Malam Takziah

Marion D'rossi
Chapter #24

Orang yang Masih Menunggu

Suara perempuan itu terus mengikuti Nadia hingga pagi. Bukan karena ia benar-benar mendengarnya lagi, melainkan karena kalimat pendek yang terekam di ujung kaset ketiga terus berulang di dalam kepalanya.

"Jangan... lupakan...."

Nada suaranya lirih dan patah. Namun tidak terdengar seperti orang yang sedang meminta diselamatkan. Lebih menyerupai seseorang yang takut keberadaannya akan lenyap bersama waktu.

Nadia menutup buku catatan yang semalaman dipenuhi hasil transkripsi rekaman Hadi. Di halaman terakhir ia hanya menuliskan satu kalimat.

Suara di kaset sama dengan pesan di sumur?

Pulpen itu berhenti. Pikirannya segera melayang kepada Dimas. Anak kecil yang pernah berkata bahwa ada "ibu di bawah tanah" yang sering berbicara kepadanya. Saat itu Nadia menganggapnya sekadar imajinasi seorang anak. Namun kini setelah mendengar sendiri suara perempuan dalam rekaman Hadi, ia tidak lagi bisa mengabaikan ucapan Dimas begitu saja.

 

Dimas sedang bermain kelereng di bawah pohon asam ketika Nadia menemukannya. Anak itu duduk sendirian di tepi jalan desa, menggambar lingkaran kecil di atas tanah menggunakan sepotong ranting. Kelereng-kelereng tua berwarna bening berkilau terkena cahaya matahari. Salah satunya tampak sama dengan kelereng yang pernah diberikan kepada Nadia.

Begitu melihat Nadia datang, wajah Dimas langsung berbinar. "Mbak!"

Nadia tersenyum. "Lagi main?"

Dimas mengangguk cepat. "Ibu lagi ke pasar. Jadi aku boleh main sampai Dzuhur."

Nadia ikut berjongkok di sampingnya. Untuk beberapa saat mereka hanya memperhatikan kelereng yang bergulir keluar-masuk lingkaran tanah. Tidak ada pembicaraan. Nadia sengaja membiarkan suasana tetap ringan. Ia tahu, anak-anak sering kali lebih jujur ketika tidak merasa sedang ditanyai.

"Aku masih simpan kelerengmu," ucap Nadia akhirnya.

Dimas tersenyum bangga. "Itu bagus. Soalnya... ibu itu suka nyimpen pesan di situ."

Nadia menghentikan gerakan tangannya. "Ibu?"

"Iya. Ibu yang di bawah."

Anak itu mengatakannya dengan begitu wajar. Seolah sedang membicarakan tetangga yang tinggal di ujung gang. Tidak ada rasa takut sedikit pun.

Nadia memandang wajah Dimas. "Masih sering ketemu?"

Dimas mengangguk. "Kadang. Kalau aku lewat sumur. Kalau malam enggak. Katanya malam dingin."

Jawaban itu terdengar sangat khas anak-anak. Sederhana, tanpa usaha membuat cerita menjadi menyeramkan. Justru karena itulah Nadia merasakan sesuatu yang aneh. Anak-anak jarang mampu mempertahankan kebohongan sedetail ini. Apalagi ketika tidak sedang diminta bercerita.

"Ibu itu ngomong apa?" tanya Nadia pelan.

Dimas berpikir sebentar. "Lupa. Kadang cerita. Kadang nyanyi. Kadang diam."

"Lalu?"

"Lalu bilang," anak itu menatap kelereng di tangannya, “jangan biarkan mereka lupa lagi."

Nadia merasakan jantungnya berdetak lebih keras. Kalimat itu persis. Tidak sama persis dengan rekaman Hadi. Namun maknanya identik.

"Jangan... lupakan...."

"Jangan biarkan mereka lupa lagi."

Ia menelan ludah.

"Dimas, ibu itu pernah minta tolong?"

Anak kecil itu justru menggeleng. "Enggak."

"Pernah minta dibebasin?"

Gelengan lain.

"Pernah bilang sakit?"

"Enggak."

Nadia mengernyit. "Lalu kenapa dia di sana?"

Dimas mengangkat bahu kecilnya. "Aku enggak tahu. Dia cuma bilang kalau semua orang lupa, dia enggak bisa pulang."

Kalimat itu membuat Nadia kehilangan kata-kata. Anak seusia Dimas rasanya mustahil mampu menyusun metafora sehalus itu, kecuali kalimat tersebut memang bukan berasal darinya.

 

Menjelang siang, Nadia mengantar Dimas pulang. Sesampainya di depan rumah, anak itu tiba-tiba menarik ujung lengan bajunya.

"Mbak."

Lihat selengkapnya