Ada perbedaan antara mencari sebuah tempat dan dipersilakan menemukannya. Kalimat itu baru benar-benar dipahami Nadia setelah tiga kali mencoba mencapai Sendang Watu Ireng. Pada percobaan pertama, ia tersesat hingga kembali ke jalan yang sama. Percobaan kedua membawanya ke sebuah lereng yang buntu. Sementara pada percobaan ketiga, ia justru berakhir di kebun kopi milik warga yang bahkan tidak tercantum di peta peninggalan Hadi.
Semua jalur itu tampak masuk akal. Namun tak satu pun mengantarkannya ke tujuan. Seolah hutan memiliki caranya sendiri untuk menolak orang asing. Kini, setelah membaca surat Saraswati dan mendengar pengakuan Mbah Wiryo, Nadia tidak lagi percaya bahwa semua itu sekadar kebetulan. Ada sesuatu yang menjaga tempat tersebut. Entah manusia, entah waktu, atau justru ingatan.
Peta tua peninggalan Hadi kembali terbentang di atas meja ruang kerja. Sudut-sudutnya semakin rapuh karena terlalu sering dibuka, tetapi garis merah yang ditorehkan Hadi masih tampak jelas. Sebuah jalur tipis membelah kawasan hutan, berakhir pada lingkaran kecil yang diberi tulisan tangan:
S. W. I.
Di sampingnya terdapat catatan pendek.
"Jangan percaya jalan yang paling mudah."
Nadia mengusap tulisan itu menggunakan ujung jarinya. Kalimat tersebut dulu terdengar seperti peringatan biasa. Kini maknanya terasa jauh lebih dalam. Ia mengambil pensil, lalu membandingkan peta itu dengan citra wilayah yang sempat dipotretnya menggunakan ponsel beberapa hari sebelumnya. Tidak ada yang cocok. Jalur di peta Hadi melewati daerah yang kini dipenuhi pepohonan rapat. Sebagian bahkan tampak seperti tidak pernah dilalui manusia selama bertahun-tahun.
"Bapak...," gumam Nadia, "sebenarnya Bapak lewat mana?"
Pertanyaan itu tentu tidak memperoleh jawaban. Namun matanya berhenti pada sebuah tanda silang kecil yang sebelumnya luput dari perhatian. Di dekat tanda itu Hadi menulis dua kata yang nyaris tertutup lipatan kertas.
Ikuti suara.
Suara apa? Tidak dijelaskan.
Menjelang siang, Dimas datang tanpa diminta. Anak itu berdiri di halaman sambil memutar sebuah baling-baling bambu yang berdecit setiap kali tertiup angin.
"Mbak mau ke hutan lagi?" tanyanya begitu Nadia membuka pintu.
Nadia tersenyum tipis. "Kok tahu?"
"Soalnya Mbak bawa tas itu."
Tatapan Nadia turun ke tas selempang yang selalu dipakainya saat menyelidik. Ia baru menyadari bahwa Dimas rupanya memperhatikan hal-hal kecil yang sering luput dari orang dewasa.
"Aku boleh ikut?" tanya Dimas.
"Kamu enggak takut?"
Anak itu menggeleng mantap. "Takut sama siapa?"
"Hutan.”
“Hutan enggak nakutin."
Jawaban itu begitu sederhana hingga Nadia tidak mampu segera menanggapinya.
"Yang nakutin…," lanjut Dimas sambil memainkan baling-balingnya, “orang yang masuk ke hutan."
Nadia menatap anak itu cukup lama. Kalimat tersebut terdengar terlalu dewasa untuk keluar dari mulut anak berusia delapan tahun. Namun Dimas sendiri tampak tidak menyadari keanehan ucapannya. Seolah ia hanya mengulang sesuatu yang pernah didengarnya.
"Mbak."
"Iya?"
"Ibu bilang...," Anak itu berhenti memutar baling-balingnya, "hari ini jalannya lagi baik."
Nadia tidak lagi bertanya siapa yang dimaksud "ibu." Ia sudah mengetahui jawabannya.
Perjalanan dimulai ketika matahari belum terlalu condong ke barat. Nadia sengaja memilih waktu siang karena cahaya masih cukup untuk menembus rimbunnya pepohonan. Meski begitu, baru beberapa ratus meter memasuki kawasan hutan, suasana telah berubah. Udara jadi lebih lembap. Aroma daun basah dan tanah yang lama tidak tersentuh memenuhi setiap tarikan napas. Batang-batang pohon besar menjulang rapat, membuat cahaya matahari jatuh dalam bercak-bercak kecil yang terus bergeser mengikuti embusan angin.
Nadia sesekali membuka peta Hadi, lalu mencocokkannya dengan jalur yang mereka lalui. Awalnya semua tampak sesuai. Sebuah batu besar berbentuk setengah lingkaran, pohon beringin tua yang akarnya menjulur hingga ke jalan setapak, lalu sebuah batang mahoni tumbang yang harus mereka lewati dengan memanjat. Namun lima belas menit kemudian, semuanya mulai terasa janggal.
"Mbak." Dimas menunjuk ke depan. "Itu batu tadi."
Nadia mengangkat kepala. Benar. Batu besar yang baru saja mereka lewati kembali muncul di hadapan mereka. Persis dengan retakan yang sama di sisi kiri. Lumut yang tumbuh di bagian atas. Bahkan ranting patah yang sempat diinjak Nadia masih tergeletak di tempat semula. Padahal mereka merasa terus berjalan lurus.