Malam Takziah

Marion D'rossi
Chapter #14

Kaset Kedua

Malam itu, Nadia tidak langsung kembali ke rumah setelah mendengar suara yang memanggil namanya dari sumur tua. Ia berdiri cukup lama di tepi lingkaran semen itu, membiarkan senter di tangannya menyapu permukaan yang retak-retak. Cahaya putih itu bergerak perlahan, mengikuti setiap guratan yang dibuat usia, seolah berharap menemukan celah yang dapat menjelaskan dari mana suara itu berasal.

Tidak ada.

Hanya semen yang telah mengeras, lumut yang tumbuh di sela-sela retakan, dan bayangan rumpun bambu yang bergoyang pelan diterpa angin malam.

"Nadia...."

Suara itu tidak terdengar lagi. Yang tersisa hanya desir dedaunan dan detak jantungnya sendiri yang terasa terlalu keras di telinga. Dengan langkah perlahan, ia mundur beberapa meter, mencoba berpikir sebagai seorang jurnalis, bukan sebagai perempuan yang sedang dikepung rasa takut.

Suara bisa memantul, angin dapat membawa gema, barangkali seseorang sedang mempermainkannya. Namun, semakin ia mencoba mencari penjelasan yang masuk akal, semakin jelas pula bahwa tidak ada rumah di sekitar kebun bambu. Tidak ada siapa pun yang mungkin bersembunyi di balik semak-semak pada larut malam hanya untuk memanggil namanya.

Nama lengkapnya, bahkan. Seseorang—atau sesuatu—di tempat itu mengenalnya.

 

Ketika Nadia tiba di rumah, hampir semua lampu telah dipadamkan. Takziah malam keenam telah usai lebih dari satu jam lalu. Kursi-kursi plastik ditumpuk di sudut halaman. Sisa aroma kopi dan teh masih menggantung di udara, bercampur dengan bau tanah yang kembali basah setelah gerimis tipis turun menjelang tengah malam.

Ia membuka pintu belakang tanpa suara. Berjalan perlahan melewati dapur agar tidak membangunkan Bu Marni yang telah tertidur di kamar samping. Namun langkahnya tidak menuju kamar, tapi ke lorong sempit yang mengarah ke ruang kerja Hadi. Entah mengapa, setiap kali menemukan sesuatu yang tidak mampu dipahaminya, tempat pertama yang ingin ia datangi selalu ruangan itu. Seolah ayahnya masih menunggu di balik meja kayu, siap menjelaskan semuanya.

Nadia menyalakan lampu meja. Cahayanya yang kekuningan kembali memenuhi sudut ruangan. Tape recorder tua masih berada di tempatnya. Di sampingnya, dua puluh enam kaset lain berjajar rapi di dalam kotak kayu.

Kaset pertama masih terbuka. Cangkangnya terpisah setelah ia membongkar bagian pita yang sengaja dipotong seseorang beberapa malam lalu. Ia memandangi kaset itu cukup lama. Potongan pita yang hilang masih menjadi pertanyaan. Apa sebenarnya yang telah dihapus? Mengapa bagian itu begitu penting hingga seseorang rela membongkar rekaman peninggalan Hadi?

Nadia menggeleng pelan. Ia belum akan menemukan jawabannya malam ini. Perlahan, tangannya beralih ke kaset berikutnya. Label putih kecil di sudutnya bertuliskan satu kalimat sederhana.

Rekaman 02.

Tidak ada tanggal dan tidak ada penjelasan. Sama seperti kaset pertama. Namun kali ini Nadia memeriksanya lebih teliti. Ia membalik kaset itu ke arah cahaya lampu. Memeriksa setiap sudut plastik beningnya. Tidak ada bekas sekrup yang pernah dibuka. Tidak ada sambungan selotip pada pita. Warnanya masih utuh.

Ia membuka penutup tape recorder, dengan hati-hati memasukkan kaset tersebut. Sebelum menekan tombol play, ia mengambil buku catatan penyelidikannya.

Halaman baru dan pulpen baru. Telepon genggam diletakkan di samping sebagai alat perekam cadangan. Setelah pengalaman pada kaset pertama, Nadia tidak ingin kehilangan satu kata pun.

Ia menarik napas panjang, lalu menekan tombol itu.

Klik.

Roda-roda kecil di dalam tape recorder mulai berputar perlahan. Desis khas pita tua memenuhi ruangan. Lebih lama dibanding rekaman pertama. Hampir tiga puluh detik hanya berisi suara kosong, lalu terdengar bunyi kursi digeser, disusul helaan napas yang sangat dikenalnya. Suara Hadi, kali ini terdengar lebih lelah dan berat. Seolah rekaman ini dibuat setelah berhari-hari tidak tidur dengan tenang.

"Kalau kamu sudah sampai pada kaset kedua...." Suara itu berhenti sesaat. Di latar belakang terdengar bunyi hujan. Persis seperti malam ini. "Berarti kamu tidak menyerah."

Nadia menundukkan kepala. Ada sesuatu yang menghangat di dadanya. Sudah lama sekali ia tidak mendengar ayahnya berbicara sepanjang ini. Meski hanya melalui pita kaset tua.

"Aku berharap sebenarnya kamu tidak pernah mendengarkan rekaman ini. Karena kalau sampai kamu mendengarnya, itu berarti semuanya berjalan persis seperti yang kutakutkan."

Nadia menggenggam pulpen lebih erat. Hadi kembali terdiam beberapa detik seakan sedang memilih dari mana ia harus memulai cerita. Ketika suaranya terdengar lagi, nadanya berubah. Tidak lagi seperti seorang ayah yang sedang berbicara kepada anaknya. Lebih seperti seorang guru yang sedang membuka pelajaran paling sulit dalam hidupnya.

"Semua ini tidak dimulai ketika aku tua. Tidak dimulai ketika kamu lahir. Bahkan tidak dimulai ketika desa ini bernama Karangwening."

Nadia spontan mengangkat wajah. Jantungnya berdetak lebih cepat. Ayahnya menyebut nama desa. Berarti semua temuan tentang peta, perubahan nama desa, dan Sendang Watu Ireng memang saling berkaitan.

Lihat selengkapnya