Malam Takziah

Marion D'rossi
Chapter #32

Surat dari Saraswati

Surat itu ditemukan di tempat yang nyaris tak masuk akal. Bukan di ruang arsip yang tersembunyi. Bukan pula di dalam peti tua atau di balik dinding rumah yang telah lama ditinggalkan.

Selama lebih dari tiga puluh tahun, ia hanya terselip di antara lembaran sebuah buku perpustakaan kecamatan, terlupakan bukan karena sengaja disembunyikan dengan rumit, melainkan karena tak seorang pun lagi merasa perlu membuka buku itu.

Pak Hasan sendiri baru mengingat keberadaannya dua hari setelah pertemuan Nadia dengan Mbah Wiryo. Ingatan itu datang tiba-tiba, seperti cahaya kecil yang menyala sesaat di tengah kabut.

Ia segera menghubungi Nadia sebelum bayangan samar itu kembali menghilang.

"Aku takut lupa lagi." Kalimat pertama yang diucapkannya ketika Nadia tiba di perpustakaan kecamatan sore itu.

Bangunan tua itu hampir kosong. Rak-rak kayu berjajar rapi memenuhi ruangan, dipenuhi buku-buku bersampul lusuh yang sebagian besar sudah tidak pernah disentuh pembaca. Bau kertas tua dan debu memenuhi udara, bercampur aroma kayu lapuk yang mengendap selama bertahun-tahun.

Pak Hasan berdiri di dekat rak paling belakang. Tangannya menggenggam sebuah buku tebal bersampul hijau tua.

"Aku ingat Hadi pernah memintaku menyimpan sesuatu," ujarnya lirih. "Tapi aku lupa apa. Lalu tadi pagi, waktu lihat rak ini, aku mengingatnya."

Nadia memandang buku yang berada di tangan lelaki tua itu. Judulnya hampir pudar.

Monografi Kecamatan Tahun 1988

Buku itu tampak biasa saja. Tidak ada tanda-tanda bahwa di dalamnya tersimpan sesuatu yang mampu mengubah arah penyelidikan mereka.

Pak Hasan menyerahkannya kepada Nadia. "Buka halaman tengah."

Nadia melakukannya perlahan. Begitu membuka lipatan halaman yang dimaksud, sesuatu meluncur pelan ke atas meja kayu.

Sebuah amplop yang tipis berwarna cokelat muda. Sudut-sudutnya telah menguning, bahkan sedikit rapuh ketika disentuh. Tidak ada nama penerima ataupun alamat. Hanya sebaris tulisan tangan kecil di bagian depan.

Untuk siapa pun yang masih mau mengingat.

Nadia menahan napas. Tulisan itu berbeda dengan milik Hadi. Huruf-hurufnya lebih ramping dan tegak, tapi tetap rapi.

Ada kelembutan dalam setiap tarikan tinta, seperti seseorang yang terbiasa menulis di papan tulis atau mengoreksi buku latihan murid-muridnya.

"Ini...," bisik Nadia. "Surat Saraswati."

Pak Hasan mengangguk pelan. "Hadi yakin begitu."

"Tapi ayahmu belum sempat memastikan."

 

Mereka tidak langsung membuka amplop tersebut. Pak Hasan justru berjalan menuju jendela perpustakaan yang menghadap halaman belakang. Beberapa anak sekolah dasar tampak bermain di lapangan kecil, tertawa tanpa beban sambil saling mengejar. Pemandangan itu membuat lelaki tua tersebut tersenyum tipis.

"Dulu," gumamnya, "Saraswati juga sering berdiri di jendela perpustakaan."

"Membaca?" tanya Nadia.

"Bukan. Memperhatikan anak-anak."

Pak Hasan menghela napas. "Katanya anak kecil selalu lebih jujur daripada orang dewasa."

Nadia terdiam. Ucapan itu mengingatkannya pada Dimas, pada kemampuannya mengingat Sulastri, pada lagu yang berhasil membangunkan kembali ingatan Mbah Wiryo, dan pada semua petunjuk yang justru datang dari seorang anak berusia delapan tahun. Mungkin Saraswati telah menyadarinya jauh sebelum Hadi.

 

Pak Hasan kembali duduk.

"Silakan," katanya pelan. "Sudah waktunya surat itu dibaca."

Nadia mengangguk. Jemarinya bergerak hati-hati membuka penutup amplop yang telah merekat selama puluhan tahun. Lem tua itu hampir tidak lagi berfungsi. Begitu penutupnya terangkat, tampak tiga lembar kertas bergaris yang dilipat menjadi empat bagian. Tinta biru di atasnya mulai memudar. Namun masih cukup jelas untuk dibaca. Di sudut kanan atas halaman pertama tertulis sebuah tanggal.

14 Juli 1991.

Nadia memperhatikan tanggal itu beberapa saat. Itu adalah beberapa hari sebelum seluruh jejak Saraswati mulai menghilang dari sejarah.

Ia menarik napas panjang, lalu mulai membaca.

Lihat selengkapnya