Malam Takziah

Marion D'rossi
Chapter #11

Peta Tak Lengkap

Pagi kelima setelah kematian Hadi Prasetyo datang bersama kabut yang lebih tebal daripada hari-hari sebelumnya. Dari balik jendela ruang kerja, Nadia memandang hamparan sawah yang perlahan muncul dari balik selimut putih. Matahari belum sepenuhnya naik, cahaya pucatnya hanya mampu menggores tipis permukaan embun yang menggantung di ujung-ujung daun padi. Desa Karangwening tampak seperti sedang bersembunyi. Sunyi. Diam. Dan entah mengapa, semakin hari semakin terasa asing.

Nadia menarik napas panjang sebelum menutup kembali daun jendela. Ruangan itu kini menjadi satu-satunya tempat yang masih memberinya rasa aman. Di luar sana, kenyataan berubah sedikit demi sedikit. Orang-orang menghilang, foto-foto kehilangan wajah, tulisan memudar tanpa sebab. Namun di dalam ruang kerja ini, seolah waktu berhenti tepat pada hari terakhir ayahnya masih hidup.

Buku-buku tetap berada di tempat yang sama. Tape recorder tua masih tergeletak di sudut meja. Kacamata baca Hadi masih dilipat rapi di atas setumpuk map cokelat. Dan di dinding sebelah timur, peta besar Desa Karangwening masih tergantung, nyaris memenuhi seluruh bidang tembok.

Baru kali ini Nadia benar-benar memperhatikannya. Selama beberapa hari terakhir, pikirannya terlalu sibuk pada buku harian dan rekaman kaset hingga mengabaikan peta tersebut. Padahal, sejak pertama kali membuka ruang kerja ini, ia sudah melihat ada sesuatu yang ganjil.

Ia berdiri mendekat. Peta itu bukan peta cetakan biasa. Bahannya berupa kertas linen yang mulai menguning di bagian tepi. Beberapa lipatan telah retak dimakan usia. Namun yang membuatnya berbeda adalah puluhan garis merah yang ditorehkan menggunakan tinta. Tidak lurus dan tidak acak. Namun saling menghubungkan titik-titik tertentu.

Nadia mengambil kursi kayu, lalu berdiri di atasnya agar dapat melihat lebih jelas. Di sudut kiri atas, terdapat tulisan tangan Hadi.

"Jangan melihat tempatnya. Lihat hubungan antartempat."

Nadia membaca kalimat itu dua kali. Kemudian matanya mengikuti salah satu garis merah. Titik pertama berada tepat di rumah Hadi. Dari sana, garis itu memanjang menuju balai desa, lalu berbelok ke arah pemakaman, turun melewati jalan utama, dan berakhir di sebuah gambar pohon besar yang diberi lingkaran hitam.

Pohon beringin, tempat pertama kali Nadia melihat lelaki tua misterius pada malam kedatangannya.

Ia menelusuri garis berikutnya. Kali ini garis itu menghubungkan rumah Hadi dengan sebuah rumah kecil di tepi sungai. Di sampingnya terdapat tulisan tangan yang mulai memudar.

Sulastri.

Nadia menahan napas. Rumah itu, rumah tua yang menurut seluruh warga telah kosong bertahun-tahun. Ayahnya ternyata mengetahui keberadaan rumah tersebut. Bahkan menandainya secara khusus di peta.

"Berarti...," gumam Nadia lirih, "Bapak memang mengenalnya."

Ia mengambil buku catatan penyelidikannya. Membuat sketsa sederhana dari peta itu.

Rumah Hadi, rumah Sulastri, balai desa, pemakaman, pohon beringin. Semuanya saling terhubung. Namun masih ada satu garis merah yang memanjang jauh ke arah barat laut desa. Garis itu melewati persawahan, menembus area yang diberi warna hijau tua.

Hutan.

Di ujungnya terdapat sebuah lingkaran kecil. Di samping lingkaran itu tertulis nama yang belum pernah didengar Nadia sebelumnya.

“Sendang Watu Ireng”.

Ia mengernyit. Sendang? Sebagai anak yang lahir dan besar di desa, Nadia tahu arti kata itu. Mata air, tetapi Watu Ireng?

Ia mencoba mengingat-ingat. Selama lima belas tahun tinggal di Karangwening, ia tidak pernah mendengar nama tempat tersebut. Tidak dari ayahnya, tidak juga dari teman-teman masa kecilnya. Bahkan tidak pernah muncul dalam pelajaran muatan lokal di sekolah.

Aneh.

Kalau tempat itu memang ada, mengapa ia sama sekali tidak mengingatnya? Nadia segera membuka laci meja, mencari atlas lama yang sempat dilihat beberapa hari lalu. Setelah beberapa menit membongkar tumpukan buku, akhirnya ia menemukan sebuah peta administrasi kecamatan yang diterbitkan sekitar dua puluh tahun lalu. Ia membandingkannya dengan peta milik sang ayah.

Jalan utama masih sama, aliran sungai tidak berubah, letak sawah hampir identik. Namun area hutan di sebelah barat hanya digambarkan sebagai hamparan hijau tanpa satu pun penanda. Tidak ada Sendang Watu Ireng.

Ia pun membuka peta lain yang lebih baru, dan hasilnya tetap sama. Nama itu tidak tercantum di mana pun.

Nadia kembali menatap peta peninggalan Hadi. Jemarinya menyentuh lingkaran kecil bertuliskan Sendang Watu Ireng. Tinta merah di sekelilingnya tampak jauh lebih tebal daripada garis-garis lain. Seolah ayahnya berkali-kali mempertegas lokasi tersebut. Di bawah lingkaran itu, Hadi bahkan memberi tiga garis pendek sebagai penanda. Kebiasaan lama yang sering digunakan saat mengoreksi tugas murid.

Artinya, tempat itu penting. Bahkan sangat penting.

Tepat ketika Nadia hendak menyalin letaknya ke buku catatan, terdengar suara ketukan pelan dari luar pintu.

Tok. Tok. Tok.

"Nduk?" Suara Bu Marni terdengar lirih.

"Kamu di dalam?"

Lihat selengkapnya