Hujan yang turun semalam menyisakan aroma tanah basah di seluruh penjuru Karangwening. Pagi itu langit tampak lebih cerah, tetapi udara masih menyimpan dingin yang meresap hingga ke sela-sela jemari. Dari kejauhan terdengar suara burung-burung pipit yang beterbangan di atas pematang sawah, sementara embun masih menggantung di ujung daun-daun pisang yang tumbuh rapat di belakang rumah Hadi.
Nadia duduk di anak tangga teras sambil memegang secangkir kopi yang mulai kehilangan uapnya. Buku catatan penyelidikannya terbuka di pangkuan. Beberapa halaman pertama telah dipenuhi tulisan tangan yang semakin lama semakin rapat.
Nama-nama, tanggal, sketsa peta, potongan kalimat dari rekaman ayahnya. Di sudut halaman terakhir, ia menggambar sebuah lingkaran kecil, lalu menuliskan tiga kata di dalamnya.
“Sendang Watu Ireng”.
Ia menghubungkan lingkaran itu dengan garis menuju rumah Hadi, rumah Sulastri, balai desa, dan pohon beringin. Semakin diperhatikan, semakin terasa bahwa semua petunjuk mengarah ke tempat yang bahkan tidak diakui keberadaannya oleh warga.
"Nduk." Bu Marni keluar dari dapur membawa sapu lidi. "Melamun lagi?"
Nadia tersenyum tipis. "Lagi mikir."
"Mikir terus nanti cepat tua." Perempuan tua itu tertawa kecil sebelum mulai menyapu halaman. Daun-daun mangga yang berguguran terkumpul perlahan menjadi satu gundukan. Suara sapu yang bergesekan dengan tanah terdengar berirama. Menenangkan.
Untuk sesaat, Nadia membiarkan dirinya menikmati pagi tanpa memikirkan buku harian ayahnya atau nama-nama yang terus menghilang. Namun ketenangan itu tidak bertahan lama. Samar-samar ia mendengar suara anak-anak. Terdengar dari jalan kecil di depan rumah.
Beberapa bocah berseragam SD berjalan beriringan sambil membawa tas yang hampir sebesar tubuh mereka. Ada yang berlarian, ada yang saling mengejek, ada pula yang sibuk memainkan ranting pohon seolah itu pedang.
Tatapan Nadia mengikuti mereka tanpa sadar. Sampai matanya berhenti pada seorang anak laki-laki yang berdiri sedikit terpisah dari rombongan. Tubuhnya kurus, kulitnya sawo matang. Seragam putih-merah yang dikenakannya tampak sedikit kebesaran dengan ujung lengan yang harus dilipat dua kali.
Anak itu tidak ikut bercanda. Ia hanya berdiri sambil memandangi rumah Hadi. Tatapan mereka bertemu. Nadia pun mengenali wajah itu. Anak yang beberapa hari lalu hampir mengatakan sesuatu sebelum ibunya menariknya pulang dengan tergesa.
Anak itulah yang sempat berkata, "Pak Hadi bilang...."
Lalu dipotong sebelum sempat menyelesaikan kalimatnya.
"Nak." Nadia berdiri perlahan. Anak itu tidak lari. Ia justru mendekat beberapa langkah. "Namamu siapa?"
"Dimas."
Suaranya pelan seperti hampir berbisik.
Nadia tersenyum. "Kamu sekolah?"
Dimas mengangguk. "Kelas dua."
"Sendiri?"
"Teman-teman sudah jalan lebih dulu."
Anak itu menjawab tanpa mengalihkan pandangan. Ada sesuatu pada sorot matanya yang membuat Nadia merasa sedang berbicara dengan anak yang lebih dewasa daripada usianya.
"Kamu kenal Pak Hadi?"
Dimas kembali mengangguk. "Pak Guru sering kasih buku."
Nadia tersenyum tipis. "Itu memang Bapak."
Beberapa detik berlalu dalam diam, angin menggerakkan dedaunan mangga di atas kepala mereka. Dari kejauhan terdengar lonceng sepeda seseorang yang melintas menuju sawah.
"Kemarin...," Nadia memulai dengan hati-hati, "kamu mau bilang sesuatu."
Dimas menundukkan kepala. Ujung sepatunya menggesek tanah pelan. "Ibu bilang enggak boleh."
"Kenapa?"
"Katanya nanti dimarahin."
"Oleh siapa?"
Anak itu mengangkat bahu. "Enggak tahu."
Jawaban itu membuat Nadia mengerutkan dahi. Anak seusia delapan tahun biasanya belum pandai menyembunyikan sesuatu. Kalau Dimas berkata ia tidak tahu, kemungkinan besar memang tidak tahu.
Nadia berjongkok agar tinggi mereka sejajar. "Kalau cuma ngobrol sama Kak Nadia, boleh, kan?"
Dimas tampak ragu. Matanya beberapa kali menoleh ke arah jalan, memastikan tidak ada orang dewasa yang mendengar. Lalu, dengan suara yang sangat pelan, ia berkata, "Aku masih ingat Bu Sulastri."
Tubuh Nadia menegang. "Kamu kenal Bu Sulastri?"
"Iya. Sering ke rumah."
"Rumah siapa?"
"Rumahku."