Hari keempat setelah kematian Hadi Prasetyo dimulai dengan langit yang cerah. Kabut yang biasanya menggantung di atas persawahan menghilang lebih cepat dari hari-hari sebelumnya. Cahaya matahari menimpa dedaunan yang masih basah oleh embun, membuat seluruh Desa Karangwening tampak tenang, nyaris damai. Seolah desa itu sedang berusaha meyakinkan siapa pun bahwa tidak ada sesuatu yang ganjil pernah terjadi. Namun bagi Nadia, kedamaian itu justru terasa mencurigakan.
Ia duduk sendirian di ruang kerja ayahnya, menatap dua benda yang sejak beberapa hari terakhir tak pernah jauh darinya. Buku harian bersampul hitam, dan buku catatan kecil miliknya. Halaman yang semalam dipenuhi nama Sulastri kini hampir bersih. Bekas tintanya masih dapat dikenali jika diterpa cahaya dari sudut tertentu, tetapi bagi mata biasa, halaman itu tampak kosong seperti halaman yang belum pernah ditulisi.
Nadia mengusap wajahnya perlahan. Tidur semalam tidak membuat pikirannya lebih jernih. Sebaliknya, ia justru semakin yakin bahwa apa yang sedang terjadi tidak mungkin dijelaskan hanya dengan logika. Namun satu hal masih membuatnya bertahan, semua kejadian selalu mengikuti pola. Dan jika sebuah peristiwa memiliki pola, maka pola itu bisa dipelajari.
Ia menarik sebuah buku tulis baru dari laci meja. Di halaman pertama ia menuliskan sebuah judul.
CATATAN PENYELIDIKAN
Di bawahnya, ia membuat beberapa poin.
Korban pertama yang kuingat: Sulastri.
Hadir pada malam kedua takziah, berbicara denganku cukup lama, keesokan harinya seluruh warga lupa. Bukti fisik ikut berubah. Nama menghilang dari buku harian.
Nadia berhenti menulis. Ujung pulpennya mengetuk pelan permukaan meja. Kalau semua itu benar, berarti malam ini mungkin akan terjadi lagi.
Ia menatap kalender kecil yang tergantung di dinding.
Hari keempat.
Masih tersisa tiga malam takziah. Entah mengapa, perasaannya mengatakan bahwa semuanya akan semakin buruk.
Menjelang sore, Nadia mulai mempersiapkan sesuatu. Ia mengisi penuh baterai telepon genggamnya. Mengosongkan ruang penyimpanan. Membawa buku catatan, pulpen, dan sebuah power bank ke dalam tas selempang.
Raka yang melihat kesibukannya hanya mengangkat sebelah alis. "Mau liputan?"
Nadia tersenyum tipis. "Kurang lebih."
"Liputan apa?"
"Takziah."
Raka terkekeh. "Kamu enggak bisa berhenti jadi wartawan, ya?"
"Bukan wartawan."
Nadia membetulkan tali tasnya. "Kalau aku enggak mulai mencatat semuanya, aku takut nanti aku juga mulai lupa."
Kalimat itu membuat senyum Raka perlahan memudar. Ia memandang Nadia cukup lama. "Lupa apa?"
Nadia menggeleng. "Semoga saja aku salah."
Takziah malam keempat dimulai setelah azan Magrib. Satu demi satu warga mulai berdatangan. Sebagian membawa beras, sebagian membawa buah, sebagian lagi hanya datang untuk membaca doa bersama seperti malam-malam sebelumnya. Namun kali ini Nadia tidak lagi larut dalam suasana. Ia mengamati.
Setiap tamu yang datang, disambutnya sambil memperkenalkan diri. Nama mereka ditanyakan dengan santai, usia kira-kira, hubungan dengan ayahnya, semua dicatat.
"Pak Junaidi," tulis Nadia. "Lima puluh sembilan tahun. Tetangga."
Klik.
Satu foto.
"Ibu Warsini. Sepupu jauh."
Klik.
Foto kedua.
Beberapa orang sempat heran melihat Nadia sibuk memotret. Namun ia beralasan bahwa keluarga ingin menyimpan dokumentasi selama masa takziah. Tidak ada yang curiga.
Sekitar satu jam kemudian, halaman rumah mulai penuh. Suara tahlil menggema dari ruang tamu. Nadia berdiri di dekat pintu sambil sesekali merekam video pendek. Ia memastikan setiap wajah masuk ke dalam gambar. Tidak boleh ada yang terlewat.
Di tengah kesibukan itu, seorang pemuda menghampirinya sambil memanggul tiga kursi plastik sekaligus.
"Taruh di mana, Mbak?"
Nadia menoleh. Pemuda itu berusia sekitar dua puluh lima tahun. Tubuhnya tinggi, kulitnya legam terbakar matahari, lengan bajunya digulung hingga siku, memperlihatkan otot yang terbentuk karena pekerjaan fisik. Wajahnya sederhana, tetapi senyumnya terasa hangat.
"Di teras saja."
"Oh, baik." Pemuda itu mengangkat kursi-kursi tersebut seolah tidak memiliki beban. Gerakannya cekatan karena terbiasa membantu.
Setelah selesai, ia kembali menghampiri Nadia. "Mbak Nadia, kan?"
Nadia mengangguk. "Kita pernah ketemu?"