Malam Takziah

Marion D'rossi
Chapter #19

Orang yang Mengikuti

Pagi datang dengan langit yang pucat. Kabut masih menggantung rendah di atas sawah ketika Nadia meninggalkan rumah Hadi. Udara dingin menusuk hingga ke balik kerah jaketnya. Di halaman, embun masih menempel pada dedaunan mangga, berkilau sesaat sebelum matahari sempat menghangatkannya.

Sudah tiga hari sejak kepulangannya dari kantor kecamatan. Tiga hari sejak ia menemukan bukti bahwa Karangwening pernah bernama Karanganyar. Dan tiga hari pula sejak ia mulai merasa desa itu tidak lagi membiarkannya berjalan sendirian. Ia tidak pernah benar-benar melihat siapa pun. Namun setiap kali menoleh, selalu ada perasaan bahwa seseorang baru saja mengalihkan pandangan.

"Nad." Suara Raka terdengar dari balik pagar. "Aku ke kecamatan lagi."

Nadia menoleh. Pemuda itu sedang berdiri di samping sepeda motornya, memasang helm dengan gerakan yang tampak tergesa.

"Ada urusan?"

"Ngambil onderdil pompa."

Raka mengangguk ke arah jalan. "Mau ikut?"

Nadia sempat ragu. Ia sebenarnya ingin kembali ke kantor kecamatan untuk meminjam beberapa arsip lain yang belum sempat diperiksa. Pak Hasan juga berjanji akan mencoba mencari dokumen lama mengenai batas wilayah desa.

"Aku ikut."

Perjalanan berlangsung hampir tanpa percakapan. Motor melaju melewati jalan yang sama seperti beberapa hari lalu. Hamparan sawah, jembatan kecil, warung kopi di tikungan. Semua tampak biasa. Namun entah mengapa, sejak meninggalkan gerbang desa, Nadia beberapa kali menoleh ke belakang. Bukan karena mendengar sesuatu, lebih karena sebuah firasat yang terus mengusiknya.

Di tikungan dekat kebun tebu, ia melihat sebuah sepeda motor berwarna hitam. Jaraknya cukup jauh. Pengendaranya mengenakan helm tertutup. Tidak ada ciri khusus yang dapat dikenali. Nadia tidak terlalu memikirkannya. Jalan menuju kecamatan memang cukup ramai. Banyak kendaraan berlalu-lalang. Namun ketika Raka berhenti di lampu merah, motor hitam itu ikut berhenti sekitar tiga kendaraan di belakang mereka. Masih dalam jarak yang sama.

Nadia mengernyit. Barangkali hanya kebetulan.

 

Kantor kecamatan tidak seramai biasanya. Pak Hasan sedang membantu dua pegawai muda menyusun beberapa kardus arsip ketika Nadia datang. Begitu melihatnya, lelaki tua itu tersenyum kecil.

"Mbak datang lagi."

"Saya mau lihat beberapa berkas lagi, Pak."

Pak Hasan mengangguk. "Nanti saya carikan."

Selama hampir dua jam Nadia memeriksa peta administrasi lama, surat keputusan camat, dan beberapa berita pembangunan desa, tidak banyak yang berhasil ditemukan. Semua dokumen sebelum tahun tertentu selalu berakhir pada catatan yang sama.

Arsip tidak tersedia, berkas rusak akibat kebakaran, dokumen dipindahkan. Pola itu terus berulang. Seolah masa lalu sengaja dipenuhi lubang.

Menjelang siang, Nadia pamit. Pak Hasan sempat mengantarnya hingga depan gedung.

"Hati-hati di jalan," pesannya. "Kalau menemukan sesuatu, jangan langsung percaya."

Nadia tersenyum tipis. "Percaya yang mana?"

Pak Hasan tidak segera menjawab. Tatapannya justru bergerak melewati bahu Nadia yang ke arah parkiran. Wajahnya mendadak berubah serius.

"Ada apa, Pak?"

Lelaki tua itu kembali menatap Nadia. "Enggak. Mungkin saya salah lihat."

Ketika Nadia menoleh mengikuti arah pandangannya, motor hitam yang tadi dilihatnya di jalan kembali terparkir di sudut halaman. Pengendaranya tidak terlihat. Helm hitam masih tergantung di setang. Tidak ada pelat nomor depan. Entah memang dilepas, atau sengaja ditutup lumpur.

 

Perjalanan pulang terasa lebih sunyi. Kali ini Nadia sengaja beberapa kali memperhatikan kaca spion motor. Pada awalnya jalan tampak lengang. Hanya truk pengangkut pasir dan beberapa petani yang melintas. Namun sekitar lima belas menit kemudian, motor hitam itu kembali muncul. Jaraknya tetap sama. Tidak terlalu dekat, tidak pula terlalu jauh. Seakan-akan memang sengaja menjaga jarak agar tetap berada dalam pandangan.

"Mas." Nadia menepuk pelan bahu Raka.

Lihat selengkapnya