Abu kertas itu masih tercium di hidung Nadia ketika ia menutup pintu rumah. Entah karena bau itu benar-benar masih melekat pada pakaian yang dikenakannya, atau karena pikirannya belum mampu melepaskan bayangan secarik dokumen yang terbakar di tangan Raka. Potongan kalimat yang sempat terlihat sebelum dilalap api terus berputar di kepalanya.
"1991..."
"Rapat..."
Lalu sebuah nama yang bahkan belum sempat ia baca utuh. Ia telah kehilangan terlalu banyak bukti dengan cara yang sama. Foto yang berubah, nama yang memudar, halaman yang disobek, arsip yang dibakar. Kini, di depan matanya sendiri, satu dokumen lain ikut lenyap menjadi abu. Bedanya, kali ini bukan sesuatu yang gaib, tapi tangan seseorang yang dikenalnya. Seseorang yang selama ini ia percaya bisa membantunya.
Ruang kerja Hadi terasa lebih sunyi dibanding biasanya. Nadia menyalakan lampu meja, lalu meletakkan tas selempangnya di atas kursi. Ia tidak segera membuka buku harian ataupun catatan penyelidikannya. Kali ini ia hanya duduk diam, memandangi dinding yang dipenuhi peta, foto, dan benang-benang merah yang telah disusunnya selama berminggu-minggu.
Di salah satu sudut tergantung foto lama Hadi. Foto itu diambil bertahun-tahun sebelum rambut ayahnya memutih. Wajahnya masih tampak segar, meski sorot matanya telah menyimpan kelelahan yang kini mulai dipahami Nadia.
"Apa Bapak juga pernah merasa sendirian?" bisiknya. Pertanyaan itu tentu tidak mendapat jawaban. Namun entah mengapa, malam itu kesunyian ruang kerja terasa berbeda. Bukan lagi kesunyian yang menakutkan, tapi kesunyian seseorang yang pernah duduk di tempat yang sama, menghadapi kebingungan yang serupa.
Nadia memutuskan membereskan kotak kayu berisi kaset-kaset peninggalan Hadi. Selama ini ia hanya mengambil kaset sesuai urutan, lalu mengembalikannya begitu saja setelah selesai mendengarkan. Akibatnya, beberapa kaset mulai bercampur dengan buku catatan kecil dan pita rekaman yang sudah kusut.
Ia mengangkat satu per satu. Rekaman pertama, kedua, ketiga, lalu kaset keempat yang belum sempat diputar. Label putih pada kaset itu mulai terlepas di salah satu ujungnya. Refleks Nadia menekan kembali bagian yang mengelupas agar tidak semakin rusak. Namun saat jarinya menyentuh bagian belakang cangkang plastik itu, ia merasakan sesuatu yang ganjil. Ada bagian yang sedikit lebih tebal. Seperti ada benda tipis yang diselipkan di balik sampul kertas kaset.
Nadia mengerutkan dahi. Dengan hati-hati ia melepaskan sampul kertas yang melindungi kotak kaset. Benar saja. Di balik lipatan sampul itu tersembunyi sebuah amplop kecil berwarna krem. Warnanya telah menguning. Sudut-sudutnya mulai melengkung dimakan usia. Tidak ada perangko dan tidak ada cap kantor pos. Artinya surat itu memang tidak pernah dikirim.
Di bagian depan amplop hanya tertulis beberapa kata menggunakan tulisan tangan yang sangat dikenalnya.
Untuk Nadia.
Tulisan itu membuat jemari Nadia membeku. Ia mengusap perlahan huruf-huruf tersebut. Tulisan Hadi, tidak mungkin salah. Bentuk huruf N yang sedikit miring. Cara ayahnya selalu memberi jarak lebih lebar di antara dua kata. Semuanya begitu akrab.
Napas Nadia tertahan. Selama bertahun-tahun ia tidak pernah lagi menerima surat dari ayahnya. Komunikasi mereka lebih sering berupa pesan singkat yang kaku, atau panggilan telepon singkat yang hampir selalu diakhiri lebih cepat daripada yang diharapkannya.
Kini, di hadapannya terbaring sebuah surat yang jelas-jelas ditulis khusus untuknya. Namun tak pernah sampai ke tangannya.
Ia tidak langsung membuka amplop itu. Entah mengapa, ada perasaan bahwa setelah membaca isinya, sesuatu akan berubah. Sama seperti setiap kali ia memutar kaset baru, atau menemukan arsip lama. Tidak pernah ada jalan kembali.
Nadia berdiri, berjalan ke jendela ruang kerja, lalu membukanya sedikit. Udara malam mengalir masuk membawa aroma daun mangga yang basah oleh embun.
Di kejauhan terdengar gonggongan anjing yang bersahutan, kemudian kembali tenggelam dalam sunyi. Ia kembali ke meja, mendudukkan diri perlahan. Barulah ujung jarinya menyelip di bawah penutup amplop yang telah merekat selama bertahun-tahun.
Lem tua itu terlepas dengan mudah. Di dalamnya hanya ada dua lembar kertas folio yang dilipat rapi, dan tidak lebih. Nadia membuka lipatan pertama. Tulisan tangan Hadi memenuhi halaman dari atas hingga bawah. Lebih rapi dibanding catatan di buku hariannya.
Di pojok kanan atas terdapat tanggal. Namun sebagian angkanya telah memudar. Yang masih dapat dibaca hanya tahun.
20—
Beberapa digit terakhir hilang. Nadia menarik napas pelan. Kemudian mulai membaca.