Malam Takziah

Marion D'rossi
Chapter #21

Nama yang Tak Boleh Diucapkan

Pagi itu langit menggantung rendah di atas Karangwening. Awan kelabu menutup matahari sejak dini hari, membuat seluruh desa tampak seolah belum benar-benar terbangun. Udara yang lembap membawa aroma tanah basah dari sawah-sawah di pinggir kampung, sementara embun masih bertahan di ujung daun pisang yang berjajar di belakang rumah Hadi.

Nadia nyaris tidak tidur semalam. Kalimat yang muncul di halaman terakhir buku harian terus berputar di kepalanya.

"Besok malam mereka akan datang mengambil namamu."

Ia telah mencoba meyakinkan dirinya bahwa itu hanyalah ulah seseorang yang berhasil menyusup ke ruang kerja. Namun setiap kali mengingat bagaimana tulisan itu perlahan muncul dari kertas yang semula kosong, penjelasan itu terasa semakin rapuh.

Ia memutuskan satu hal. Sebelum "besok malam" benar-benar tiba, ia harus menemukan sebanyak mungkin jawaban. Dan satu-satunya orang di luar desa yang masih bersedia membantunya hanyalah Pak Hasan.

 

Motor yang dikendarai Nadia melaju pelan menyusuri jalan kabupaten. Kali ini ia memilih berangkat sendiri. Bukan karena tidak membutuhkan bantuan Raka, tapi karena sejak percakapan mereka beberapa hari lalu, ada jarak yang perlahan tumbuh di antara keduanya. Raka memang tidak pernah secara terang-terangan menghalangi penyelidikannya, tetapi ia juga tidak lagi terlihat antusias membantu seperti di awal. Setiap kali Nadia menyebut nama Karanganyar atau Sendang Watu Ireng, pemuda itu selalu mengalihkan pembicaraan. Terlalu sering untuk disebut kebetulan.

Sesampainya di kantor kecamatan, suasana masih lengang. Jam dinding di ruang pelayanan baru menunjukkan pukul setengah sembilan. Beberapa pegawai tampak sibuk membuka berkas dan menyalakan komputer. Bau kopi hitam bercampur aroma kertas tua memenuhi lorong utama.

Pak Hasan sudah menunggu di ruang arsip. Lelaki tua itu tampak lebih pucat daripada terakhir kali mereka bertemu. Kantung di bawah matanya menggelap, sementara rambut putihnya terlihat semakin acak.

"Mbak Nadia," sapanya lirih. "Saya kira Mbak enggak jadi datang."

"Saya enggak bisa berhenti sekarang, Pak."

Pak Hasan tersenyum tipis. "Saya juga."

Ada kelelahan dalam senyum itu. Kelelahan seseorang yang terlalu lama memikul sesuatu sendirian.

 

Ruangan arsip terasa lebih dingin dibanding biasanya. Pak Hasan menutup pintu perlahan sebelum berjalan menuju rak paling belakang. Kali ini ia tidak mengambil map kecamatan. Tangannya berhenti pada rak yang jauh lebih rendah, tempat buku-buku besar bersampul kain disusun berjajar.

"Ini arsip sekolah dasar," katanya. "Sebagian dipindahkan ke sini waktu gedung sekolah direnovasi."

Nadia membantu mengangkat salah satu buku. Debu tipis beterbangan ketika sampulnya dibuka. Buku itu sangat besar. Kertasnya mulai menguning di bagian tepi. Di halaman pertama tertulis dengan tinta yang telah memudar.

BUKU INDUK MURID

SD NEGERI KARANGANYAR

Jantung Nadia berdegup pelan. Lagi. Nama itu kembali muncul. Karanganyar, bukan Karangwening. Ia mulai terbiasa melihat nama lama tersebut dalam dokumen tua. Anehnya, setiap kali nama itu muncul, ia justru merasa lebih akrab daripada ketika membaca nama desa yang sekarang.

Pak Hasan membuka beberapa halaman. Daftar nama murid tersusun rapi berdasarkan angkatan. Kolom demi kolom dipenuhi tulisan tangan yang halus. Nomor induk, nama orang tua, alamat, tanggal lahir. Dan tidak ada yang mencurigakan. Sampai akhirnya Nadia melihat sesuatu. Di bagian tengah buku terdapat celah yang terlalu rapi. Ia menghentikan tangan Pak Hasan.

"Sebentar."

Pak Hasan menoleh. "Ada apa?"

Nadia menyentuh bagian tengah jilid buku. Benang jahit yang menyatukan halaman tampak masih utuh. Namun empat lembar kertas di antaranya telah hilang. Bukan robek, tapi dipotong sangat rapi hingga menyisakan bekas tipis di sepanjang jilid.

"Seseorang sengaja mengambil halaman ini," gumam Nadia.

Pak Hasan mengernyit. "Masa?"

Ia mendekatkan wajahnya, lalu mengangguk pelan. "Iya...."

"Saya enggak pernah sadar."

Nadia menghitung nomor halaman. Seratus dua belas, lalu langsung seratus tujuh belas. Empat halaman benar-benar lenyap. Kalau setiap halaman memuat sekitar lima belas nama murid, berarti puluhan identitas ikut hilang bersama halaman itu.

"Pak...," kata Nadia pelan. "Siapa yang bisa mengambil arsip seperti ini?"

Pak Hasan menggeleng. "Dulu banyak orang yang punya akses. Kepala sekolah, pengawas, petugas dinas, atau...." Ia berhenti bicara.

"Atau?"

Lihat selengkapnya