Malam Takziah

Marion D'rossi
Chapter #7

Rekaman Pertama

Hujan turun sesaat setelah azan Isya usai berkumandang. Tidak deras, hanya gerimis yang jatuh perlahan di atas genting rumah, menimbulkan bunyi lirih yang berulang-ulang seperti jemari seseorang yang mengetuk meja dengan sabar.

Rumah duka kembali lengang.

Takziah malam ketiga baru saja selesai. Para pelayat berpamitan satu demi satu, menyalami keluarga, lalu menghilang di balik jalan desa yang mulai diselimuti kabut. Beberapa lelaki masih membereskan kursi plastik di halaman, sementara suara Bu Marni dan ibu-ibu lain terdengar samar dari dapur, sibuk mencuci piring terakhir sebelum beristirahat.

Nadia berdiri di ambang teras dengan tatapan yang mengikuti titik-titik hujan yang jatuh ke halaman tanah.

Sejak kembali ke Karangwening, ia mulai kehilangan kemampuan menikmati kesunyian. Setiap kali desa menjadi sunyi, pikirannya justru semakin gaduh.

Lelaki tua yang tak pernah dikenali siapa pun. Rumah Sulastri yang konon sudah kosong selama bertahun-tahun. Foto keluarga yang wajah perempuannya disobek. Tulisan di balik bingkai.

"Jangan biarkan mereka melupakan namaku."

Kalimat itu terus mengendap di kepalanya seperti serpihan kaca yang tak terlihat, tetapi cukup tajam untuk melukai setiap kali ia mencoba mengingatnya.

"Nduk." Raka muncul dari arah halaman sambil memikul dua kursi plastik. "Kamu belum tidur?"

Nadia menggeleng. "Belum ngantuk."

"Jangan dipaksakan begadang." Raka meletakkan kursi-kursi itu di sudut teras.

"Besok masih banyak tamu."

"Aku cuma mau lihat sesuatu sebentar."

Raka mengikuti arah pandang Nadia yang mengarah ke lorong belakang rumah. "Ruang kerja Pak Hadi?"

Nadia mengangguk. "Ada beberapa barang yang belum sempat aku periksa."

Raka tersenyum tipis. "Dulu aku sering penasaran sama ruangan itu." "Pak Hadi enggak pernah ngizinin siapa pun masuk."

"Kamu pernah coba?"

"Pernah."

Raka terkekeh kecil sembari mengingat kenakalan masa kecil.

"Waktu umur dua belas tahun. Baru pegang gagang pintunya saja sudah ketahuan. Malah disuruh menghafal nama-nama pahlawan satu buku penuh."

Nadia ikut tersenyum. "Itu memang gaya Bapak."

"Iya." Raka memandang hujan beberapa saat. "Lucu, ya."

"Apa?"

"Setelah beliau enggak ada, justru kamu yang pertama kali masuk ke ruangan itu."

Nadia tidak menjawab. Tatapannya kembali mengarah ke lorong belakang. Entah mengapa, sejak menemukan ruang kerja itu, ia selalu merasa ayahnya masih berada di dalam sana. Bukan dalam arti yang menakutkan. Lebih seperti seseorang yang sengaja meninggalkan jejak agar dapat ditemukan.

 

Ruang kerja itu tetap dingin meski jendela telah dibuka. Udara malam membawa aroma tanah basah yang menyelinap melalui kisi-kisi kayu. Di atas meja, lampu belajar tua memancarkan cahaya kekuningan yang hanya cukup menerangi sebagian ruangan. Rak-rak buku di sekelilingnya menjulang diam, membentuk bayangan panjang yang bergoyang setiap kali nyala lampu bergetar diterpa angin.

Nadia menutup pintu perlahan. Untuk beberapa saat, ia hanya berdiri memandangi meja ayahnya. Kacamata baca itu masih berada di tempat yang sama. Pulpen yang tintanya hampir habis masih tergeletak di sisi kanan buku harian. Tidak ada satu pun yang berubah, seakan Hadi hanya keluar sebentar, lalu akan kembali melanjutkan pekerjaannya.

Nadia menarik napas panjang sebelum duduk di kursi kayu yang mulai berderit menahan berat tubuhnya. Di hadapannya, tape recorder tua berwarna abu-abu itu masih tergeletak. Bentuknya sudah ketinggalan zaman. Sudut-sudut plastiknya menguning karena dimakan usia. Tombol-tombolnya mulai kusam karena terlalu sering disentuh.

Ia mengangkat alat itu dengan hati-hati. Debu tipis menempel di telapak tangannya. Di sampingnya berjajar dua puluh tujuh kaset. Semuanya diberi label menggunakan tulisan tangan Hadi.

Tidak ada judul dan tidak ada tanggal. Hanya nomor, seperti sengaja disusun layaknya teka-teki.

Nadia mengambil kaset pertama. Pita cokelat di balik plastik beningnya tampak masih utuh. Ia membalik kaset itu beberapa kali. Di bagian belakang terdapat tulisan kecil yang nyaris tak terlihat.

Mulai dari sini.

Jantung Nadia berdegup sedikit lebih cepat. Ia menelan ludah.

Lihat selengkapnya