Malam turun tanpa suara. Kabut yang sejak senja menggantung di atas sawah perlahan merayap memasuki halaman rumah, mengaburkan pagar bambu dan batang mangga yang berdiri di sisi timur. Dari balik jendela ruang kerja, Nadia melihat dunia di luar berubah menjadi hamparan putih keabu-abuan, seolah desa itu sedang ditelan sesuatu yang bergerak pelan, tetapi pasti.
Ia menutup gorden. Ruangan kembali dipenuhi cahaya lampu meja yang kekuningan.
Sudah menjadi kebiasaan baru baginya. Setiap malam, setelah seluruh rumah terlelap, ia akan kembali ke ruang kerja ayahnya. Tempat itu tidak lagi terasa seperti ruangan biasa. Ia lebih menyerupai sebuah pulau kecil yang masih bertahan di tengah lautan ingatan yang perlahan tenggelam.
Di atas meja, buku harian Hadi telah terbuka pada halaman yang sama sejak sore. Halaman berisi daftar nama.
Nama Sulastri kini hampir sepenuhnya lenyap. Yang tersisa hanyalah bekas guratan tinta yang hanya dapat dilihat jika kertas dimiringkan ke arah cahaya. Di bawahnya, nama Arif mulai kehilangan ketegasannya. Huruf-hurufnya belum menghilang, tetapi tidak lagi sehitam beberapa hari yang lalu.
Nadia tidak segera menutup buku itu. Ia hanya menatapnya dalam diam. Beberapa hari terakhir ia mulai menyadari sesuatu yang jauh lebih mengganggu daripada hilangnya nama.
Buku harian itu sedang berubah. Bukan karena usianya, bukan pula karena tinta yang memudar secara alami. Ada sesuatu yang bekerja dari dalam halaman-halamannya, perlahan mengikis setiap jejak yang ditinggalkan Hadi, seperti air yang menetes tanpa henti pada batu.
Ia mengambil buku catatan miliknya. Di halaman terakhir, ia membuat sebuah tabel sederhana.
Hari
Perubahan
1
Nama mulai memudar
3
Foto berubah
5
Catatan salinan ikut berubah
7
Arsip hilang
8
Dokumen dicuri
Pulpen itu berhenti. Ia memandang daftar tersebut cukup lama. Ada pola yang selama ini tidak ia sadari. Semua perubahan datang semakin cepat. Jarak antarperistiwa yang semula beberapa hari kini hanya hitungan jam. Seakan-akan sesuatu di luar sana mulai kehilangan kesabaran. Atau mungkin mulai menyadari bahwa Nadia semakin dekat pada kebenaran.
Angin malam mengguncang daun jendela. Bunyi kayunya yang beradu pelan memecah kesunyian.
Nadia bangkit untuk menguncinya rapat. Ketika kembali ke meja, tanpa sengaja pandangannya jatuh pada sisi kanan buku harian. Ada sesuatu yang terasa ganjil. Ia mengerutkan dahi. Tangannya perlahan membalik beberapa lembar halaman, lalu kembali lagi.
Sekali. Dua kali.
Alisnya semakin bertaut. Jumlah halaman buku itu tidak berubah. Kertas-kertasnya masih lengkap. Namun, ia yakin ada satu bagian yang berbeda.