Selama berminggu-minggu Nadia melakukan satu kesalahan yang sama. Ia terus bertanya siapa yang dihapus. Padahal seharusnya ia bertanya siapa yang tidak bisa dihapus. Kesadaran itu datang bukan ketika ia menemukan petunjuk baru, tapi saat kembali membaca seluruh catatan penyelidikannya dari awal. Hampir setiap halaman dipenuhi nama orang yang menghilang dari ingatan desa. Namun di sela-sela daftar itu, tanpa disadari, terdapat beberapa nama yang selalu muncul.
Nama-nama yang tetap mampu mengingat. Meski tidak utuh. Walau hanya serpihan, tetapi cukup untuk mempertahankan keberadaan masa lalu.
Nadia mengambil selembar kertas kosong. Ia menggambar sebuah garis panjang membelah halaman menjadi dua bagian.
Di sisi kiri ia menulis: Orang yang Melupakan.
Di sisi kanan: Orang yang Masih Mengingat.
Pulpen bergerak perlahan.
Melupakan: Pak Karsa, sebagian besar warga desa, orang-orang yang hadir dalam berbagai kesaksian Hadi.
Lalu di sisi kanan.
Mengingat: Dimas, Pak Hasan, Mbah Wiryo, Hadi.
Ia berhenti. Ada sesuatu yang ganjil. Keempat nama itu tidak memiliki latar belakang yang sama. Usia mereka berbeda. Pekerjaan berbeda. Hubungan keluarga pun tidak saling berkaitan. Namun Hadi pasti pernah menemukan pola yang sama. Tidak mungkin ayahnya melewatkan hal sesederhana itu. Berarti polanya bukan pada diri mereka. Akan tetapi, pada sesuatu yang pernah—atau justru tidak pernah—mereka alami.
Nadia membuka kembali buku harian Hadi. Kali ini bukan untuk mencari nama. Ia justru menelusuri tanggal-tanggal yang masih dapat dibaca. Di beberapa halaman, Hadi menuliskan hasil wawancaranya secara sangat rinci. Usia narasumber, pekerjaan, tempat tinggal. Bahkan cuaca ketika wawancara dilakukan. Tetapi menjelang bagian akhir, Hadi mulai menambahkan satu kolom baru yang selama ini luput dari perhatian Nadia.
Keberadaan pada malam itu.
Kolom tersebut tidak selalu terisi. Namun pada beberapa nama, Hadi menuliskan catatan singkat.
Pak Hasan - di kecamatan.
Mbah Wiryo - tidak hadir.
Saraswati - datang terlambat.
Nadia mengerutkan dahi. Mengapa Hadi begitu peduli dengan lokasi mereka pada satu malam tertentu? Ia membalik halaman berikutnya, dan masih ada catatan lain.
Anak-anak - tidak ikut.
Lalu sebuah kalimat yang digarisbawahi dua kali.
"Jangan hanya cari siapa yang hadir. Cari juga siapa yang tidak berada di sana."
Ia segera mengambil buku catatan miliknya sendiri. Satu per satu nama mulai dipindahkan ke halaman baru. Semakin lama, semakin jelas pola itu.
Sore harinya Nadia mendatangi rumah Pak Hasan. Lelaki tua itu sedang menyiram tanaman cabai di belakang rumah ketika Nadia tiba.
"Kok sore-sore?" tanyanya sambil mematikan selang.
"Aku mau tanya sesuatu." Pak Hasan langsung mengetahui dari nada suara Nadia bahwa pertanyaan itu bukan pertanyaan biasa.
Mereka pun duduk di bangku bambu di bawah pohon jambu. Nadia membuka buku catatannya.
"Bapak masih ingat malam tahun sembilan puluh satu?"
Pak Hasan mengangguk pelan. "Sedikit."
"Bapak ada di mana malam itu?" Pertanyaan tersebut membuat lelaki tua itu mengernyit.
"Aku...," ia menatap halaman rumah cukup lama, "enggak di desa."
Nadia segera mengangkat kepala. "Di mana?"
"Di kecamatan. Ayah sakit. Aku nginep dua malam di rumah saudara."
Kalimat itu persis seperti catatan Hadi. Nadia menunduk. Berarti catatan ayahnya benar.