Malam Takziah

Marion D'rossi
Chapter #8

Bisik-Bisik

Pagi di Karangwening dimulai dengan suara pasar. Bukan suara kendaraan atau klakson seperti yang biasa membangunkan Nadia di Jakarta, tapi riuh percakapan para pedagang, denting timbangan besi, dan suara ayam yang sesekali berkokok dari keranjang anyaman.

Pasar desa hanya buka hingga menjelang siang. Selebihnya, lapak-lapak bambu akan kembali kosong, menyisakan bau sayur, tanah basah, dan dedaunan pisang yang mulai mengering.

"Nduk." Bu Marni meletakkan keranjang anyaman di atas meja dapur. "Gula habis. Santan juga tinggal sedikit."

Nadia yang sedang menyesap teh mengangkat wajah. "Biar aku saja yang beli."

Bu Marni tampak ragu. "Kamu tahu jalannya?"

Nadia tersenyum tipis. "Masih ingat sedikit."

Perempuan tua itu akhirnya mengangguk. "Kalau bingung, tanya saja. Semua orang pasti kenal kamu."

Kalimat terakhir itu terdengar biasa. Namun entah mengapa, Nadia justru mengingat percakapan dengan ayahnya bertahun-tahun lalu.

"Di desa, semua orang saling mengenal."

Dulu ia menganggapnya sebagai bentuk kehangatan. Sekarang kalimat itu terdengar seperti peringatan.

 

Pasar Karangwening tidak banyak berubah. Lapaknya masih berderet mengikuti jalan utama desa. Sebagian besar beratapkan seng tua yang mulai berkarat. Lantainya masih berupa semen kasar yang retak di sana-sini. Di sisi kiri berjajar penjual sayur. Di sisi kanan, pedagang ikan, daging, dan kebutuhan sehari-hari.

Aroma kunyit, daun jeruk, cabai, dan ikan asin bercampur menjadi satu, memenuhi udara pagi. Nadia berjalan perlahan di antara kerumunan. Sesekali beberapa warga menyapanya.

"Nadia, ya?"

"Anaknya Pak Hadi."

"Turut berduka."

Ia membalas dengan senyum sopan. Namun setelah beberapa langkah, ia mulai menyadari sesuatu. Setiap kali ia mendekati sekelompok orang yang sedang mengobrol, percakapan mereka selalu berhenti. Bukan melambat, bukan pula berganti topik, tapi benar-benar berhenti. Sunyi, lalu disusul senyum-senyum canggung.

Seorang ibu yang sedang memilih tomat buru-buru berpamitan kepada temannya. Dua lelaki yang tadi tertawa pelan mendadak membahas harga pupuk. Seorang pedagang bahkan pura-pura sibuk menata dagangannya tanpa lagi menoleh.

Nadia mencoba mengabaikannya. Mungkin hanya perasaannya. Namun kejadian itu terulang lagi. Dan lagi. Hingga untuk ketiga kalinya. Ia baru saja melewati kios beras ketika mendengar seseorang berbisik pelan.

"...anaknya Pak Hadi..."

Suara itu langsung terputus saat Nadia menoleh. Dua perempuan paruh baya yang berdiri di depan kios hanya tersenyum tipis. Tidak satu pun melanjutkan pembicaraan. Nadia meneruskan langkahnya dengan jantung yang mulai berdetak sedikit lebih cepat.

Sebagai jurnalis, ia terbiasa membaca bahasa tubuh orang. Tatapan yang terlalu lama. Jeda dalam percakapan. Senyum yang dipaksakan. Semuanya memiliki arti. Dan pagi itu, hampir seluruh pasar memperlakukannya dengan cara yang sama. Seolah ada sesuatu yang mereka ketahui, tetapi tidak ingin Nadia mendengarnya.

 

"Silakan, Mbak." Penjual kelapa menyerahkan dua butir kelapa tua ke atas meja.

Nadia mengangguk sambil mengeluarkan dompet. "Berapa, Pak?"

"Empat puluh."

Saat ia menyerahkan uang, pandangannya tanpa sengaja jatuh pada koran bekas yang digunakan sebagai alas dagangan. Di salah satu sudutnya terdapat foto lama hitam putih, memperlihatkan beberapa orang berdiri di depan balai desa.

Nadia hanya sempat melihat sekilas. Namun salah satu wajah di foto itu terasa sangat dikenalnya.

Hadi.

Ia spontan mengambil koran tersebut. "Pak, boleh saya lihat sebentar?"

Penjual kelapa tampak bingung. "Oh... itu?"

"Iya."

Belum sempat Nadia membuka lipatan koran, lelaki itu buru-buru menariknya kembali. "Kertas bungkus saja, Mbak."

"Saya mau lihat fotonya."

"Enggak penting."

Lihat selengkapnya