Malam Takziah

Marion D'rossi
Chapter #26

Orang-Orang yang Bertahan

Nadia baru berani keluar dari ruang arsip rahasia hampir dua puluh menit kemudian. Ia tidak pernah benar-benar melihat siapa yang datang ke balai desa malam itu. Setelah mematikan senter, ia hanya mendengar langkah kaki berputar di ruang depan, berhenti tepat di balik lemari besi yang menutupi pintu rahasia, lalu menjauh perlahan. Tak ada suara pintu dibuka. Tak ada percakapan. Hanya kesunyian yang terasa jauh lebih menyesakkan daripada kehadiran seseorang itu sendiri.

Ketika akhirnya memastikan keadaan kembali aman, Nadia menggeser lemari besi sedikit demi sedikit ke posisi semula. Tangannya pegal, napasnya memburu, tetapi pikirannya justru terasa semakin jernih.

Kini ia memiliki bukti. Balai desa benar-benar menyimpan sesuatu. Dan seseorang masih menjaganya.

 

Keesokan harinya, Nadia mengurung diri di ruang kerja Hadi. Stempel bertuliskan PEMERINTAH DESA KARANGANYAR tergeletak di atas meja, berdampingan dengan foto batu penunjuk arah Sendang Watu Ireng, salinan arsip kecamatan, dan buku harian ayahnya.

Ia menggambar ulang hubungan antarbukti pada selembar kertas besar. Di tengah, ia menulis satu kalimat.

1991

Dari angka itu, garis-garis mulai menjalar ke berbagai arah.

Sendang Watu Ireng, Sulastri, Balai Desa, Sumur Tua, Karanganyar. Lalu, satu lingkaran besar ia buat mengelilingi semuanya. Di atas lingkaran itu ia menulis, “mereka ingin semua ini hilang”.

Nadia meletakkan pulpen. Sudah terlalu banyak bukti yang menunjukkan bahwa penghapusan bukan sekadar fenomena aneh yang terjadi dengan sendirinya. Ada tangan-tangan manusia yang ikut bekerja. Dokumen dibakar, label arsip dilepas, nama desa diubah.

Seseorang bahkan masih datang ke ruang arsip rahasia hingga hari ini. Semua itu membutuhkan keputusan. Dan keputusan selalu melibatkan manusia.

Ponsel di sampingnya tiba-tiba bergetar. Layar menampilkan nomor yang tidak tersimpan. Nadia ragu beberapa detik sebelum mengangkatnya.

"Halo?"

Tidak ada jawaban. Hanya suara napas pelan dari seberang. Kemudian terdengar suara yang sangat dikenalnya.

"Mbak Nadia?"

Pak Hasan. Suara lelaki tua itu sengaja dipelankan. Hampir seperti berbisik.

"Bapak?"

"Mbak sekarang di rumah?"

"Iya."

"Jangan datang ke kantor kecamatan." Nada suara Pak Hasan membuat Nadia langsung duduk tegak.

"Kenapa?"

"Ada orang yang mulai bertanya soal Mbak."

Nadia merasakan dadanya mengencang.

"Siapa?"

"Saya enggak tahu. Tapi mereka mencari tahu arsip apa saja yang Mbak lihat." Pak Hasan terdiam sejenak, lalu berkata lebih pelan lagi. "Saya enggak bisa bicara lewat telepon. Kalau Mbak masih mau mencari jawaban, temui saya sore ini."

"Di mana?"

"Bukan di kantor."

"Lalu?"

Pak Hasan menarik napas panjang. "Rumah Pak Sastro."

Nama itu terdengar asing.

"Siapa Pak Sastro?"

"Beliau pensiunan guru. Beliau masih ingat."

Kalimat terakhir diucapkan dengan penekanan yang membuat Nadia langsung memahami maksudnya.

Masih ingat.

Dua kata itu kini memiliki arti yang jauh berbeda dibanding beberapa minggu lalu.

 

Menjelang sore, Nadia meninggalkan rumah tanpa memberi tahu Bu Marni tujuan sebenarnya. Pak Hasan hanya memberikan petunjuk singkat.

"Ikuti jalan menuju sawah utara. Rumah paling ujung. Pagar bambu."

Tidak sulit menemukannya. Rumah itu berdiri terpisah dari pemukiman warga lain, menghadap hamparan sawah yang mulai menguning. Bangunannya sederhana, berdinding papan dengan halaman kecil yang ditumbuhi pohon belimbing.

Lihat selengkapnya