Perjalanan pulang dari kantor kecamatan terasa lebih panjang daripada saat berangkat. Nadia duduk di belakang Raka tanpa banyak bicara. Motor yang mereka tumpangi melaju perlahan membelah jalan kabupaten yang mulai lengang menjelang sore. Di kanan kiri, hamparan sawah membentang sejauh mata memandang. Bulir-bulir padi yang menguning bergoyang pelan diterpa angin, membentuk gelombang yang bergerak tenang di bawah langit kelabu.
Biasanya, pemandangan seperti itu selalu berhasil menenangkan pikirannya. Hari ini tidak. Pikirannya justru dipenuhi satu nama yang terus berputar tanpa henti.
Karanganyar.
Nama itu kini bukan lagi sekadar dugaan yang muncul dalam catatan Hadi. Ia telah melihatnya sendiri, tercetak pada dokumen kependudukan, tertulis di dalam berita koran, bahkan terpampang jelas pada papan desa dalam sebuah foto lama.
Semuanya sepakat pada satu hal. Desa tempat ia dilahirkan dahulu bukan bernama Karangwening, tapi Karanganyar. Lalu, kapan nama itu berubah? Dan mengapa tidak seorang pun mengingatnya?
Motor melambat ketika memasuki gerbang desa. Papan bertuliskan "Selamat Datang di Desa Karangwening" berdiri kokoh di sisi jalan. Cat hijaunya masih tampak baru, seolah papan itu belum lama dipasang.
Tatapan Nadia tertahan beberapa saat. Ia membayangkan papan lain pernah berdiri di tempat yang sama, dengan nama berbeda, dengan sejarah yang kini seolah telah dihapus dari ingatan semua orang.
"Kenapa?" Suara Raka membuyarkan lamunannya. "Kamu lihat apa?"
Nadia menggeleng pelan. "Enggak."
Motor kembali melaju. Namun sejak melewati papan itu, Nadia merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan. Ada perasaan seolah ia sedang memasuki sebuah tempat yang menggunakan nama orang lain.
Menjelang magrib, rumah Hadi kembali dipenuhi kesibukan. Takziah memasuki malam ketujuh.
Meski jumlah pelayat mulai berkurang, beberapa warga tetap datang membantu menata kursi, menyiapkan hidangan, atau sekadar duduk menemani keluarga yang ditinggalkan. Nadia membantu Bu Marni menyusun gelas di dapur. Pekerjaan sederhana itu memberinya kesempatan untuk mengamati para tamu tanpa terlihat mencurigakan.
Sejak beberapa hari terakhir, ia mulai memperhatikan satu hal. Orang-orang di Karangwening tampak begitu mudah berbicara tentang masa depan, tentang panen berikutnya, tentang anak yang akan masuk sekolah, tentang rencana membangun jalan baru. Namun setiap kali pembicaraan bergeser ke masa lalu, selalu muncul jeda yang ganjil. Seolah ada batas tak kasatmata yang tidak boleh dilewati.
"Nduk." Bu Marni menyerahkan baki berisi cangkir. "Tolong antar ke depan."
Nadia mengangguk. Saat melintasi ruang tamu, pandangannya menangkap sosok Pak Karsa yang sedang berbincang dengan dua lelaki sepuh di sudut ruangan. Mereka berhenti bicara ketika Nadia mendekat. Lagi-lagi, pola yang sama.
Ia meletakkan baki di atas meja, lalu menghampiri mereka dengan senyum yang dibuat senatural mungkin.
"Pak."
Pak Karsa menoleh. "Iya, Nadia?"
"Boleh saya tanya sesuatu?"
"Tentu."
Nadia duduk di kursi kosong di hadapan mereka. Ia tidak langsung mengeluarkan map dari kecamatan. Pengalamannya sebagai jurnalis mengajarkan bahwa orang lebih mudah berbicara ketika tidak merasa sedang diuji.
"Dulu...," katanya perlahan, "desa ini pernah ganti nama, ya?"
Dua lelaki di samping Pak Karsa saling berpandangan. Sangat singkat, tapi cukup untuk ditangkap Nadia.
Pak Karsa sendiri tampak tenang. "Enggak."
"Yakin, Pak?"
"Iya."
"Sejak dulu namanya memang Karangwening."
Jawabannya keluar tanpa jeda. Nadia menatap wajah lelaki tua itu. Memang tidak ada keraguan, tidak ada tanda bahwa ia sedang mengingat sesuatu. Justru itulah yang membuat Nadia semakin gelisah. Karena nada suara seperti itu hanya dimiliki orang yang benar-benar percaya pada apa yang diucapkannya.