Nadia tidak langsung meninggalkan batu penunjuk arah itu. Telapak tangannya masih menempel pada permukaan batu yang dingin dan lembap. Lumut yang baru saja ia singkirkan meninggalkan warna hijau pekat di sela-sela jarinya. Ia kembali menyapu pahatan yang tersisa, seolah berharap ada huruf lain yang muncul dari balik lapisan waktu.
Tidak ada. Yang masih tertulis tetap sama.
...TU IRENG.
Potongan nama yang nyaris lenyap. Namun justru karena hanya sebagian yang tersisa, Nadia semakin yakin bahwa batu itu bukan sekadar penanda jalan tua. Seseorang telah berusaha menghapusnya. Bukan menghancurkan ataupun memindahkannya. Namun membiarkannya perlahan ditelan lumut dan semak-semak, seolah waktu sendirilah yang bertanggung jawab atas hilangnya tempat itu.
Ia mengambil kamera peninggalan Hadi.
Klik.
Satu foto, lalu foto kedua dari sudut yang berbeda. Setelah itu ia memotret menggunakan telepon genggam. Pengalaman selama beberapa minggu terakhir mengajarinya satu hal. Bukti yang tidak segera disimpan sering kali menghilang sebelum sempat dipahami. Baru setelah memastikan semuanya terekam, Nadia melangkah mundur. Tatapannya masih tertuju pada batu itu ketika ia berkata lirih, nyaris kepada dirinya sendiri,
"Jadi... Bapak memang pernah sampai di sini."
Kalimat itu meluncur begitu saja. Kini, Nadia tidak lagi meragukan satu pun catatan yang ditinggalkan ayahnya. Yang salah bukan Hadi. Yang berubah justru adalah dunia di sekelilingnya.
Perjalanan pulang terasa jauh lebih mudah. Jalan yang sebelumnya membuatnya berputar-putar kini seolah terbentang lurus tanpa hambatan. Percabangan yang tak kunjung ditemukan saat berangkat kini muncul begitu saja di hadapannya, lengkap dengan pohon jati yang tumbuh miring di sisi kiri jalan.
Nadia beberapa kali berhenti. Membuka peta, membandingkan arah. Semuanya sesuai. Kejanggalan itu seakan lenyap begitu saja.
Ia menoleh ke belakang. Lorong hutan yang baru saja dilewatinya tampak biasa. Sunyi. Tidak berbeda dengan hutan-hutan lain yang pernah ia masuki semasa kecil. Namun perasaan ganjil tetap tinggal di dalam dada. Rasanya hutan itu hanya mengizinkannya keluar setelah menemukan sesuatu yang memang ingin ia temukan.
Tanpa disadarinya, dari balik pepohonan yang mulai jarang, Raka memperhatikannya hingga benar-benar menghilang dari pandangan. Pemuda itu baru bergerak ketika langkah Nadia tak lagi terdengar. Ia mendekati batu penunjuk arah yang tadi ditemukan Nadia. Tangannya mengusap lumut pada pahatan tua itu. Wajahnya muram.
"Sekarang dia tahu," gumamnya. Suara itu nyaris tenggelam di antara desir daun jati. Tak lama kemudian Raka berbalik, mengambil jalan lain yang tidak dilewati Nadia. Jalan sempit yang membelah hutan menuju arah balai desa.
Menjelang sore, Nadia tiba di rumah dengan pakaian yang dipenuhi debu dan serpihan daun kering. Bu Marni yang sedang menjemur pakaian menatapnya dari kejauhan.
"Nduk, kamu masuk hutan?"
Nadia berhenti. Ia sempat ingin mengelak. Namun ranting kecil yang masih tersangkut di ujung celananya membuat kebohongan terasa sia-sia.
"Iya. Hutan sebelah barat."
Bu Marni meletakkan ember cucian. Sudut bibirnya bergerak seperti hendak mengatakan sesuatu, tetapi urung. "Ada apa di sana?"
"Tidak banyak." Nadia tersenyum tipis. "Cuma jalan lama."
Perempuan tua itu memandang wajah Nadia cukup lama. Tatapan yang penuh kekhawatiran.
"Bapakmu dulu," ucapnya pelan, "setelah sering ke sana jadi berubah."
Nadia mengangkat wajah. "Berubah bagaimana?"
"Sering melamun. Kadang ngomong sendiri. Kalau malam beliau suka duduk di ruang kerja sampai Subuh."
Bu Marni menarik napas panjang. "Waktu ditanya lagi ngapain, beliau cuma bilang, 'Aku takut lupa.'”
Kalimat itu membuat Nadia terdiam. Beberapa saat lalu, di tengah hutan, ia sempat mengucapkan bahwa Hadi tidak pernah gila. Kini keyakinannya semakin kuat. Ayahnya tidak takut pada sesuatu yang ada di dalam hutan. Ia takut jika suatu hari nanti dirinya ikut kehilangan ingatan seperti orang-orang lain.
Malam datang lebih cepat. Setelah makan malam sederhana bersama Bu Marni, Nadia langsung menuju ruang kerja. Ia menutup pintu perlahan. Ruangan itu masih persis seperti ketika ditinggalkannya pagi tadi. Foto batu penunjuk arah segera dipindahkan ke komputer jinjing. Disalin ke dua folder berbeda. Kemudian ke sebuah flashdisk kecil. Barulah setelah semuanya selesai, ia duduk di depan tape recorder tua yang sejak awal menjadi saksi bisu seluruh penyelidikan. Di dalam kotak kayu, deretan kaset peninggalan Hadi masih tersusun rapi. Kaset pertama telah rusak. Kaset kedua membuka jalan menuju tragedi tiga puluh tahun silam. Kini, tangannya berhenti pada kaset berikutnya. Label putih di sudutnya bertuliskan tulisan tangan yang mulai memudar.