Sepanjang perjalanan pulang dari rumah Mbah Wiryo, tak satu pun dari mereka membuka percakapan. Pak Hasan duduk di belakang motor Nadia dengan kedua tangan menggenggam erat besi pengaman. Sesekali lelaki tua itu menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan, seolah masih berusaha menerima apa yang baru saja terjadi.
Nadia sendiri terus dihantui tatapan kosong Mbah Wiryo. Beberapa menit sebelumnya, lelaki itu masih mampu mengingat nama Karanganyar, mengenali Hadi, bahkan mengungkap kenyataan yang mengubah arah penyelidikannya. Lalu, dalam sekejap semua itu lenyap.
Bukan karena usia, bukan juga karena penyakit. Ingatannya seperti dicabut begitu saja. Yang tersisa hanya seorang lelaki renta yang bahkan tak lagi mengenali tamunya sendiri.
Peristiwa itu terasa jauh lebih mengerikan daripada halaman buku yang memudar atau foto yang berubah. Untuk pertama kalinya Nadia melihat penghapusan itu terjadi pada manusia yang masih bernapas. Dan ia tak dapat berbuat apa-apa.
Keesokan paginya, sebelum matahari benar-benar meninggi, Nadia sudah kembali berada di ruang kerja Hadi. Di atas meja terhampar peta, buku harian, kaset, surat yang tak pernah terkirim, hingga catatan-catatan yang selama beberapa minggu terakhir ia susun sendiri. Benang merah yang menghubungkan semua petunjuk kini tampak semakin rumit.
Di tengah papan gabus, ia menuliskan satu kalimat baru.
"Seluruh desa ikut menghapus dirinya sendiri."
Kalimat itu ia lingkari dua kali. Lalu, di bawahnya, ia menambahkan tanda tanya besar.
Apa maksud Mbah Wiryo? Apakah seluruh warga benar-benar bersepakat melupakan sesuatu? Ataukah mereka dipaksa?
Nadia memandangi tulisan itu cukup lama. Semakin ia mencoba memahami, semakin banyak pertanyaan yang bermunculan.
Tok. Tok. Tok.
Suara ketukan pelan di pintu depan memecah lamunannya. Ketika dibuka, Dimas sudah berdiri di beranda sambil memeluk kantong kain kecil berisi kelereng.
Anak itu tersenyum lebar. "Mbak."
"Kok pagi-pagi?"
"Nitip."
"Nitip apa?"
Dimas membuka kantong kainnya.
Ia mengeluarkan satu kelereng bening yang ukurannya sedikit lebih besar daripada yang pernah diberikan sebelumnya.
"Aku nemu lagi."
"Nemu di mana?"
"Belakang rumah."
Nadia menerima kelereng itu. Di dalam bola kaca bening tersebut tampak sesuatu yang sangat kecil, nyaris tak terlihat. Selembar gulungan kertas. Persis seperti petunjuk bertuliskan SUMUR TUA yang pernah ditemukan sebelumnya.
"Kamu buka?"
Dimas menggeleng cepat. "Enggak bisa."
"Mbak aja."
Dengan bantuan pinset kecil milik Hadi, Nadia berhasil mengeluarkan gulungan kertas itu dari lubang kecil di permukaan kelereng. Kertasnya lebih tipis daripada yang pertama. Warnanya telah menguning. Tulisan di atasnya juga jauh lebih pudar.
Nadia membukanya perlahan agar tidak sobek. Hanya ada tiga kata.
Bawa dia kembali.
Nadia mengernyit. "Bawa siapa?"
Dimas mengangkat bahu. "Ibu enggak bilang."
"Ibu?"
"Iya."
"Ibu bawah tanah."
Nadia menatap anak itu beberapa saat. "Dia kasih ini kapan?"
"Tadi malam."
"Kamu ketemu dia?"
Dimas menggeleng. "Enggak."
"Bangun tidur... kelerengnya sudah ada."
Jawaban itu seharusnya terdengar mustahil. Namun setelah semua yang dialaminya, Nadia tidak lagi memiliki cukup alasan untuk menolaknya mentah-mentah. Ia pun kembali memandang secarik kertas di tangannya.
Bawa dia kembali.
Kalimat itu terasa seperti sebuah petunjuk. Atau... permintaan. Tetapi kepada siapa?
Menjelang siang, Pak Hasan datang dengan wajah yang tampak lebih letih daripada biasanya.
"Aku sempat ke rumah Mbah Wiryo," katanya setelah duduk.
"Bagaimana?"
Pak Hasan menggeleng pelan. "Masih sama. Beliau enggak ingat apa-apa."
Nadia menghela napas pelan. Harapan yang sempat tumbuh kembali meredup.