Rumah kosong selama sepuluh tahun seharusnya jauh lebih kotor daripada ini.
Matanya menyapu seisi ruangan. Sebuah lemari kayu. Jam dinding yang berhenti pada pukul dua lewat tujuh belas menit. Kalender usang yang masih tergantung dengan halaman bulan Oktober, entah tahun berapa.
Tidak ada yang tampak istimewa. Sampai pandangannya berhenti pada sebuah gelas kaca di atas meja. Gelas itu berisi sedikit cairan kecokelatan di dasarnya.
Nadia mendekat. Ada lingkaran tipis bekas teh yang telah mengering di bagian dalam. Ia menyentuh bibir gelas itu. Masih bersih. Tidak ada lapisan debu.
Jantungnya mulai berdetak lebih cepat. Ia mengangkat gelas itu perlahan. Di bawahnya terdapat bekas lingkaran air yang belum sepenuhnya mengering. Seolah-olah gelas itu baru dipindahkan beberapa jam lalu.
Tidak mungkin.
Ia kembali mengambil ponselnya.