Pagi itu Nadia tidak langsung menyalin isi rekaman ke dalam buku catatannya. Ia justru memutar kembali kaset keempat untuk ketiga kalinya. Bukan karena masih meragukan ucapan Hadi, lebih karena ia sedang mencari sesuatu yang sebelumnya luput dari pendengarannya.
Suara perempuan itu. Suara yang hanya muncul beberapa detik, nyaris tenggelam oleh desis pita tua.
"…jangan..."
"…lupakan..."
"…namaku..."
Nadia memejamkan mata. Ia membiarkan rekaman terus berputar sambil mencoba mengingat seluruh kesaksian yang berhasil dikumpulkannya sejak kembali ke Karangwening.
Sulastri menghilang, Arif menghilang, nama-nama memudar, foto berubah, arsip dibakar, surat Saraswati, makam tanpa nama, lalu kalimat Hadi yang menjadi penutup rekaman.
Mereka semua berbohong.
Semakin lama dipikirkan, kalimat itu terasa semakin janggal. Selama ini Nadia selalu menganggap seluruh warga adalah korban dari sesuatu yang tidak dapat mereka lawan. Namun bagaimana jika sebagian dari mereka memang memilih berbohong?
Pikiran tersebut membuat bulu kuduknya meremang. Ia membuka buku catatan, lalu menuliskan satu pertanyaan besar di halaman baru.
Siapa yang masih sadar?
Pertanyaan itu dilingkarinya dua kali. Di bawahnya, ia mulai menulis beberapa nama. Pak Karsa, Raka, Mbah Wiryo, Pak Hasan, Pak Sastro, Bu Rukmini. Ia menatap daftar itu cukup lama. Selama ini ia sibuk mencari siapa yang masih mengingat. Mungkin ia telah melewatkan pertanyaan yang jauh lebih penting. Siapa yang sengaja menjaga agar semuanya tetap lupa?
Menjelang siang, Nadia kembali ke balai desa. Bukan untuk menyusup. Kali ini ia datang secara terang-terangan. Pendopo tampak ramai oleh beberapa warga yang sedang memperbaiki kursi kayu. Di sisi lain, dua orang ibu menyapu halaman sambil sesekali berbincang pelan. Begitu Nadia memasuki halaman, percakapan mereka berhenti. Hanya sesaat. Namun cukup lama untuk disadari.
Beberapa pasang mata mengikuti langkahnya. Ada yang segera mengalihkan pandangan. Ada yang pura-pura sibuk bekerja. Ada pula yang tetap menatapnya tanpa berusaha menyembunyikan rasa tidak suka.
Nadia membalas semua tatapan itu dengan tenang. Kini ia mulai terbiasa. Desa ini memang tidak pernah mengusirnya, tetapi juga tidak pernah benar-benar menerimanya.
Pak Karsa keluar dari ruang kantor sambil membawa beberapa map. Begitu melihat Nadia, senyum tipis langsung muncul di wajahnya.
"Nadia. Sudah lama enggak mampir."
"Baru sempat," jawab Nadia.
Pak Karsa mengangguk. "Ada yang bisa saya bantu?"
Nada suaranya tetap ramah. Terlalu ramah bahkan. Sebelum ini, Nadia mungkin akan menganggapnya sebagai bentuk keramahan seorang perangkat desa. Namun setelah mendengar rekaman Hadi, ia mulai mendengar sesuatu yang lain, yaitu kehati-hatian. Ini seperti setiap kalimat telah dipilih sebelum diucapkan.
"Aku cuma mau lihat-lihat."
Pak Karsa tersenyum. "Silakan. Tapi ruang arsip lagi dibereskan."
Jawaban itu datang terlalu cepat. Padahal Nadia sama sekali belum menyebut ruang arsip.
Ia hanya mengangguk kecil, lalu pura-pura bertanya, "Lagi dibereskan?"
"Iya. Banyak dokumen lama rusak. Sayang kalau enggak dirapikan."
Nadia menatap wajah lelaki itu beberapa detik. Tidak ada perubahan ekspresi. Tidak ada kegugupan. Kalau ia tidak mengetahui bahwa sebagian arsip telah dibakar, mungkin ia akan mempercayai penjelasan tersebut.
Setelah berbincang beberapa menit, Nadia berpamitan. Namun ia tidak langsung pulang. Motor sengaja diparkir agak jauh dari balai desa. Ia memilih berjalan memutar melewati kebun bambu di belakang bangunan. Dari sana, sebagian halaman balai masih terlihat jelas melalui sela-sela batang bambu.