Malam Takziah

Marion D'rossi
Chapter #13

Sumur yang Disegel

Sejak Dimas memberikannya kelereng sore tadi, Nadia telah berkali-kali mengeluarkannya hanya untuk memastikan bahwa gulungan kertas kecil di dalamnya benar-benar ada. Cahaya yang menembus kaca bening itu selalu memperlihatkan dua kata yang sama.

SUMUR TUA.

Tidak ada nama atau petunjuk lain. Hanya dua kata yang terasa seperti undangan. Atau mungkin lebih kepada peringatan.

Nadia berdiri di depan jendela ruang kerja ayahnya sambil memutar-mutar kelereng itu di antara jemarinya. Di luar, halaman rumah mulai ramai oleh warga yang datang membantu persiapan takziah malam keenam. Suara mereka terdengar samar, bercampur dengan bunyi alu yang menumbuk bumbu dari dapur belakang.

Ia membuka kembali buku catatan penyelidikannya. Di bawah tulisan Sendang Watu Ireng, kini ia menambahkan satu lingkaran baru. Sumur Tua. Ia lalu menarik garis yang menghubungkan keduanya. Belum ada alasan yang kuat mengapa kedua tempat itu saling berkaitan. Namun selama beberapa hari terakhir, Nadia belajar satu hal dari ayahnya bahwa tidak ada petunjuk yang muncul secara kebetulan.

 

"Nduk." Bu Marni muncul di ambang pintu. "Kamu dicari Raka."

"Ada apa?"

"Katanya mau minta tolong angkat terpal."

Nadia menutup buku catatannya. "Baik, Bu." Ia menyimpan kelereng itu ke dalam saku sebelum keluar.

Halaman rumah mulai dipenuhi aktivitas. Beberapa lelaki membentangkan terpal tambahan karena langit kembali memperlihatkan awan-awan kelabu. Di dapur, aroma santan dan serai memenuhi udara.

Raka sedang berdiri di atas bangku kayu sambil mengikat tali terpal ke batang mangga.

"Nad. Tolong pegang ujung sana."

Nadia membantu tanpa banyak bicara. Beberapa menit kemudian pekerjaan mereka pun selesai. Raka turun sambil mengusap keringat di dahinya.

"Makasih."

Nadia mengangguk. "Mas."

"Hm?"

"Aku mau tanya."

"Soal apa?"

"Di belakang kebun bambu...," Nadia memilih kata-katanya dengan hati-hati, "ada sumur tua?"

Raka tampak berpikir sejenak. "Sumur?"

"Iya."

"Yang sudah ditutup?" Pemuda itu mengangguk pelan. "Ada."

Nadia menatapnya dengan jantung berdetak sedikit lebih cepat. "Mas tahu tempatnya?"

"Tahu. Kenapa?"

"Enggak kenapa-kenapa." Nadia berusaha terdengar santai. "Cuma penasaran."

Raka mengambil sebotol air mineral sebelum menjawab. "Sudah lama ditutup. Dulu katanya longsor. Berbahaya."

"Sejak kapan?"

"Lupa."

Jawaban itu membuat Nadia mengernyit.

"Lupa?"

"Iya."

"Waktu aku masih kecil, kayaknya sudah ditutup. Tapi...." Raka mengangkat bahu. "Aku juga enggak pernah ke sana."

Nadia memperhatikan wajahnya. Tidak tampak seperti sedang berbohong. Namun beberapa kali sejak kepulangannya, ia mulai menyadari bahwa ada perbedaan antara berbohong dan tidak lagi mengingat. Dan keduanya sama-sama sulit dibedakan.

 

Setelah makan siang, Nadia memutuskan berangkat. Ia tidak memberi tahu siapa pun selain Bu Marni.

Lihat selengkapnya