Malam Takziah

Marion D'rossi
Chapter #34

Mata Air yang Membisu

Nadia berdiri cukup lama di depan gapura batu itu. Telapak tangannya masih menempel pada ukiran yang baru saja dibersihkannya dari lumut. Permukaan batu terasa dingin, jauh lebih dingin daripada udara hutan di sekelilingnya. Bukan dingin yang menggigit kulit, melainkan dingin yang perlahan merambat hingga ke dalam dada.

Kalimat itu terus terngiang di kepalanya.

"Kalau sudah sampai di sini... jangan pernah masuk sendirian."

Tulisan itu begitu mirip dengan goresan tangan Hadi. Bukan hanya bentuk hurufnya, tetapi juga cara ayahnya menyusun kalimat. Singkat. Tegas. Tidak pernah memberi penjelasan lebih panjang daripada yang diperlukan.

Hadi pernah berdiri di tempat ini. Ia benar-benar pernah berhasil mencapai Sendang Watu Ireng. Dan sebelum pergi, ia meninggalkan sebuah peringatan. Bukan untuk dirinya sendiri. Namun, untuk seseorang yang suatu hari akan mengikuti jejaknya.

Untuk Nadia.

 

Dimas melangkah mendekati gapura tanpa sedikit pun menunjukkan keraguan. Anak itu mengusap salah satu tiang batu dengan telapak tangannya, persis seperti seseorang yang sedang menyapa teman lama.

"Masih di sini," gumamnya pelan.

Nadia menoleh. "Apa?"

"Jalannya. Dia enggak pindah lagi."

Nadia tidak bertanya lebih jauh. Ia mulai belajar menerima bahwa Dimas memiliki cara sendiri memahami tempat-tempat seperti ini. Kata-kata yang keluar dari mulutnya sering terdengar aneh bagi orang dewasa, tetapi berkali-kali justru membawanya kepada petunjuk yang tidak dapat ditemukan dengan logika biasa.

Mereka melangkah melewati gapura. Begitu kaki Nadia melewati ambang batu itu, suasana di sekelilingnya berubah. Bukan perubahan yang mencolok. Tidak ada kabut yang turun tiba-tiba, tidak ada suara ganjil. Namun udara terasa lebih berat dan membuat setiap tarikan napas membawa aroma tanah yang telah menyimpan terlalu banyak kenangan.

Di balik pepohonan, suara gemericik air kini terdengar begitu jelas. Lembut. Teratur. Mengalir tanpa tergesa. Seperti seseorang yang terus berbicara, tetapi tidak lagi memiliki siapa pun untuk mendengarkan.

 

Jalan batu itu berakhir pada sebuah tanah lapang yang dikelilingi pohon-pohon tua. Nadia berhenti. Pemandangan di hadapannya jauh berbeda dari yang selama ini ia bayangkan. Sendang Watu Ireng bukan sekadar mata air kecil di tengah hutan. Tempat itu jauh lebih luas.

Di bagian tengah terdapat kolam alami berbentuk hampir bundar. Airnya begitu jernih hingga dasar bebatuan hitam di bawahnya tampak jelas meski cukup dalam. Dari celah batu besar di sisi utara, air mengalir pelan, membentuk sungai kecil yang menghilang di balik semak-semak. Permukaan air nyaris tidak bergelombang. Tenang. Tak seekor ikan pun tampak berenang. Dan tak ada dedaunan yang mengapung. Bahkan bayangan pepohonan di atasnya tampak begitu utuh, seolah air itu menolak diganggu oleh apa pun.

"Indah," bisik Nadia tanpa sadar. Namun keindahan itu tidak menghadirkan ketenangan. Justru sebaliknya, ada kesunyian yang terasa ganjil. Kesunyian yang seakan memaksa siapa pun yang datang untuk berbicara dengan suara pelan.

 

Nadia mengeluarkan kamera kecil milik Hadi dari dalam tas. Lensa pertama diarahkan ke mata air, lalu ke pepohonan, ke jalan batu, ke setiap sudut yang mungkin menyimpan petunjuk. Ketika ia menggeser pandangan sedikit ke kanan, jemarinya perlahan berhenti.

Di balik rumpun pakis yang tumbuh rapat, tampak susunan batu yang tidak mungkin terbentuk secara alami. Ia mendekat. Semakin dekat, bentuknya semakin jelas.

Sisa-sisa pondasi. Batu-batu besar disusun membentuk persegi panjang. Sebagian telah roboh. Sebagian lagi tertutup akar pohon yang tumbuh melilit selama puluhan tahun.

Nadia berjongkok, menyentuh salah satu batu. Permukaannya rata. Sudut-sudutnya dipahat dengan rapi. Ini bukan bangunan sederhana. Seseorang pernah membangunnya dengan sungguh-sungguh.

"Mbak." Suara Dimas terdengar dari kejauhan. "Lihat."

Anak itu berdiri di dekat sebuah batu tegak setinggi pinggang orang dewasa. Nadia menghampiri. Batu itu berbeda dengan pondasi yang baru ditemukannya. Permukaannya lebih halus. Di bagian atas terdapat cekungan kecil yang telah dipenuhi air hujan dan daun-daun kering. Mirip altar, atau tempat meletakkan sesuatu.

Lihat selengkapnya