Malam Takziah

Marion D'rossi
Chapter #25

Balai Desa

Nadia baru menyadari satu hal ketika kembali membuka buku harian Hadi malam itu. Selama berminggu-minggu ia tenggelam dalam nama-nama yang memudar, peta yang berubah, serta kaset-kaset yang perlahan membuka masa lalu. Namun ada satu tempat yang terus muncul berulang kali dalam hampir setiap catatan, meski hanya disebut sepintas.

Balai desa.

Kadang hanya satu kalimat.

"Pak Karsa menolak menjawab di balai desa." Atau... "Mereka berkumpul lagi setelah Magrib."

Di halaman lain tertulis lebih singkat lagi.

"Arsip lama seharusnya tidak hilang begitu saja."

Hadi tidak pernah menjelaskan lebih jauh. Tidak ada uraian panjang. Tidak ada kesimpulan. Namun justru pengulangan itulah yang membuat Nadia berhenti membaca. Ia membolak-balik beberapa halaman sebelumnya. Lalu halaman sesudahnya.

Benar saja.

Balai desa muncul berkali-kali. Tidak pernah menjadi fokus, tetapi selalu hadir di saat-saat penting. Seolah tempat itu hanyalah latar. Padahal mungkin di sanalah sebagian jawaban disembunyikan.

 

Jam dinding menunjukkan pukul setengah sebelas malam ketika Nadia menutup buku harian. Rumah telah lama terlelap. Dari kamar Bu Marni terdengar dengkuran halus yang sesekali terputus, lalu kembali mengalun pelan. Angin malam menyusup melalui celah ventilasi, menggerakkan tirai ruang tamu hingga bergoyang perlahan.

Nadia mematikan lampu ruang kerja, kemudian membuka lemari kecil tempat Hadi menyimpan perlengkapan lapangan. Senter, baterai cadangan, sarung tangan kain, sebuah obeng kecil, dan kamera tua yang selalu dibawanya ke mana-mana. Semua dimasukkan ke dalam tas selempang. Gerakannya tenang dan terukur. Tidak tergesa. Bukan karena ia tidak gugup. Justru sebaliknya.

Semakin besar rasa cemas yang dirasakannya, semakin ia memaksa dirinya untuk bergerak perlahan. Kesalahan kecil sering lahir dari kepanikan. Dan malam ini, ia tidak boleh membuat kesalahan.

 

Balai desa berdiri di ujung lapangan yang telah kosong sejak sore. Bangunan itu tampak lebih tua dibanding rumah-rumah di sekitarnya. Dindingnya masih berupa tembok tebal yang mulai dipenuhi lumut pada bagian bawah. Tiang-tiang kayu penyangga pendopo tampak kusam dimakan usia, sementara gentingnya menghitam karena lumut dan hujan yang datang silih berganti selama puluhan tahun. Lampu teras masih menyala dengan cahaya yang redup. Hanya cukup menerangi beberapa anak tangga menuju pendopo.

Nadia berhenti di balik pohon trembesi yang tumbuh di seberang jalan. Ia mengamati keadaan sekitar. Tidak ada kendaraan. Tidak ada suara percakapan. Hanya bunyi serangga malam yang bersahut-sahutan dari pematang sawah.

Ia menunggu sekitar sepuluh menit. Tidak ada perubahan. Barulah ia menyeberang. Setiap langkah diusahakan seringan mungkin. Kerikil kecil yang berderak di bawah sandal membuatnya beberapa kali berhenti, memastikan tak ada siapa pun yang mendengar.

Pendopo balai desa kosong. Kursi-kursi plastik ditumpuk di sudut ruangan. Papan pengumuman masih memajang jadwal ronda, pengumuman posyandu, dan daftar penerima bantuan yang sebagian telah memudar terkena hujan.

Tidak ada sesuatu yang tampak mencurigakan. Namun pengalaman beberapa minggu terakhir mengingatkannya bahwa yang berbahaya justru sering tersembunyi di balik hal-hal yang tampak biasa.

 

Pintu kantor desa tidak terkunci. Hal itu justru membuat Nadia semakin waspada. Ia mendorongnya perlahan. Engsel tua mengeluarkan bunyi lirih. Ruangan di dalam gelap. Hanya cahaya bulan yang masuk melalui jendela, membentuk bayangan memanjang di atas lantai keramik.

Aroma kertas tua bercampur kayu lembap memenuhi udara. Di sisi kanan terdapat meja pelayanan. Di belakangnya berjajar lemari besi berwarna abu-abu. Sementara di dinding tergantung foto-foto kepala desa dari masa ke masa.

Nadia menyapu ruangan dengan cahaya senter yang tidak terlalu terang. Hanya cukup untuk melihat arah. Ia mendekati salah satu lemari arsip. Laci pertama berisi map administrasi terbaru, surat pengantar, fotokopi KTP, data bantuan. Semuanya tampak wajar.

Lihat selengkapnya