"Ada satu orang lagi." Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Pak Hasan, sesaat setelah Nadia melipat kembali surat peninggalan Hadi.
Mereka sedang duduk berhadapan di beranda rumah Pak Sastro. Secangkir kopi di hadapan Pak Hasan telah kehilangan uapnya sejak lama, sementara teh yang disuguhkan untuk Nadia nyaris tak tersentuh. Angin siang berembus pelan melewati halaman, menggerakkan daun-daun pisang yang tumbuh di belakang rumah. Tidak ada seorang pun yang tergesa membuka percakapan berikutnya. Seolah nama yang hendak disebut membutuhkan keberanian tersendiri.
Nadia mengangkat wajah. "Siapa?"
Pak Hasan tidak langsung menjawab. Jemarinya mengusap bibir cangkir yang mulai retak di bagian tepinya. Kebiasaan kecil itu beberapa kali dilakukan setiap kali ia sedang memikirkan sesuatu yang sulit diucapkan.
"Namanya Mbah Wiryo."
Nadia spontan teringat ucapan Dimas di dekat sumur tua beberapa hari sebelumnya.
"Kalau nanti ketemu orang tua yang jalannya pincang, jangan percaya." Lalu, "Namanya Pak Wiryo."
Selama itu pula Nadia mengira nama tersebut hanya serpihan petunjuk yang belum memiliki tempat. Kini, untuk pertama kalinya, seseorang menyebutnya secara langsung.
"Pak Wiryo?"
Pak Hasan mengangguk pelan. "Dulu orang memanggilnya begitu."
"Dulu?"
"Entah sekarang masih ada yang ingat atau tidak." Nada suaranya mengandung keraguan yang membuat Nadia ikut terdiam.
"Beliau tinggal di mana?"
"Di pinggir hutan. Hampir mendekati lereng." Pak Hasan menghela napas. "Sudah lebih dari lima belas tahun enggak pernah turun ke desa."
Pak Sastro yang sejak tadi diam akhirnya ikut bersuara.
"Warga menganggap beliau sudah pikun. Bicara sendiri. Kadang marah-marah ke pohon. Kadang memanggil nama orang yang katanya sudah enggak pernah ada."
Nadia merasakan jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
"Kenapa baru sekarang Bapak cerita?"
Pak Hasan tersenyum hambar. "Karena sebelumnya aku sendiri enggak yakin beliau masih mengingat."
Perjalanan menuju rumah Mbah Wiryo dimulai menjelang sore. Pak Hasan bersikeras ikut, meskipun Nadia sempat menolak karena khawatir kondisi kesehatannya tidak cukup kuat untuk berjalan jauh.
"Aku masih bisa jalan," katanya sambil mengambil tongkat bambu yang tersandar di sudut beranda. "Kalau nanti capek, baru istirahat."
Tak ada gunanya membantah. Mereka berangkat dengan motor hingga jalan aspal berakhir di sebuah kebun cengkih. Dari sana perjalanan harus dilanjutkan dengan berjalan kaki menyusuri jalan tanah yang semakin lama semakin menyempit. Semak-semak tumbuh rapat di kiri-kanan jalan. Sesekali ranting-ranting liar bergesekan dengan lengan baju Nadia, meninggalkan suara lirih yang menyerupai bisikan.
Pak Hasan berjalan beberapa langkah di depan. Meski usianya telah lanjut, ia tampak hafal benar setiap tikungan kecil di jalur itu.
"Beliau memang sengaja tinggal jauh dari desa?" tanya Nadia.
Pak Hasan mengangguk tanpa menoleh. "Setelah kejadian itu."
"Kejadian tahun sembilan puluh satu?"
Langkah lelaki tua itu sempat terhenti. Hanya sesaat, lalu kembali berjalan.
"Iya. Tapi waktu itu aku belum mengerti alasannya. Belakangan aku baru sadar, mungkin beliau sedang menghindari sesuatu."
"Menghindari siapa?"
Pak Hasan menggeleng. "Entah."
"Mungkin orang. Mungkin juga...," ia menatap rimbunnya pepohonan di depan, "ingatan."
Jawaban itu membuat Nadia memilih diam. Semakin jauh mereka meninggalkan permukiman, udara berubah semakin lembap. Pepohonan besar mulai mendominasi pemandangan. Cahaya matahari yang menembus sela-sela ranting jatuh dalam potongan-potongan kecil di atas tanah, menciptakan bayangan yang terus bergerak setiap kali angin bertiup.
Di tengah perjalanan, Nadia menyadari sesuatu. Tidak ada suara burung. Padahal beberapa menit sebelumnya, kicauannya masih terdengar bersahut-sahutan. Kini yang tersisa hanya bunyi langkah kaki mereka sendiri. Dan sesekali ketukan tongkat bambu Pak Hasan yang menghantam tanah.
Tok... Tok... Tok...
Irama sederhana itu justru membuat kesunyian di sekitar mereka terasa semakin pekat.