Malam Takziah

Marion D'rossi
Chapter #20

Pola yang Sama

Rumah itu akhirnya kembali sunyi. Untuk pertama kalinya sejak Hadi Prasetyo meninggal, halaman yang selama berhari-hari dipenuhi kursi plastik dan lalu-lalang pelayat kini tampak lengang. Terpal biru yang sempat membentang di depan rumah telah dilepas. Bekas pijakan kursi masih membentuk lekukan-lekukan kecil di tanah yang mulai mengeras setelah beberapa hari tak lagi diguyur hujan.

Kesunyian itu seharusnya membawa kelegaan. Namun bagi Nadia, justru terasa sebaliknya. Selama takziah berlangsung, rumah itu tidak pernah benar-benar sepi. Selalu ada suara orang bercakap, langkah kaki yang hilir mudik, atau denting sendok dari dapur. Kini, ketika semua itu menghilang, setiap bunyi kecil terdengar berlipat ganda.

Derit papan lantai, angin yang menyusup melalui celah jendela, bahkan detak jarum jam di ruang tamu terdengar terlalu keras. Seolah rumah itu sedang menunggu sesuatu. Atau… seseorang.

 

Tulisan pada kaca jendela belum dihapus.

BERHENTI MENGINGAT!

Embun yang menjadi medianya memang telah mengering sejak pagi, tetapi bekas guratan jari masih membayang samar di permukaan kaca ketika diterpa cahaya dari luar. Nadia sengaja membiarkannya. Ia telah memotretnya dari berbagai sudut. Membandingkannya dengan bekas sidik jari di jendela lain. Ia tidak menemukan apa pun. Pesan itu datang tanpa jejak. Sama seperti banyak hal lain yang terjadi sejak ia kembali ke Karangwening.

Ia berdiri cukup lama di depan jendela itu sebelum akhirnya menarik napas panjang. "Kalau memang kalian ingin aku berhenti...," gumamnya pelan, "berarti aku sedang berada di jalan yang benar."

Kalimat itu terdengar lebih seperti usaha meyakinkan dirinya sendiri. Ia sadar, mulai hari ini penyelidikannya tidak lagi hanya soal rasa ingin tahu. Seseorang telah memperingatkannya.

Map dicuri, buku harian dipindahkan. Kini muncul ancaman yang ditulis langsung di jendela ruang kerja. Semua itu hanya memiliki satu arti. Ada pihak yang mulai merasa terganggu. Dan itu berarti... Hadi memang pernah berada sangat dekat dengan sesuatu yang selama ini berusaha disembunyikan.

 

Nadia memindahkan meja kecil ke tengah ruangan. Satu per satu seluruh peninggalan Hadi ia keluarkan dari tempat penyimpanannya. Buku harian, kaset-kaset, peta tua, foto-foto Karanganyar, salinan arsip kecamatan, potongan koran, daftar nama yang mulai memudar. Bahkan batang dupa, bunga kenanga yang telah mengering, serta kelereng pemberian Dimas ia letakkan berdampingan di atas meja.

Tak lama kemudian meja itu tidak lagi cukup menampung semuanya. Ia mulai membentangkan dokumen di lantai, menyusunnya berdasarkan waktu, tempat, dan nama.

Ruangan yang semula rapi perlahan berubah menjadi ruang penyelidikan. Persis seperti ruang kerja seorang penyidik yang sedang mengejar satu perkara selama bertahun-tahun.

Nadia duduk bersila di tengah semua itu. Pulpen berada di tangan kanannya. Secangkir kopi yang sejak tadi dibiarkan mulai kehilangan panas di sisi kirinya. Di hadapannya terbentang seluruh potongan cerita yang berhasil ia kumpulkan sejak kembali ke desa.

"Kalau Bapak ada di sini...," bisiknya, "Bapak akan mulai dari mana?"

Pertanyaan itu menggantung di udara. Tak ada jawaban. Hanya bunyi jam dinding yang terus berdetak dengan ritme yang nyaris menenangkan.

 

Ia mulai dari nama. Cara paling sederhana.

Di halaman kosong buku catatan, Nadia menulis seluruh nama yang selama ini muncul dalam penyelidikannya.

Sulastri. Arif. Pak Hasan. Pak Karsa. Dimas. Hadi Prasetyo.

Lalu ia berhenti karena masih ada satu nama. Perempuan yang disebut Hadi dalam kaset kedua. Perempuan yang "hilang dari sejarah desa". Namanya tidak pernah disebut. Nadia hanya menulis: Perempuan Tak Dikenal.

Ia memberi lingkaran pada nama itu, lalu mulai menarik garis.

Sulastri terhubung dengan rumah kosong di tepi sungai. Arif terhubung dengan malam takziah. Pak Hasan dengan arsip kecamatan. Dimas dengan kelereng dan sumur tua. Pak Karsa dengan penyangkalan terhadap masa lalu desa. Hadi... terhubung dengan semuanya.

Semakin banyak garis yang ia buat, semakin rumit gambar di hadapannya. Namun di balik kerumitan itu, perlahan mulai muncul sesuatu yang selama ini luput dari perhatiannya. Bukan nama atau tempat, tapi... tanggal.

Nadia segera membuka kembali arsip dari kecamatan. Lembar daftar penduduk tahun 1991. Ia membandingkannya dengan catatan Hadi. Kemudian dengan potongan koran. Lalu membuka lagi buku harian.

Tangannya bergerak semakin cepat. Sesekali ia mencoret, menghubungkan, memberi tanda. Sampai akhirnya pulpen itu berhenti. Matanya terpaku pada satu angka yang muncul berulang kali di berbagai dokumen.

Lihat selengkapnya