Malam itu hujan kembali turun. Bukan hujan deras yang mengguyur tanpa jeda, melainkan gerimis panjang yang membasahi atap rumah dengan bunyi lirih dan monoton. Dari ruang tamu, suara para pelayat yang baru saja berpamitan perlahan menghilang bersama langkah kaki mereka di jalan desa yang gelap.
Rumah kembali lengang. Hanya sesekali terdengar suara kayu memuai diterpa udara malam atau desir angin yang menyelinap melalui celah-celah jendela tua.
Nadia menutup pintu ruang kerja ayahnya hingga terdengar bunyi klik yang pelan. Ruangan itu kini terasa semakin akrab.
Aroma kertas tua, kayu jati, dan debu yang selama bertahun-tahun memenuhi tempat itu mulai melekat di ingatannya. Sejak menemukan buku harian dan rekaman pertama Hadi, Nadia merasa seolah sedang memasuki kehidupan lain milik ayahnya, kehidupan yang selama ini sengaja disembunyikan darinya.
Lampu meja dinyalakan. Cahayanya yang redup membentuk lingkaran kecil di atas permukaan meja, sementara sudut-sudut ruangan tetap tenggelam dalam bayangan.
Nadia meletakkan buku harian bersampul hitam di hadapannya. Di sampingnya telah tersedia buku catatan kecil, pulpen, serta telepon genggam yang kini terisi penuh setelah ia mengecasnya sejak sore.
Ia menarik napas panjang. "Kalau memang Bapak sengaja menyusun semuanya seperti teka-teki...," gumamnya pelan, "aku harus berhenti membacanya seperti buku."
Ia kembali teringat pesan dalam rekaman pertama.
"Jangan pernah membacanya dari awal sampai akhir."
Artinya, jawaban mungkin tersembunyi di tempat yang tidak berurutan. Dengan hati-hati, Nadia membuka bagian tengah buku. Beberapa halaman hanya berisi catatan tentang sejarah desa. Sebagian lain memuat sketsa sederhana, peta, dan potongan-potongan nama yang belum ia kenali.
Ia terus membalik halaman demi halaman. Sampai jemarinya berhenti. Di halaman sebelah kanan terdapat sebuah daftar. Bukan narasi dan catatan, tapi dua belas nama yang ditulis menggunakan tinta hitam pekat.
Semuanya disusun vertikal tanpa nomor atau keterangan. Hanya nama. Dan nama pertama membuat napas Nadia tertahan.
“Sulastri”.
Ia membaca ulang. Tidak salah. Benar-benar tertulis Sulastri.
Nama kedua.
“Arif Wibowo”.
Nama ketiga.
“Darmin”.
Lalu Ratna, Marto, Yuni, dan beberapa nama lain yang sama sekali tidak dikenalnya.
Tidak ada penjelasan siapa mereka. Tidak ada tanggal. Tidak ada hubungan antarnama tersebut. Hanya sebuah tanda kecil berbentuk lingkaran di samping masing-masing nama.
Nadia segera meraih buku catatannya. Ia mulai menyalin seluruh daftar itu dengan cepat. Kebiasaan lama saat meliput kembali bekerja secara otomatis.
Jangan pernah bergantung pada satu bukti. Selalu buat salinan.
Setelah selesai, ia mengambil telepon genggam.
Klik.
Satu foto.
Klik.
Dua foto.
Ia memperbesar hasil jepretan. Tulisan tangan Hadi terlihat sangat jelas.
Lega. Setidaknya kini ia memiliki salinan digital. Nadia kembali memandangi daftar nama itu.
Sulastri, Arif.
Nama Arif membuatnya berpikir. Ia belum pernah bertemu siapa pun bernama Arif sejak pulang ke desa. Mengapa nama itu sudah ada di buku harian? Apakah ayahnya telah mengetahui sesuatu sebelum meninggal? Ataukah daftar itu memang dibuat jauh sebelum semua kejadian ini berlangsung?