Malam Takziah

Marion D'rossi
Chapter #35

Rekaman Keempat

Malam turun lebih cepat ketika Nadia kembali dari Sendang Watu Ireng. Ia tidak langsung masuk ke rumah. Beberapa saat ia hanya berdiri di halaman, memandangi langit yang perlahan kehilangan warna. Di ufuk barat, semburat jingga telah berubah jadi kelabu. Sementara di antara dedaunan mangga yang bergoyang pelan, seekor burung hantu melintas tanpa suara, menghilang ke arah hutan yang baru saja ditinggalkannya.

Tubuhnya lelah. Sepatunya masih dipenuhi lumpur hitam dari jalan batu tua. Telapak tangannya menyisakan goresan-goresan tipis akibat menyingkirkan semak berduri. Namun yang paling berat bukanlah rasa letih itu, tapi perasaan bahwa hari ini ia telah melangkah terlalu jauh.

Sendang Watu Ireng bukan lagi sekadar nama dalam buku harian Hadi. Tempat itu nyata. Ia telah menyentuh batu-batunya, mendengar suara airnya, melihat altar yang ditinggalkan, juga menyaksikan puluhan makam tanpa nama. Terlebih lagi membaca kalimat yang terus bergema di dalam kepalanya.

"Yang dilupakan akan tetap menunggu."

Entah mengapa, sejak meninggalkan kawasan itu, Nadia terus merasa seolah ada sepasang mata yang mengikuti langkahnya. Bukan dari balik pepohonan.

 

Ruang kerja Hadi tampak berbeda malam itu. Bukan karena ada sesuatu yang berubah, tapi karena Nadia sendiri kini melihatnya dengan cara yang berbeda. Semua benda di ruangan itu seolah sedang menyusun dirinya jadi sebuah kisah utuh.

Peta tua yang dipenuhi garis merah, daftar nama yang terus bertambah, buku harian dengan halaman-halaman yang perlahan memudar, kotak kayu berisi kaset, surat Saraswati. Semuanya bukan lagi petunjuk yang berdiri sendiri, lebih kepada serpihan dari satu peristiwa besar yang terjadi tiga puluh tahun silam.

Nadia menyalakan lampu meja. Cahayanya jatuh hangat di atas permukaan kayu yang penuh goresan halus. Kotak kaset diletakkannya tepat di depan. Tangannya sempat berhenti beberapa detik sebelum membuka tutupnya. Di dalam kotak itu tinggal beberapa kaset yang belum pernah diputar. Masing-masing diberi nomor kecil menggunakan tinta hitam.

Kaset 4.

Ia mengangkatnya perlahan. Label putihnya mulai menguning. Di bagian bawah terdapat tulisan kecil yang hampir tak terbaca.

Diputar setelah menemukan sendang.

Nadia membeku. Tulisan itu jelas bukan kebetulan. Berarti Hadi memang sengaja mengurutkan seluruh rekamannya. Ia seperti tahu suatu hari nanti seseorang akan mengikuti penyelidikannya. Dan orang itu harus menemukan Sendang Watu Ireng terlebih dahulu sebelum mendengar isi kaset ini.

 

Tape recorder tua itu kembali diletakkan di tengah meja. Nadia membuka penutupnya. Tangannya sempat berhenti saat mengingat kaset pertama yang pitanya sengaja dipotong. Ia memeriksa bagian dalam alat itu lebih teliti. Tidak ada lagi potongan pita ataupun benda asing. Hanya kepala pemutar yang mulai kusam dimakan usia.

Ia memasukkan kaset ke tempatnya. Terdengar bunyi kecil ketika mekanisme penguncinya menutup.

Klik.

Ruangan mendadak terasa sangat sunyi. Nadia menarik kursi, lalu duduk. Ia pun menekan tombol PLAY.

Motor kecil di dalam tape recorder mulai berputar. Terdengar desis khas pita kaset yang telah lama disimpan. Suara berderak memenuhi ruangan selama beberapa detik. Kemudian suara Hadi terdengar lebih pelan dibanding rekaman-rekaman sebelumnya.

"Kalau kamu sedang mendengarkan ini...," suara itu berhenti sejenak, "berarti kamu sudah menemukan Sendang Watu Ireng."

Nadia merasakan tengkuknya meremang. Hadi selalu berbicara seolah mengetahui setiap langkah yang akan ditempuhnya.

"Aku berharap sebenarnya kamu tidak pernah sampai ke tempat itu. Karena begitu seseorang melihatnya dengan mata sendiri, akan lebih sulit baginya untuk kembali menjalani hidup seperti biasa."

Nadia menunduk.

Ayahnya benar. Sejak siang tadi, pikirannya tidak pernah benar-benar meninggalkan kawasan sendang. Ia masih dapat mengingat beningnya mata air, kesunyian yang aneh, puluhan batu nisan tanpa nama, dan altar batu yang berdiri sendirian di tengah hutan.

 

Suara Hadi kembali terdengar. Kali ini lebih berat.

"Aku membutuhkan waktu hampir tujuh tahun untuk menemukan jalan menuju tempat itu. Bukan karena petanya salah, tapi karena jalannya..." Terdengar bunyi helaan napas, "tidak selalu ingin ditemukan."

Nadia teringat bagaimana jalan di hutan terus membawa mereka kembali ke batu yang sama. Kalimat Hadi bukan metafora. Ia sedang menceritakan sesuatu yang benar-benar dialaminya.

"Setelah aku berhasil masuk, aku mengerti kenapa begitu banyak orang berpura-pura tempat itu tidak pernah ada."

Beberapa detik berikutnya hanya terdengar suara napas Hadi yang panjang, dan terkesan lelah. Sepertinya kenangan itu masih terlalu berat bahkan untuk diceritakan.

Kemudian ia kembali berbicara.

Lihat selengkapnya