Malam Takziah

Marion D'rossi
Chapter #39

Kesaksian Terakhir

Ingatan manusia tidak selalu hilang sekaligus. Kadang ia luruh seperti cat yang terus digerus hujan sedikit demi sedikit. Nyaris tanpa disadari. Namun ada pula ingatan yang bertahan dengan cara yang aneh, bukan sebagai cerita utuh, tapi serpihan-serpihan kecil yang tercerai-berai di kepala orang yang berbeda.

Selama berbulan-bulan Nadia mengejar serpihan itu. Kini, untuk pertama kalinya, ia merasa cukup dekat untuk mencoba menyusunnya jadi satu gambar yang utuh. Kalau benar setiap orang hanya menyimpan sebagian kecil kenangan, maka mereka harus dipertemukan. Bukan agar saling mengingatkan, tapi agar potongan-potongan itu dapat saling melengkapi.

 

Pagi itu rumah peninggalan Hadi kembali dipenuhi suara langkah kaki. Kali ini bukan pelayat, pula bukan warga yang datang bertakziah. Namun orang-orang yang selama ini diam-diam bertahan melawan lupa.

Pak Hasan datang paling awal sambil membawa map lusuh berisi salinan arsip yang berhasil diselamatkannya dari kantor kecamatan. Tak lama kemudian Mbah Wiryo diantar seorang tetangga menggunakan sepeda motor tua. Lelaki renta itu tampak lebih segar daripada biasanya, meski langkahnya masih lambat dan sesekali harus bertumpu pada tongkat kayu. Menyusul setelahnya Bu Rukmini, bidan pensiunan yang pernah diperkenalkan Pak Hasan. Lalu Pak Sastro, mantan guru sekolah dasar yang rambutnya telah memutih seluruhnya. Terakhir ada Dimas yang datang sambil menggenggam tangan ibunya.

Anak itu berlari kecil begitu melihat Nadia. "Semua sudah datang," ucapnya polos.

Nadia tersenyum. "Belum semua. Masih ada yang enggak bisa datang."

Dimas mengangguk pelan. "Ibu juga bilang begitu."

Nadia menatap anak itu beberapa detik. Ia sudah berhenti bertanya siapa "ibu" yang dimaksud Dimas. Jawaban atas pertanyaan itu mungkin akan datang dengan sendirinya ketika waktunya tiba.

 

Ruang tamu disusun sesederhana mungkin. Meja dipindahkan ke sisi ruangan agar semua orang dapat duduk melingkar. Di tengah lingkaran, Nadia meletakkan beberapa benda. Peta tua peninggalan Hadi, buku harian, foto gapura Sendang Watu Ireng, salinan surat Saraswati, dan sebuah buku kosong yang sengaja disiapkannya.

Hari ini ia tidak ingin sekadar mendengar cerita. Ia ingin menyusun sejarah.

Setelah semua duduk, suasana mendadak sunyi. Tak seorang pun memulai pembicaraan. Mereka saling memandang dengan kecanggungan yang sulit dijelaskan. Sebagian besar di antara mereka memang saling mengenal. Namun belum pernah berbicara mengenai malam itu. Selama tiga puluh tahun, masing-masing memendam serpihan ingatan seorang diri.

Nadia mengedarkan pandangan. Ia dapat melihat keraguan di wajah mereka. Ketakutan, bahkan rasa bersalah. Ia tahu betul, membuka kembali masa lalu sama artinya dengan membangunkan sesuatu yang telah lama tidur.

 

"Aku enggak akan memaksa siapa pun." Suara Nadia terdengar tenang. "Tapi kalau kita berhenti sekarang, mungkin enggak akan pernah ada lagi yang bisa menyusun cerita ini."

Tak ada jawaban. Hanya bunyi jam dinding yang berdetak pelan. Akhirnya Pak Hasan mengembuskan napas panjang.

"Aku mulai dulu."

Semua mata beralih kepadanya. Lelaki tua itu membuka map lusuh yang dibawanya. Namun tidak ada arsip yang ia keluarkan. Ia hanya memandang kedua tangannya sendiri.

"Malam itu," gumamnya, “aku memang enggak ada di desa."

Nadia mengangguk.

"Keesokan sore aku pulang. Yang pertama bikin aku heran... enggak ada satu pun orang yang mau cerita."

Pak Hasan mengangkat wajah. "Biasanya kalau ada kejadian besar, desa paling ribut. Tapi hari itu, sunyi. Bahkan terlalu sunyi."

Ia berhenti sejenak.

"Yang paling aku ingat, bau asap."

"Asap?" tanya Nadia.

Pak Hasan mengangguk. "Bukan kebakaran rumah. Kayak...," ia memejamkan mata, "kertas. Banyak sekali kertas yang dibakar."

Nadia segera menuliskan kalimat itu.

Hari pertama setelah tragedi, dokumen mulai dimusnahkan.

 

Giliran berikutnya datang dari Bu Rukmini. Perempuan tua itu sejak tadi menggenggam ujung kerudungnya erat-erat.

"Aku enggak tahu banyak," katanya pelan. "Waktu itu aku masih bidan muda. Malam itu aku dipanggil ke rumah orang yang mau melahirkan di ujung desa. Jadi aku enggak ikut ke Sendang."

Ia menghela napas. "Tapi paginya banyak orang datang periksa."

"Mereka sakit?"

"Bukan. Mereka bilang kepalanya berat. Kayak habis mimpi buruk."

Bu Rukmini menatap Nadia.

"Aneh. Tak ada yang bisa menjelaskan kenapa mereka datang. Tapi semua mengeluh hal yang sama."

Nadia kembali menulis.

Gejala pertama muncul keesokan hari. Sakit kepala. Bukan luka dan demam, tapi sesuatu yang menyerang ingatan.

 

Pak Sastro membersihkan kacamatanya sebelum mulai berbicara. Lelaki tua itu terkenal sebagai guru yang sangat teliti. Bahkan kini, ketika usianya melewati tujuh puluh tahun, caranya menyusun kalimat masih terdengar runtut.

Lihat selengkapnya