Malam Takziah

Marion D'rossi
Chapter #41

Nama yang Dikembalikan

Tidak semua kesunyian berarti ketiadaan. Ada kesunyian yang justru dipenuhi sesuatu yang terlalu lama menunggu untuk didengar. Nadia baru memahami perbedaan itu ketika kabut yang menyelimuti Sendang Watu Ireng perlahan menutup kembali permukaan air. Sosok perempuan yang beberapa saat lalu berdiri di atas sendang memang telah lenyap, tetapi kehadirannya tidak benar-benar pergi. Ia masih ada dan terasa. Seperti aroma bunga kamboja yang tetap tinggal meski angin telah berganti arah.

Nadia tidak berani bergerak. Takut satu langkah saja akan mematahkan sesuatu yang baru saja terbentuk di antara dirinya dan tempat itu.

Riak-riak kecil di atas permukaan air mulai reda. Kolam kembali tenang, memantulkan langit malam yang nyaris tanpa bintang. Di kejauhan terdengar burung malam bersahut-sahutan, lalu kembali sunyi.

"Nadia...." Suara itu datang lagi. Tidak lagi mengambang dari segala arah. Kini terdengar jelas dari depan.

Lembut. Hampir seperti bisikan seorang ibu yang takut membangunkan anaknya.

Nadia mengangkat wajah perlahan. Kabut yang tadi begitu rapat bergerak pelan, membuka sebuah celah sempit di atas permukaan sendang. Perempuan itu berdiri di sana. Tidak muncul secara tiba-tiba. Ia sepertinya memang tidak pernah pergi.

Gaun putih yang dikenakannya tampak sederhana. Bukan pakaian pengantin, bukan pula kain berkabung seperti yang selama ini sering digambarkan dalam cerita-cerita desa. Hanya gaun katun panjang berwarna pucat, model yang lazim dikenakan guru-guru muda pada awal tahun sembilan puluhan.

Rambutnya yang hitam tergerai hingga melewati punggung. Beberapa helai ditiup angin yang entah datang dari mana. Namun yang paling membuat Nadia sulit berpaling adalah wajah perempuan itu. Wajah yang tidak menyeramkan. Tidak rusak. Tidak dipenuhi luka. Ia tampak seperti seseorang yang seharusnya masih hidup. Seorang perempuan berusia sekitar dua puluh lima tahun.

Sorot matanya menyimpan kelelahan yang begitu dalam, tetapi tidak ada kebencian di sana. Yang ada hanyalah kesepian yang telah berlangsung terlalu lama.

 

"Siapa...." Suara Nadia terdengar serak. "Siapa kamu?"

Perempuan itu tidak langsung menjawab. Ia justru memandang Nadia cukup lama, seolah memastikan bahwa orang yang berdiri di hadapannya benar-benar mampu melihat dirinya.

"Aku sudah lupa," katanya akhirnya, "seperti apa rasanya dipanggil."

Kalimat itu begitu lirih hingga hampir larut bersama desir air. Nadia menelan ludah. Selama ini ia mengejar nama yang terus dihapus dari ingatan desa. Kini pemilik nama itu berdiri di hadapannya.

"Namamu," ucap Nadia hati-hati, "Saraswati?"

Perempuan itu memejamkan mata. Senyum tipis muncul di sudut bibirnya. Tentu saja bukan senyum bahagia. Lebih menyerupai seseorang yang baru saja menemukan kembali sesuatu yang telah lama hilang.

"Sudah lama," bisiknya, "tidak seorang pun yang mengucapkannya."

Ketika ia membuka mata kembali, ada kilau bening yang menggantung di sana. "Aku hampir lupa bahwa itu memang namaku."

Nadia merasakan dadanya mengencang. Kalimat itu terasa begitu menyakitkan. Bagaimana rasanya hidup tanpa seorang pun yang mengingat nama kita? Bagaimana rasanya mengetahui bahwa seluruh jejak kehidupan kita perlahan menghilang, bukan hanya dari arsip dan foto, tetapi juga dari hati orang-orang yang pernah mengenal kita?

Tak ada kematian yang lebih sunyi daripada itu.

 

"Aku mencarimu," ucap Nadia pelan.

"Bukan." Saraswati menggeleng lembut. "Kamu mencari jawaban."

Ia menatap permukaan air beberapa saat sebelum melanjutkan.

"Aku hanya bagian kecil dari jawaban itu."

Nadia menghela napas. "Tiga puluh tahun. Semua orang bilang kamu tidak pernah ada."

Saraswati tersenyum getir. "Itulah yang mereka inginkan."

"Mereka?"

"Mereka yang percaya bahwa sebuah desa bisa diselamatkan dengan mengorbankan ingatan."

Kalimat itu membuat Nadia terdiam. Selama ini ia menduga ritual itu berkaitan dengan penghapusan sejarah. Namun mendengar pengakuan langsung dari Saraswati terasa jauh berbeda.

"Aku ingin tahu semuanya," kata Nadia. "Tolong. Kalau memang masih ada yang bisa diceritakan."

Saraswati menatapnya lama. "Apa kamu yakin?"

Nadia mengangguk tanpa ragu.

"Semakin banyak yang kamu tahu, semakin sulit bagimu untuk pulang."

"Aku sudah enggak punya jalan pulang," jawab Nadia lirih. "Sejak aku memutuskan meneruskan penyelidikan ayahku."

Kesunyian kembali turun. Namun kali ini tidak terasa mencekam. Lebih seperti jeda yang dibutuhkan sebelum luka lama kembali dibuka.

 

Lihat selengkapnya