Malam Takziah

Marion D'rossi
Chapter #17

Terduga

Malam itu, Nadia tidak segera tidur. Foto bertuliskan "SELAMAT DATANG DI DESA KARANGANYAR" masih tergeletak di atas meja kerja ayahnya. Cahaya lampu belajar yang redup jatuh tepat di atas permukaan foto, mempertegas serat-serat kertas yang telah menguning dimakan waktu.

Sudah hampir satu jam ia memandangi foto itu. Bukan karena berharap tulisan pada papan desa berubah, tapi karena takut hal sebaliknya yang akan terjadi.

Ia pernah menyaksikan nama memudar dari buku harian. Melihat wajah menghilang dari foto. Menyaksikan catatan yang ditulis tangannya sendiri perlahan lenyap tanpa bekas. Kini ia bertanya-tanya, apakah foto ini akan bernasib sama.

Nadia mengangkat kamera analog peninggalan Hadi. Dengan hati-hati ia memotret kembali foto lama tersebut.

Klik.

Suara rana terdengar nyaring di dalam ruangan yang sunyi. Ia lalu mengambil telepon genggam, memotret sekali lagi sebagai cadangan. Setelah selesai, kedua benda itu diletakkannya berdampingan di atas meja. Tidak ada alasan logis mengapa ia melakukan semua itu. Namun beberapa hari terakhir telah mengajarkannya bahwa logika bukan lagi pegangan yang cukup.

Di luar jendela, angin malam berembus pelan. Daun-daun mangga bergesekan, menimbulkan suara lirih yang mengingatkannya pada bisikan orang-orang yang tidak pernah selesai berbicara. Nadia memejamkan mata sesaat. Suara Hadi dari kaset kedua kembali terngiang.

"Aku tidak sedang mencari orang hilang, aku sedang melawan sesuatu yang menghapus keberadaan manusia."

Kalimat itu kini terasa lebih berat daripada sebelumnya. Karena setelah menemukan arsip kecamatan, Nadia mulai percaya bahwa yang dihapus bukan hanya manusia, tapi juga sejarah, tempat, nama. Barangkali juga seluruh masa lalu.

 

Keesokan paginya, rumah Hadi kembali ramai. Takziah telah usai, tetapi beberapa tetangga masih datang membantu membereskan kursi, melipat terpal, dan mengangkat peralatan yang selama seminggu terakhir memenuhi halaman.

Suasana terasa berbeda. Tidak lagi dipenuhi doa dan ucapan belasungkawa. Kini lebih banyak obrolan ringan yang terdengar dari berbagai sudut rumah. Nadia ikut membantu sebisanya. Sesekali ia menyapa warga yang lewat, tetapi pikirannya tetap tertinggal di ruang kerja.

Ada dorongan yang sulit dijelaskan. Seolah sesuatu sedang menunggunya di sana.

"Nad." Raka muncul sambil memanggul gulungan terpal. "Kamu dari tadi kelihatan capek. Kurang tidur. Masih baca catatan Pak Hadi?"

Nadia mengangguk. "Sedikit."

Raka tersenyum tipis. "Jangan terlalu dipikirkan. Beliau memang suka menulis macam-macam."

Kalimat itu terdengar biasa. Namun Nadia menangkap sesuatu yang ganjil.

"Bukankah Mas bilang dulu enggak pernah boleh masuk ruang kerja?"

Raka terdiam sepersekian detik, lalu tertawa kecil. "Iya juga. Maksudku... kadang Pak Hadi cerita sedikit."

Ia segera mengalihkan pembicaraan. "Aku bantu Pak Slamet dulu."

Sebelum Nadia sempat bertanya lagi, Raka sudah berjalan menuju halaman. Nadia memperhatikannya cukup lama. Itu bukan pertama kalinya Raka mengubah topik pembicaraan ketika menyangkut Hadi. Dan setiap kali itu terjadi, selalu ada jeda kecil yang membuatnya merasa ada sesuatu yang sengaja disembunyikan.

 

Menjelang siang, rumah akhirnya kembali sepi. Bu Marni pergi ke rumah tetangga untuk menghadiri pengajian. Sedangkan Raka pamit membantu memperbaiki saluran irigasi bersama beberapa warga. Nadia memanfaatkan kesempatan itu untuk kembali ke ruang kerja. Pintu ruangan masih tertutup, persis seperti saat ia tinggalkan.

Ia mendorongnya perlahan. Engsel kayu berderit pelan. Semuanya tampak sama. Meja, rak buku, tape recorder, maupun peta. Tidak ada yang berubah sama sekali. Namun begitu melangkah mendekati meja, Nadia langsung berhenti.

Alisnya perlahan bertaut. Ada sesuatu yang tidak beres. Map-map yang semalam ia susun berdasarkan urutan tahun kini tidak lagi berada pada posisi semula. Map hijau berada di atas map cokelat. Padahal ia yakin semalam malah sebaliknya. Mungkin hanya perasaannya. Nadia mencoba meyakinkan diri.

Ia membuka laci meja, masih tampak utuh. Kotak foto juga masih ada di sana. Buku harian tetap berada di tempatnya. Tidak ada tanda-tanda pembobolan, tidak ada jendela yang rusak, tidak ada kunci yang patah. Namun ketika ia menghitung kembali map yang tersusun di rak kecil sebelah meja, dadanya mendadak terasa kosong.

Satu map hilang.

Map abu-abu yang berisi salinan arsip, foto-foto lama, dan catatan Hadi mengenai perubahan nama desa. Map itulah yang tidak ada.

Nadia membeku. Ia menarik seluruh map yang tersisa satu per satu. Membuka laci. Mengecek rak buku. Bahkan memeriksa kolong meja. Tetap tidak ada.

Ruangan itu tidak tampak berantakan. Tidak ada satu benda pun yang berpindah jauh dari tempatnya. Seolah seseorang masuk ke dalam ruang kerja ini dengan mengetahui persis apa yang harus diambil. Dan yang lebih mengganggu, orang itu juga tahu apa yang boleh dibiarkan tetap di tempatnya.

Nadia berdiri perlahan. Tatapannya menyapu seluruh ruangan. Tiba-tiba sebuah pikiran yang selama ini hanya berupa dugaan akhirnya berubah menjadi keyakinan. Ia tidak sedang melawan sesuatu yang bekerja sendiri. Ada seseorang yang mengikuti setiap langkah penyelidikannya.

Nadia memaksa dirinya berhenti mengacak-acak isi ruangan. Pengalaman beberapa hari terakhir mengajarkannya satu hal: kepanikan hanya akan membuatnya kehilangan detail-detail kecil yang mungkin jauh lebih berharga daripada benda yang hilang itu sendiri.

Ia berdiri memejamkan mata selama beberapa saat, menarik napas panjang.

Lihat selengkapnya