Malam Takziah

Marion D'rossi
Chapter #15

Arsip Kecamatan

Pagi itu, Karangwening diselimuti kabut lebih lama dari biasanya. Kabut tipis menggantung di atas pematang sawah, menutupi batas antara jalan desa dan hamparan padi yang mulai menguning. Dari kejauhan, suara mesin penggiling padi terdengar samar, bercampur dengan kokok ayam yang datang bersahut-sahutan dari halaman rumah penduduk.

Nadia sudah bersiap sejak selepas Subuh. Tas selempangnya terisi lebih penuh daripada hari-hari sebelumnya. Buku catatan penyelidikan, kamera peninggalan Hadi, telepon genggam, beberapa salinan foto, dan sebuah map cokelat berisi sketsa peta yang semalam ia buat dari peta tua milik ayahnya.

Di halaman pertama buku catatannya, ia menulis tujuan hari itu.

Mencari bukti di luar Karangwening.

Ia menatap tulisan itu beberapa saat. Selama hampir dua minggu terakhir, seluruh penyelidikannya berputar di desa yang sama, orang-orang yang sama, jawaban yang sama.

"Lupa."

"Tidak pernah ada."

"Salah ingat."

Kalau seluruh desa telah kehilangan ingatan yang sama, mungkin jawabannya justru berada di luar desa.

 

"Jadi, kamu benar-benar mau ke kecamatan?" Raka berdiri di samping sepeda motornya sambil mengenakan jaket lusuh berwarna cokelat.

Nadia mengangguk. "Aku mau lihat arsip."

Raka memasang wajah ragu. "Masih ada, ya?"

"Itu yang mau aku cari tahu."

Pemuda itu menghela napas. "Kecamatan lumayan jauh. Nanti aku antar."

Nadia sempat ingin menolak. Namun perjalanan menuju kantor kecamatan memerlukan waktu hampir empat puluh menit dengan sepeda motor. Menolak bantuan Raka hanya akan memperlambat penyelidikannya.

"Terima kasih."

Raka hanya mengangguk. Beberapa menit kemudian mereka meninggalkan Karangwening. Motor melaju menyusuri jalan sempit yang membelah sawah. Udara pagi terasa dingin menusuk wajah. Sesekali mereka melewati petani yang baru turun ke ladang, anak-anak berseragam sekolah, dan truk pengangkut hasil panen yang bergerak lambat.

Semakin jauh dari desa, jalan mulai ramai. Deretan rumah berganti menjadi pertokoan kecil. Warung, bengkel, apotek, lalu kantor-kantor pemerintahan kecamatan yang berjajar di sisi jalan utama.

Kantor kecamatan tampak seperti bangunan yang tidak banyak berubah sejak dua puluh tahun lalu. Dindingnya dicat krem. Beberapa bagian mulai kusam. Pohon trembesi besar menaungi halaman parkir yang dipenuhi kendaraan pegawai.

"Aku tunggu di luar," kata Raka.

"Enggak ikut?"

"Takut bosan."

Nadia tersenyum kecil. "Enggak bakal lama."

Padahal ia sendiri tidak yakin.

 

Begitu memasuki gedung utama, aroma kertas tua dan pendingin ruangan langsung menyambutnya. Suasananya tenang. Beberapa pegawai sibuk mengetik di depan komputer. Seorang perempuan muda di meja informasi mengangkat wajah.

"Selamat pagi."

"Pagi. Saya mau mencari arsip kependudukan lama."

Perempuan itu tampak berpikir. "Tahun berapa?"

"Sekitar tiga puluh tahun lalu, atau lebih."

Pegawai tersebut membuka komputer. Jarinya bergerak cepat di atas papan ketik. Beberapa saat kemudian ia menggeleng pelan. "Kalau data digital kami cuma punya sampai dua puluh tahun terakhir."

"Kalau arsip fisik?"

"Sebentar." Ia bangkit, lalu menghilang ke ruangan belakang.

Nadia menunggu. Beberapa menit kemudian perempuan itu kembali bersama seorang lelaki berusia sekitar lima puluh tahun yang mengenakan seragam khaki.

"Bisa saya bantu?" tanyanya ramah.

Nadia menjelaskan maksud kedatangannya. Ia tidak menceritakan seluruh penyelidikan. Hanya mengatakan bahwa ia sedang menyusun riwayat keluarga dan membutuhkan data lama mengenai Desa Karangwening.

Lelaki itu mengangguk pelan. "Lima belas tahun lalu...," katanya, "gedung arsip lama sempat terbakar."

Nadia menahan napas. "Terbakar?"

Lihat selengkapnya