Malam Takziah

Marion D'rossi
Chapter #27

Buku Register

Nadia tidak langsung pulang setelah pertemuan di rumah Pak Sastro berakhir. Ia memilih duduk beberapa saat di atas sepeda motornya yang terparkir di bawah pohon asam, membiarkan senja turun perlahan di atas hamparan sawah. Buku catatan masih terbuka di pangkuannya. Pada halaman terakhir, tempat ia mencoba menulis nama yang disebut bersama oleh Pak Hasan, Pak Sastro, dan Bu Rukmini, hanya tersisa guratan-guratan tipis bekas tekanan pulpen.

Tintanya telah hilang. Bukan memudar perlahan seperti nama Sulastri di buku harian Hadi, tapi lenyap beberapa detik setelah dituliskan. Seakan-akan kertas itu sendiri menolak menyimpan nama tersebut.

Nadia meraba bekas goresan itu dengan ujung jarinya. Masih terasa. Pulpen memang pernah menulis di sana, tetapi tintanya telah menghilang. Ia menutup buku catatan perlahan. Kini ia memahami sesuatu yang selama ini belum pernah terpikirkan. Penghapusan tidak selalu menyerang masa lalu. Kadang pula bekerja pada saat itu juga.

 

Malamnya, Nadia kembali membongkar seluruh catatan peninggalan Hadi. Tumpukan buku, peta, dan map memenuhi meja kerja hingga nyaris tak menyisakan ruang kosong. Ia membuka satu demi satu halaman yang selama ini telah diberi penanda menggunakan potongan kertas kecil. Tidak ada petunjuk baru mengenai nama yang barusan hilang. Namun ada sesuatu yang menarik perhatiannya.

Pada salah satu halaman buku harian, Hadi membuat daftar sederhana berisi tempat-tempat yang pernah ia datangi. Di samping setiap nama tempat, terdapat tanda centang.

Kantor kecamatan, arsip sekolah, balai desa, Sendang Watu Ireng, lalu di bagian paling bawah, satu tempat yang belum pernah diselidiki Nadia.

Register TPU.

Tulisan itu diberi garis dua kali. Di bawahnya, Hadi menambahkan satu kalimat pendek.

"Orang boleh mengubah sejarah. Tapi kematian selalu meninggalkan jejak."

Nadia membaca kalimat itu berulang kali, lalu perlahan menyandarkan tubuhnya ke kursi. Selama ini mereka sibuk mencari nama-nama yang hilang dari arsip penduduk, sekolah, hingga balai desa. Namun ada satu hal yang luput. Kalau memang seseorang meninggal, seharusnya ada catatan pemakaman, kecuali catatan itu ikut dihapus.

 

Keesokan paginya Nadia mendatangi kompleks pemakaman desa. Tidak untuk berziarah, ia justru mencari seseorang yang selama ini hampir tak pernah diperhatikan warga. Juru kunci makam.

Menurut Bu Marni, lelaki itu bernama Mbah Darmo. Usianya hampir delapan puluh tahun dan sudah menjaga pemakaman sejak sebelum Nadia lahir.

Gerbang pemakaman masih terbuka ketika Nadia tiba. Rumput liar tumbuh di sela jalan setapak yang membelah deretan makam tua. Beberapa nisan tampak telah miring dimakan usia, sementara lumut hijau menutupi tulisan pada batu-batu yang lebih tua. Suasana di tempat itu berbeda dengan biasanya. Tidak menyeramkan, sebaliknya justru tenang. Begitu tenang hingga bunyi langkah Nadia di atas kerikil terdengar terlalu keras.

Tak jauh dari cungkup kecil di sisi utara, seorang lelaki tua sedang menyapu daun-daun kering. Tubuhnya kurus. Punggungnya sedikit membungkuk. Topi anyaman bambu yang dikenakannya hampir menutupi seluruh wajah.

"Mbah...," sapa Nadia pelan.

Lelaki itu menghentikan aktivitasnya, mengangkat kepala perlahan. Sepasang matanya tampak redup, tetapi masih menyimpan kewaspadaan.

"Nyari siapa, Nduk?"

"Saya mau ketemu Mbah Darmo."

Lelaki tua itu tersenyum tipis. "Ya, itu saya."

Nadia membalas senyum itu. "Maaf, mengganggu. Ada yang ingin saya tanyakan."

Mbah Darmo menyandarkan sapunya ke pohon kamboja. "Soal makam?"

"Soal catatan makam." Jawaban itu membuat senyum tipis di wajah lelaki tua tersebut perlahan menghilang.

 

Mereka duduk di bangku kayu sederhana di bawah pohon sawo kecik. Di depan mereka terbentang puluhan makam yang berjajar rapi. Mbah Darmo menuangkan teh hangat dari termos kecil yang dibawanya.

"Jarang ada orang nanya soal catatan," katanya pelan. "Kebanyakan cuma nyari makam keluarganya."

Nadia menerima cangkir yang disodorkan. "Saya sedang mencari data lama. Tahun sembilan puluh satu."

Tangan Mbah Darmo yang semula hendak mengangkat cangkir, berhenti di udara. Hanya sesaat. Namun cukup bagi Nadia menangkap perubahan kecil itu.

"Tahun yang sudah lama," gumam lelaki tua tersebut.

"Iya. Mbah masih simpan register pemakamannya?"

Mbah Darmo tidak langsung menjawab. Tatapannya beralih ke deretan nisan di kejauhan. "Ada. Masih."

Lihat selengkapnya