Malam itu, Nadia tidak bisa memejamkan mata. Buku register pemakaman masih terbuka di atas meja ruang kerja Hadi. Halaman yang telah disobek itu terus memenuhi pikirannya, seolah setiap serat kertas yang hilang sedang berusaha mengatakan sesuatu yang tak mampu lagi dibaca.
Ia mengambil selembar kertas kosong, lalu mulai menuliskan semua bentuk penghapusan yang telah ditemukannya selama beberapa minggu terakhir.
Foto yang berubah, nama yang memudar, arsip sekolah yang dipotong, dokumen balai desa yang dibakar, register pemakaman yang disobek, nama desa yang diganti.
Pulpen berhenti. Nadia memandang daftar itu cukup lama. Awalnya semua kejadian tersebut tampak berdiri sendiri. Kini ia melihat sebuah pola yang begitu jelas.
Tidak ada satu pun bukti yang dihapus secara sembarangan. Semuanya berkaitan dengan identitas. Nama, wajah, tempat, sejarah, bahkan kematian.
Seseorang sedang berusaha memastikan bahwa siapa pun yang mencari kebenaran hanya akan menemukan ruang-ruang kosong.
Tiba-tiba ia teringat sesuatu tentang ruang arsip rahasia di balai desa. Tong berisi abu, map-map kosong, dan langkah kaki yang didengarnya malam itu. Barangkali orang itu belum selesai. Barangkali masih ada dokumen lain yang sedang dimusnahkan. Pikiran itu membuat Nadia segera menutup buku hariannya.
Ia melihat jam dinding. Hampir pukul sebelas malam. Terlalu larut bagi orang waras untuk keluar rumah. Namun penyelidikannya telah lama melampaui batas kewarasan yang biasa.
Rumah telah sunyi ketika Nadia membuka pintu depan dengan hati-hati. Langit malam bersih tanpa awan. Cahaya bulan jatuh pucat di atas jalan desa yang lengang. Udara membawa aroma tanah lembap sehabis embun mulai turun, sementara suara jangkrik mengisi sela-sela keheningan.
Nadia mengendarai motornya tanpa menyalakan lampu utama hingga melewati tikungan terakhir. Setelah itu ia memarkirkannya di balik rumpun bambu, sekitar seratus meter dari balai desa. Sisa perjalanan ditempuh dengan berjalan kaki. Ia sudah hafal jalannya. Bahkan hafal batu-batu kecil yang mudah berderak jika terinjak.
Pendopo balai desa tampak gelap. Lampu yang beberapa malam lalu masih menyala kini telah padam. Bangunan itu berdiri seperti bayangan besar di tengah lapangan kosong. Tidak ada suara ataupun gerakan. Namun justru kesunyian itulah yang membuat Nadia semakin berhati-hati.
Ia berjongkok di balik pagar tanaman, mengamati setiap sudut. Beberapa menit berlalu, tak terjadi apa-apa.
Saat Nadia mulai berpikir bahwa ia datang sia-sia, seberkas cahaya tipis muncul dari dalam kantor desa. Sorot senter. Sangat singkat, lalu menghilang.
Nadia membeku. Beberapa detik kemudian cahaya itu muncul lagi. Berpindah dari satu sisi ke sisi lain. Seseorang sedang berada di dalam.
Jantung Nadia berdetak semakin cepat. Ia bergerak memutari sisi belakang bangunan, memilih jalur yang tertutup bayangan pohon ketapang. Dari salah satu jendela yang sedikit terbuka, cahaya senter tampak menari pelan di dalam ruangan.
Nadia mengintip. Siluet seseorang berdiri membelakanginya. Tubuhnya tinggi, mengenakan jaket gelap. Sesekali membungkuk membuka laci. Kemudian berpindah ke lemari lain. Gerakannya begitu tenang. Seolah ia sangat mengenal tempat itu.
Nadia mencoba memperjelas pandangan. Ketika sosok itu sedikit menoleh, napasnya tertahan.
Raka.
Ia mengenali postur tubuh itu. Cara berdirinya, rambut yang sedikit panjang di bagian depan, tak mungkin salah. Untuk sesaat Nadia hanya mematung. Semua kecurigaan yang selama ini berusaha ditepis perlahan muncul kembali ke permukaan. Raka pernah membuntutinya ke hutan. Ia beberapa kali menghindari pembicaraan tentang Karanganyar. Ia selalu muncul di tempat-tempat yang berkaitan dengan penyelidikan.
Dan kini, ia berada di balai desa. Tengah malam. Sendirian.
Nadia memutuskan masuk melalui pintu samping. Ia tidak lagi berusaha menyembunyikan langkah. Lantai kayu pendopo berderit pelan ketika diinjak. Suara itu rupanya cukup keras. Karena sosok di dalam langsung menghentikan aktivitasnya.
"Nadia?" Suara Raka terdengar terkejut. Ia menyorotkan senter ke arah pintu.
Nadia melangkah masuk. Tatapannya tidak lepas dari wajah pemuda itu. "Kamu ngapain di sini?"
Raka tampak gugup sesaat. Namun ekspresinya segera kembali tenang. "Aku… nyari alat."
"Alat?"
"Iya. Ada pompa air balai yang rusak. Pak Karsa nyuruh aku cari kunci pipa."
Jawaban itu keluar terlalu cepat. Seolah telah dipersiapkan.
Nadia mengamati ruangan. Tidak ada kotak perkakas dan pompa. Yang terbuka justru lemari arsip.
"Lalu kenapa bukanya lemari dokumen?"
Raka terdiam sesaat. "Habis… kupikir kuncinya disimpan di sini."
Alasan itu terdengar rapuh, bahkan bagi Nadia sendiri.
Ia melangkah lebih dekat. Semakin dekat. Raka mundur satu langkah. Gerakan kecil yang tidak luput dari perhatian Nadia.
"Kamu bohong," ucap Nadia pelan.