Ada kalanya sebuah pertanyaan harus dibiarkan tumbuh cukup lama sebelum dijawab. Nadia menyadari hal itu beberapa hari terakhir. Semakin banyak kepingan misteri yang berhasil ia kumpulkan, semakin sering pikirannya kembali kepada satu sosok yang justru paling dekat dengannya selama ini.
Hadi.
Selama berminggu-minggu, ia sibuk mencari tahu tentang Saraswati, Karanganyar, Sendang Watu Ireng, dan kelompok penjaga rahasia. Namun tanpa disadari, ia hampir tidak pernah benar-benar bertanya tentang ayahnya sendiri.
Siapa Hadi sebelum menjadi penyelidik? Apa yang membuat seorang guru biasa menghabiskan puluhan tahun hidupnya mengejar sesuatu yang bahkan seluruh desa sepakat untuk dilupakan? Dan mengapa kelompok itu membiarkannya hidup selama ini?
Pertanyaan terakhir itulah yang paling mengusik. Kalau mereka mampu menghapus arsip, mengubah sejarah, bahkan membuat manusia saling melupakan, mengapa Hadi tidak pernah dibungkam? Apakah mereka gagal? Atau justru pernah ada masa ketika Hadi bukan musuh mereka?
Seikat bunga kamboja hitam masih tergantung di kusen depan rumah. Nadia sengaja tidak membuangnya. Bukan karena percaya pada takhayul, tapi karena ia ingin melihat apakah bunga itu juga akan mengalami perubahan seperti foto-foto lama dan nama-nama yang memudar.
Tiga hari telah berlalu. Kelopaknya mulai mengering. Namun warnanya tetap pekat. Tidak berubah sedikit pun. Seolah bunga itu tidak sedang jadi peringatan, tapi justru penanda bahwa seseorang terus mengawasi rumah tersebut.
Nadia menarik tirai jendela. Pandangan matanya jatuh ke arah jalan desa yang masih lengang. Seorang lelaki tua mendorong sepeda perlahan menuju sawah. Dua anak kecil berlarian sambil membawa layang-layang. Semuanya tampak biasa, dan mungkin terlalu biasa. Namun ia mulai menyadari bahwa desa ini memiliki dua wajah.
Wajah yang diperlihatkan kepada orang luar. Dan wajah lain yang hanya muncul ketika seseorang mulai mengingat terlalu banyak.
Ruang kerja Hadi kembali jadi tujuan. Belakangan Nadia lebih sering menghabiskan waktu di sana daripada di ruang lain di rumah itu. Bukan hanya karena semua petunjuk berada di tempat itu. Terlebih karena ia merasa semakin dekat dengan ayahnya setiap kali duduk di kursi kayu yang telah puluhan tahun dipakai menyusun penyelidikan.
Meja itu kini hampir tak menyisakan ruang kosong. Peta tua, foto-foto, surat Saraswati, kaset, buku register, daftar nama yang terus bertambah, dan di tengah semuanya, buku harian Hadi.
Nadia mengangkat buku itu perlahan. Sampul kulitnya mulai retak di beberapa sisi akibat terlalu sering dibuka. Ia telah membacanya berkali-kali. Namun kali ini bukan isi catatannya yang menarik perhatian, tetapi jilidnya.
Ketika buku itu diangkat ke bawah cahaya lampu meja, Nadia melihat sesuatu yang belum pernah disadarinya. Ketebalan sampul depan tampak tidak wajar, seperti terdapat lapisan lain di balik kulit yang membungkusnya.
Ia mengusap permukaannya. Benar saja, ada bagian yang sedikit menggembung. Dengan sangat hati-hati, Nadia menyelipkan ujung pisau lipat kecil ke sela kulit yang mulai terlepas karena usia. Lem tua itu membuka perlahan. Tidak rusak. Memang sejak awal tampaknya dibuat agar suatu hari dapat dibuka kembali.
Di balik lapisan kulit itu, terselip selembar kertas tipis yang telah dilipat berkali-kali. Bukan surat, tapi halaman buku catatan. Di bagian atasnya tertulis menggunakan tulisan tangan Hadi.
Untuk dibaca paling akhir.
Nadia memejamkan mata beberapa saat. Kalimat itu terasa seperti sebuah pintu. Begitu dibuka, tak akan ada jalan kembali.
Ia membuka lipatan pertama. Tulisan Hadi memenuhi hampir seluruh halaman. Namun berbeda dengan surat-surat sebelumnya. Tidak ada sapaan. Tidak ada tanggal. Kalimat pertama langsung menghantam kesadarannya.
Kalau kamu membaca ini, berarti akhirnya kamu mulai bertanya tentang aku.
Nadia mengembuskan napas pelan. Seolah Hadi masih duduk di seberang meja, mengetahui arah pikirannya. Ia mulai membaca lebih jauh.
Jangan pernah menganggap aku selalu berada di pihak yang benar.
Tangannya berhenti. Kalimat itu jauh di luar dugaannya. Hadi melanjutkan.
Kalau semua orang mengatakan bahwa aku melawan mereka sejak awal... itu bohong.
Nadia mengangkat kepala. Ruangan mendadak terasa sunyi. Desis kipas angin tua di sudut ruangan menjadi satu-satunya suara yang terdengar. Ia kembali menunduk.
Aku pernah berdiri bersama mereka.
Pulpen di tangan Nadia terjatuh ke lantai. Bunyi kecilnya terdengar begitu keras di tengah keheningan. Ia tidak segera mengambilnya karena tatapannya terpaku pada kalimat itu.
Aku pernah berdiri bersama mereka.