Malam itu tidak lagi terasa seperti kelanjutan hari. Ia lebih menyerupai sesuatu yang telah menunggu sejak tiga puluh tahun lalu. Setelah para saksi pulang dengan wajah pucat dan kepala yang masih menyisakan nyeri, rumah peninggalan Hadi kembali tenggelam dalam kesunyian. Ruang tamu yang beberapa jam sebelumnya dipenuhi suara orang-orang kini hanya menyisakan cangkir-cangkir teh yang belum sempat dibereskan, lembaran catatan yang berserakan di atas meja, serta kursi-kursi kosong yang masih menghadap satu sama lain.
Nadia belum menyentuh satu pun di antaranya. Ia duduk sendiri di ruang kerja, menatap papan penyelidikan yang hampir tidak lagi menyisakan ruang kosong. Benang-benang merah telah menghubungkan puluhan nama. Seluruhnya kini membentuk pola yang selama ini hanya tampak sebagai kekacauan.
Tidak sempurna memang, tapi cukup jelas.
Ia akhirnya memahami sesuatu yang sejak awal berusaha disampaikan Hadi melalui buku harian, kaset, dan surat-surat yang ditinggalkannya. Seluruh tragedi itu bukan kecelakaan atau bencana tanpa sebab. Seseorang pernah mengambil keputusan yang begitu besar hingga mampu mengubah sejarah satu desa. Dan sejak malam itu, puluhan orang hidup dalam kebohongan yang mereka warisi sendiri.
Nadia menatap satu lingkaran merah yang dibuatnya di tengah papan. Di dalam lingkaran itu hanya ada sebuah kalimat.
Siapa yang memulai semuanya?
Ia belum menemukan jawabannya. Kelompok penjaga rahasia jelas bukan dalang utama. Mereka hanya meneruskan sesuatu yang telah dimulai jauh sebelum mereka. Pak Karsa pun hanyalah penjaga, bukan pemimpin. Berarti masih ada seseorang yang belum muncul. Seseorang yang namanya belum pernah tercatat. Namun bayangannya terus hadir di balik setiap peristiwa.
Nadia meraih buku harian Hadi sekali lagi. Ia tidak membacanya dari awal, tapi membuka halaman-halaman yang diberi tanda kecil menggunakan potongan kertas. Semua bagian itu berbicara tentang satu hal, yaitu pilihan.
Di salah satu halaman yang tintanya telah memudar, masih tersisa kalimat yang dapat dibaca.
"Setiap orang selalu mengira bahwa mereka dipaksa. Padahal sebagian besar dari mereka..."
Bagian akhir kalimat itu telah lenyap. Namun Nadia merasa dapat menebaknya. Sebagian besar dari mereka, memilih. Bukan dipaksa melupakan. Ya, memilih untuk melupakan.
Kalimat itu jauh lebih menakutkan daripada segala cerita tentang makhluk gaib yang pernah didengarnya. Karena itu berarti kejahatan terbesar dalam tragedi Karanganyar bukan berasal dari sesuatu yang tak terlihat. Namun justru dari keputusan manusia sendiri.
Jam dinding menunjukkan pukul sebelas malam. Angin bertiup pelan dari arah utara. Membawa aroma tanah basah yang mengingatkan Nadia pada Sendang Watu Ireng.
Tanpa benar-benar merencanakannya, ia berdiri. Tatapannya jatuh ke arah tas selempang yang sejak beberapa hari terakhir selalu tergeletak di dekat pintu.
Senter, kamera, buku catatan, tape recorder kecil. Semuanya masih berada di dalam dan telah siap digunakan.
Nadia memandang foto Hadi yang tergantung di dinding ruang kerja. Foto itu diambil bertahun-tahun sebelum penyakitnya memburuk. Ayahnya sedang tersenyum tipis dengan tatapan lurus ke arah kamera.
Untuk sesaat, Nadia merasa Hadi sedang memandangnya. Bukan melarang. Hanya mengerti.
"Aku harus ke sana," bisiknya.
Kalimat itu terdengar lebih seperti pengakuan kepada dirinya sendiri.
Jalan menuju hutan jauh lebih sunyi dibanding biasanya. Tak ada lampu rumah yang masih menyala. Tak terdengar suara televisi atau percakapan warga dari balik jendela. Karangwening seolah telah tertidur seluruhnya. Hanya langkah Nadia yang memecah kesunyian malam.
Ia tidak mengajak siapa pun. Karena ia tahu tak seorang pun akan mengizinkannya pergi. Terutama setelah kejadian siang tadi. Namun ada alasan lain yang tidak mampu dijelaskannya. Semakin dekat ia pada kebenaran, semakin kuat perasaan bahwa bagian terakhir perjalanan ini harus ditempuh sendirian.