Ujung pensil itu berhenti tepat di atas sebuah lingkaran merah. Nadia menatapnya cukup lama sebelum menarik satu garis tipis menuju tepian hutan di sisi barat desa. Di hadapannya terbentang peta tua peninggalan Hadi yang telah beberapa kali ia buka sejak menemukan ruang kerja itu. Kertasnya mulai rapuh di bagian lipatan, sementara tinta hitam pada beberapa nama tempat telah memudar dimakan usia. Namun satu titik masih tampak jelas.
Sendang Watu Ireng.
Nama itu ditulis menggunakan tinta merah. Berbeda dengan seluruh penanda lain yang dibuat ayahnya. Di sampingnya terdapat catatan kecil yang nyaris tak terbaca.
"Jangan datang sendirian."
Nadia mengusap perlahan tulisan itu dengan ujung jarinya. Kalimat tersebut tidak terdengar seperti larangan. Lebih menyerupai penyesalan.
Ia membuka buku catatan yang beberapa minggu terakhir menjadi teman tetap penyelidikannya. Di halaman baru, ia menuliskan satu pertanyaan.
Mengapa Sendang Watu Ireng dihapus dari peta? Di bawahnya, ia menambahkan daftar singkat, seperti: tidak ada di peta terbaru, tidak diingat warga, disebut berkali-kali dalam catatan Hadi, berkaitan dengan tahun 1991. Pulpen berhenti. Empat petunjuk itu semuanya mengarah ke tempat yang sama.
Kalau selama ini ia terus mencari jawaban melalui orang-orang, mungkin kini saatnya mencari jawaban dari tempatnya sendiri. Ia menutup buku catatan, keputusan itu akhirnya bulat. Hari ini ia akan menemukan Sendang Watu Ireng.
Bu Marni sedang menyapu halaman ketika Nadia keluar membawa tas selempang. Perempuan tua itu menghentikan sapunya.
"Mau ke mana, Nduk?"
"Jalan sebentar. Mencari udara."
Jawaban itu keluar begitu saja. Tidak sepenuhnya bohong. Namun juga bukan jawaban yang sebenarnya.
Bu Marni memandang tas di bahu Nadia. "Kamu bawa peta?"
Nadia sempat terdiam. Ternyata perempuan tua itu jauh lebih teliti daripada yang ia kira.
"Iya. Mau lihat-lihat sekitar desa."
Bu Marni mengangguk pelan. "Lihat-lihat boleh. Tapi jangan masuk hutan."
"Kenapa?"
Perempuan tua itu menyandarkan sapunya ke dinding. "Jalannya membingungkan. Banyak orang nyasar. Padahal hutannya enggak luas."
Nadia tersenyum tipis. "Tenang, Bu. Saya cuma muter sebentar."
Namun bahkan sebelum ia selesai berbicara, kalimat Bu Marni telah menetap di kepalanya.
"Jalannya membingungkan."
Bukan berbahaya, bukan angker, tapi malah membingungkan. Persis seperti yang pernah ditulis Hadi dalam salah satu catatan kecilnya.